Ingin Menyekolahkan Anak Ke Luar Negeri Demi Masa Depan Gemilang?

Bicara soal sekolah di luar negeri dan hubungannya dengan social climber, aku jadi teringat pengalaman baru-baru ini di sebuah acara.

Di acara itu ada seorang ibu modis berusia sekitar 60 tahunan, serta dua orang ibu muda modis juga. Kusebut saja  ibu J dan mba A dan mba B, deh.  Nah, si ibu J cerita kalau anaknya sekolah di 3 negara (wow keren). Dari SMP mereka sudah diboarding school-kan untuk ikut program masuk ke universitas-universitas prestisius. Tujuannya universitas yang masuk Ivy League di Amerika.

Nah, mba A dan B ini sedang mencari sekolah SD untuk anak mereka. Jadi banyak-banyak tanyalah tentang sekolah Internasional di Indonesia,  sekolah A dan B, pakai ujian apa, Cambridge atau IB,  lalu apakah sesuai dengan target anak mereka nanti mau sekolah di negara D .

Merekapun menginterogasi ibu J tentang guru-guru di sekolah internasional “XX”, bagus atau tidak, lalu prospek ke luar negerinya bagaimana, dsb. Kemudian soal sekolah di negara A lebih keren, dibanding negara B, berikut perbandingan dengan lingkungan ibu-ibu di sekolah itu juga yang anaknya pergi kesana.

Aku ngobrol sedikit dengan ibu J, bilang bahwa kurikulum di Indonesia selain padat dan berat banyak mengajarkan materi-materi yang bahkan kita sendiri nggak bakal ingat saat tua (contoh berapa diantara kita-selain yg bukan sejarawan dan matematikawan- yang ingat isi Perjanjian Linggarjati? Atau berapa cosinus 90?). Ibu J setuju,

“Makanya saya sengaja sekolahkan anak saya boarding di luar, mba. Disana belajar sosialisasi, belajar main dalam tim, nggak melulu pelajaran. “

Aku manggut-manggut, itu salah satu solusi memang, bagi mereka yang mampu. Nah, bagaimana yang tidak? Kayaknya tetep bukan solusi, deh.

Tapi memang banyak yang menganggapnya sebagai satu-satunya solusi, dimulai dengan memasukkan anak ke sekolah-sekolah berlabel internasional, dengan kurikulum luar. Kemudian jadi terpengaruh lingkungan. Kadang sampai besar pasak daripada tiang.

Kembali kepada hal yang sempat membuatku tergelitik : Apakah segala sesuatu harus demikian terencana, bahkan saat OBYEK yang direncanakan ke depan sendiri masih asyik main2 tanah, kejar-kejaranan, guling-gulingan? Bahkan dia tidak tahu mau jadi apa kelak, dan apa yang direncanakan orang tua atas namanya?

Sepertinya menyekolahkan anak di luar negeri adalah satu bentuk kenaikan strata sosial tersendiri.

Apakah kenaikan strata sosial menjadi sebuah tujuan dalam membangun keluarga?

Apakah anak juga merupakan bagian dalam social climbing?

Bukannya terkadang malah jatuh ke overplanning? Orang tua berinvestasi habis dengan harapan-harapan tertentu, padahal masa depan entah siapa yang tahu.

Bagaimana bila orang tuanya menargetkan, anak ini harus ke Harvard, melakukan step-step yang dianggap perlu, tapi kemudian ternyata si anak lebih suka menari atau melukis?

Aku tidak menyalahkan banyak orang tua punya rencana tinggi tentang sekolah di luar negeri. Terutama bila belum pernah merasakan sama sekali. Hanya terkadang banyak hal-hal yang masih kurang pas, dari keseharian yang saya lihat.

Bagaimana bisa menyekolahkan anak di luar negeri ketika anak dikondisikan apa-apa sudah tersedia, ada si inem, ada pak sopir? Bagaimana mempersiapkan mental seorang anak di negeri asing, bila sejak awal semua keputusan-keputusan dalam hidupnya, bahkan sekolah, selalu ada di tangan orang tua?

Sedikit membagi pengalamanku dalam bertemu berbagai mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Ada  teman yang berasal dari keluarga, yang luar biasa sederhana, dengan kerja keras berhasil masuk Universitas negeri, lulus dengan nilai lumayan bagus. Jurusan yang dia ambil juga bukan favorit-favorit amat, dan dugaanku, dia sebetulnya juga sudah cukup puas hidup sebagai seorang dosen. Tapi nasib mempertemukannya dengan salah seorang guru besar Universitas terkemuka di Eropa. Tertarik dengan proyek-proyeknya, si profesor ini merekomendasikan dia sebagai penerima beasiswa. Berangkatlah dia dari S2, sampai Doktorat, dengan nilai top.

Kemudian ada yang kurang lebih sama, teman di pegawai di pemerintahan, tidak ada yang istimewa. Ketika instansinya buka lowongan beasiswa, iseng-iseng mendaftar, ternyata dia dipanggil! Berangkat juga ke luar.

Teman lain lagi, seorang profesional muda, setelah puas bekerja, dia niatkan melamar beasiswa ke Eropa dan berangkat. Bahkan sampai keliling Eropa karena pindah-pindah beasiswa.

Yang paling prestisius adalah salah seorang kenalan perempuan yang pernah bekerja di NGO, setelah itu bekerja di pemerintahan, ia memiliki kemampuan bahasa luar biasa. Suatu saat dikenalkan oleh bosnya, di sebuah kunjungan, pada staf pengajar Universitas Havard. Ngobrol-ngobrol sebentar, para staf itu sangat tertarik dengan kemampuan dia, tidak berapa lama langsung mendapat tiket beasiswa ke Harvard.

Jalur nasib lain juga ada, yaitu tanpa direncanakan ada teman yang ikut suami tinggal di luar negeri. Akhirnya bisa melanjutkan studi sampai S3.

Persamaan : semua pernah ambil S1 di Indonesia, di dalam negeri. Dan orang tua mereka sepertinya tidak merencanakan apakah mau ambil Cambridge atau IB, bahkan mereka mungkin tidak tahu itu benda apaan, ya? Hehehehe…

Aku juga pernah bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang bisa sekolah karena memang  direncanakan oleh orang tuanya. Dan mereka direncanakan sejak amat sangat dini, ikut boarding school sejak SMP, atau mulai SMU sudah langsung dilempar ke luar. Ada banyak yang sukses, namun begitu juga yang tidak, terutama yang bondingnya dengan orang tuanya tidak kuat.

Contoh, salah satu teman yang saya temui di sebuah negara di Eropa.

“Lo sampai kapan mau tinggal disini? Mau kerja? ” Dia tinggal disana sendiri dari SMU.

“Iya. Gue sih sebetulnya sudah bosan, gue pengin pulang. Tapi sama bokap gue ga boleh. Kata dia ‘Ngapain kamu pulang! Sayanggg! Mending kamu terusin saja disana. Kerja! Disini ngga bagus prospeknya buat kamu.’ “

Dia menatap tanah, murung. Di belakangnya orang-orang berseliweran dengan bahasa asing, yang tidak kumengerti. Dari teman yang lain, aku sempat dicurhati sulitnya mencari teman di negara ini, di tengah isu rasisme, dan ketakutan penduduk setempat akan persaingan dengan tenaga kerja asing.

“Kadang gue ngerasa mereka sengaja melempar gue kemari karena mereka memang ingin ‘membuang’ gue. ” Keluhnya.

Kemudian seorang anak yang sudah disuruh ikut boarding school di luar negeri sejak usia SMP. Tapi semakin bertambah dewasa, mulai merasa malas sekolah, sampai sempat mogok, bahkan hampir dikeluarkan dari sekolah.

Aku juga pernah melihat sendiri ” dapur” kehidupan siswa-siswa yang mendadak disuruh hidup di luar negeri : kamar seperti ada bom meledak, merasa super sengsara, mencari tempat bergantung secepatnya.

Untuk kasus-kasus tertentu bisa ekstrim seperti overspending, nunggak tagihan , bergantung dari pinjaman ke pinjaman sampai diusir dari apartemen. Yang punya uang pun, bila mentalnya tidak kuat, bisa melakukan hal impulsif, banyak minum, drugs, seks bebas, dsb.

Mereka belajar dari hidup memang, tapi dengan lemparan yang lebih keras daripada anak-anak yang memang dari awal sudah diajarkan mandiri ataupun pergi atas kemauan sendiri. Masalahnya, siapa jamin mereka tidak akan pecah?

Tentu saja semua itu tidak rasional. Aku yakin, tidak ada orang tua yang ingin anaknya gagal. Sayangnya, seorang anak memiliki bahasa dan perasaan sendiri yang tidak dimengerti oleh nalar orang tua.

Jadi untuk apa sebetulnya semua perencanaan bila akhirnya seorang anak akan berbalik memiliki perasaan negatif terhadap orang tuanya? Sukses, iya, tapi setelah itu dia terbang melayang hilang seperti layang-layang. Membuang semua keyakinan yang sudah mati-matian diajarkan dan kita harapkan bisa menjadi bekalnya di usia tua. Apakah itu yang diinginkan?

Kadang kita sering lupa, lebih banyak hidup dengan membuat rencana, seolah-olah kita hidup di MASA DEPAN. Padahal seorang anak hidup di HARI INI.

Hari ini kita mengamatinya tengah menyukai apa, hari ini kita mengerti perasaannya tentang banyak hal. Dan hari ini kita pelan-pelan mengerti, apa yang paling penting baginya dalam hidup.

Mungkin bukan sebuah sekolah internasional yang hebat dengan ” bonus” bisa ikut tambahan ujian gratis? 

Mungkin bukan apakah dia akan tembus Ivy League, kesempatan menjadi satu alumni dengan Obama? 

Mungkin itu hanya hal-hal sederhana ; seperti ingin bercita-cita melihat seperti apa itu salju, main bola bersama ayah, diajarkan cara mengikat tali sepatu oleh ibu. Memiliki orang tua yang hadir, sedia mendengarkan, dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya ; kenapa ada orang yang miskin dan ada yang kaya, mengapa diejek itu rasanya menyakitkan, selama ini sebetulnya Tuhan tinggal dimana.

Semua adalah jejak-jejak kenangan yang akan diingat sampai dia tua. Sehingga suatu saat ketika hidup tidak lagi mulus (hidup itu kan seperti roda), dia akan memiliki satu saja harta berharga dari masa kecilnya. Bahwa orang tuanya pernah ada. Tidak diganti memori tugas les bertumpuk-tumpuk, berpelukan saat sedih dengan seorang teman di sebuah tempat bernama boarding school, dan kedekatan bersama orang-orang yang bahkan tidak tahu negara Indonesia itu ada. *hey, ini kejadian, lho!* 

Dari semua yang kupelajari dari pengalaman sendiri dan kawan-kawan, kesimpulan akhirnya sederhana : rejeki itu tidak akan kemana-mana. Bila memang sudah jatahnya.

Yang lebih penting, jangan pernah lupa…

Hiduplah untuk hari ini.

Image : Hex Aym for freeimages.com

Iklan

6 thoughts on “Ingin Menyekolahkan Anak Ke Luar Negeri Demi Masa Depan Gemilang?

  1. Nurul Rahmawati berkata:

    Ya ampuuun, ini jleb-jleb-jleeeeb bangeeet mbaaa… :((
    Duh, aku sebagai ibu2 mainstream (yang ambisiusss, you know lahhh) juga kerap terjebak pd pola pikir macem “asing jauh lebih baik”

    Dan, suamiku yg bantuin untuk tetep berpijak di bumi 🙂 Dan hidup utk hari ini.
    bukanbocahbiasa(dot)com

    Suka

  2. Putu Ayu Winayasari berkata:

    Pingin nyekolahin anak sampe negri sebrang siy, walaupun mikirnya berkali-kali-kali-kali…hiks. Iya bener mbak, waallahu alam gimana nanti hidup membawa kita aja, yg penting nikmatin aja dl hari ini 🙂

    Suka

  3. Nurul Fitri Fatkhani berkata:

    Setujuuu mak..anak di sekolahkan ke luar negeri, diikutsertakan les ini..les itu, biasanya kehendak orang tua semata. Jarang sekali atas dasar kemauan anak. Kasian ya..anak-anak tidak menikmati masa kecilnya. Betapa indahnya bermain bersama teman-temannya dan yang lebih penting lagi, kenangan bersama orang tua.

    Suka

  4. Jefry Dewangga berkata:

    Memang walaupun orang tuanya sudah menyuruh ini itu kalau si anaknya ndak mau ya mau bagaimana lagi… ^_^ Orang tua pada dasarnya mengarahkan, anak sendiri lah yang menentukan kemauannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s