Generasi Mama Pertama Era Sosial Media

Kadang ada dorongan luar biasa bagiku untuk mempost foto-foto saat bocah melakukan hal lucu,  sayangnya hanya aku yang melihat, ah, mengapa tidak semua orang?
Misalnya, ketika dia sedang bermain air di dalam ember memakai kaca mata X-Ray.

 Tapi sebelum memposting foto kupikir-pikir….
1. Siapa saja yang akan menganggap kejadian ini lucu, baik, menggemaskan, dan positif?
  • Teman, kerabat, saudara, dan para pengikut pencinta anak.
2. Siapa saja yang akan menganggap kejadian ini di luar hal2 diatas?
  • Pengikut yang tidak tertarik dengan gambar anak main di dalam ember
  • Teman, kerabat, atau pengikut yang ingin memiliki anak tapi belum bisa.
  • Teman, kerabat, atau pengikut yang  tidak mau memiliki anak.
  • Kriminil
  • …atau malah si anaknya sendiri di masa depan, setelah dia sadar, karena tidak mau hal itu diketahui oleh :
          – Teman-temannya, ada potensi bullying
– Para org kreatif yang suka membuat meme gambar dari foto2 lucu
          – Calon pasangan, atau calon yang merasa bakal jadi pasangan
          – Calon pemberi kerja di masa depan
          – Calon pemilih di pemilu masa depan – haha
          – Orang sakit jiwa, pedofilia, dsb.
Masalahnya, ketika anak belum bisa berpikir nalar, dia tidak bisa mengatakan semua itu…semua hak ada di tanganku,dong..hohoho *ketawa licik*
Tentu saja aku melihat dari banyak sisi berbeda. Banyak ibu2 blogger, vlogger, yang melakukannya untuk sekedar sharing dan banyak pula yang mendapatkan manfaatnya. A female connection. Bisa saling berbagi keceriaan, berbagi support.
Bahkan ada seorang mommy blogger internasional yang merasakan bahwa ketika bercerita bagaimana anak-anaknya dalam masa sulit, seperti ADHD, speech delay, dsb, ia merasakan dukungan yang luar biasa dari banyak pembaca, yang sebagian besar asing, kepada kasus dirinya. Sehingga dia merasa dikuatkan.
Tetapi setelah anak-anak menjadi dewasa, tentunya akan kembali ke pertanyaan ke dua diatas tadi.
Dengan memposting foto serta menulis di sosial media atau blog,   aku menerima penilaian-penilaian atas diriku. Namun bila aku memposting dan menulis tentang anak, apakah dia kelak  menerima hal sama atas sesuatu yang sebetulnya tidak ia lakukan?
Aku pernah melakukan hal itu sampai kemudian tertegun, yang tidak sadar kulakukan ini adalah melakukan branding terhadap diri sendiri, dengan keluarga sebagai salah satu bagian dari proses.  Kalau suami, masih ok, lah karena bisa ditanya persetujuannya, tahu resiko serta baik buruknya. Bagaimana dengan anak di bawah umur? Apakah aku sudah melakukan eksploitasi kecil terhadap mereka atas nama branding diri ini?
Untungnya aku masih punya waktu untuk mendelete semua jejak2 online itu. Bagaimana yang tidak sempat?  Mungkinkah si bocah akan senang mengetahui bahwa seluruh dunia tahu bagaimana proses dia dibesarkan?
Aku pernah kenal dengan beberapa anak orang terkenal yang terekspos dari kecil  dan umumnya mereka tidak suka kisah hidup mereka diketahui banyak orang. Itu saja yang secara offline, karena jaman dulu kan belum ada internet, jejak mereka bisa mudah terhapus, bagaimana yang online? Apakah kita bertahun-tahun kemudian akan menemukan sebuah generasi yang tidak memiliki kerahasiaan lagi dalam hidupnya karena terlalu di ekspos?
Akhirnya aku membuat jalan tengah :  simpan foto kenang2an itu bagi diri sendiri, mungkin sekedar share dengan teman-teman dalam nuansa privat, seperti e-mail, grup keluarga, dsb.

Untuk memposting di blog dan sosial media foto, serta tulisan hal-hal yang berpotensi memalukan baginya kelak, aku baru akan melakukannya setelah dia cukup umur serta nalar untuk mengatakan persetujuan akan hal itu. Tentu saja setelah aku menjelaskan konsekuensinya.

Dan untuk saat ini yang menjadi masalah hanya diriku sendiri, bagaimana meredam gejolak untuk memperlihatkan pada dunia segala kelucuan yang terjadi di depan mata.

Aaargh..nggak tahaan…nggak tahaaaan! Semua orang harus tahuuu…
Pada akhirnya aku hanyalah bagian dari generasi pertama orang tua di era sosial media, mesin pencari, dan blog. Mungkin juga generasi pertama dalam banyak hal. Generasi serba percobaan. Aku merasakan sendiri bagaimana sumringahnya melakukan hal2 baru berkat perkembangan teknologi, merasakan  antusiasme orang2 sekeliling berbagi tentang banyak hal, berbagi sampai hal2 terkecil dalam hidup, diantaranya anak.
Dan akan sangat menarik melihat bagaimana anak-anak dari generasi kita bereaksi kelak. Mungkin suka, mungkin tidak, mungkin malah tidak peduli, mungkin hal itu juga mengubah hidup mereka selamanya.
Bagaimana denganmu? Apakah memiliki dilema yang sama atau malah pendapat yang berbeda?
image :len-k-a for freeimages.com
Iklan

8 thoughts on “Generasi Mama Pertama Era Sosial Media

  1. Rahmi Aziza berkata:

    Klao saya sih memilah aja mak yang mana yang boleh diposting, mencoba memposisikan diri seandainya orang tua yang memposting foto2 saya di blognya, kira2 gimana ya respon saya. Ngg bentar mbayangin dulu ya mak 🙂

    Suka

  2. Gusti Indah Primadona berkata:

    sudah sering baca topik yang kayak gini…kadang mikir iya juga sih, anaknya suka gak ya kalo aktifitasnya di share
    dulu waktu baru punya anak sering banget posting foto-fotonya yg lucu-lucu…tapi sekarang udah dikurangi 🙂

    Suka

  3. lianurmalasari berkata:

    sejauh ini saya selalu memilah mak.. mana yang layak dishare dan mana yang tidak. Setiap kesedihan hampir tidak pernah saya share. Berbagi kesenangan itu yang biasanya saya lakukan. tfs ya mak 🙂

    Suka

  4. kartina ika sari berkata:

    saya kalo posting foto2 anak di media sosial dan blog selalu memberi tahu anak saya. Mereka senang2 aja ya..Anak saya dua: pertama usia 10 tahun, kedua 4 tahun. Tdk semua cerita ttg anak saya expos. Hanya yang sifatnya edukasi dan apresiasi atas prilaku postif mereka. Heheh blog saya juga tidak begitu banyak bercerita tentang anak, meski awalnya ditujukan untuk story mereka…kesini2 malah jarang.

    Suka

  5. Jefry Dewangga berkata:

    Iya memang anak yang lahir di tahun 1995-2000 menjadi generasi percobaan seperti yang mbak bilang, generasi peralihan dari yang tradisional menjadi yang modern, saya sendiri sudah merasakannya mbak. ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s