Tips Menghadapi Persaingan Antar Orang Tua

womenwp
Mungkin kamu pernah mengalami apa yang pernah kurasakan…berada di sebuah komunitas mommies dan sebagian besar (atau segelintir) sangat suka bersaing dalam segala hal perkembangan anak.

 Terutama ketika masih mamahmud....masih lucu-lucunya jadi mommy..

Pengalaman-pengalaman lintas komunitas…

Percakapan yang seringkali jadi bahan…

“Anakku usia 6 tahun sudah baca koran”

“Hari ini anakku ikut lomba di sekolah XYZ. ”
“Kakak  juara satu di kompetisi liga, sih. Besok dikirim ke Jepang.”
“Besok mau ikut lomba drum band antar sekolah. Kemarin menang di tempat lain.”
Kemudian bisa berlanjut kepada gelombang nasehat dan pengalaman panjang lebar tanpa diminta…

Hasil,  kok, nggak nyaman, ya. Mulai meneliti perasaan sendiri setiap kali ada cerita2 tentang piala baru, aktivitas baru, perkembangan baru.  Tahapannya kira-kira kayak gini,

  • Pertama, membayangkan wajah anak sendiri…yang lagi nyengir-nyengir
  • Kedua, mulai terjadi, deh, pembandingan. Counting...Hmmm…Dia di usia segini pencapaian YYYY dan si anak2 lain usia segitu sudah XXXX.
  • Lalu….mulai merasa ada yang salah. 
Salah di kita?
Kepala secara otomatis membuat list tentang apa saja yang selama ini seharusnya dilakukan…Check. Re-check. Check. Nah, lho? Sudah benar semua, kok…artinya….

Salah di anak? 

Hal ini bisa diperburuk bila ada kondisi persaingan ketat di sekolah dan antar sekolah juga.  Bukan rahasia lagi kalau di Indonesia kita masih cenderung lebih menyukai “anak-anak yang gemar (dan menjadi pemenang) kompetisi”.  Karena otomatis akan menaikkan pamor sekolah.

Aku sempat berpikir hal semacam itu akan terjadi bila kita ada di komunitas yang hanya berpikir tentang tujuan duniawi saja. Ah, pasti demikian! #yakin

Jadi marilah belok 180 derajat, bergaul juga dengan komunitas yang tidak semata berpikir keduniaan…!!

Kumencari-cari  kesana kemari. Setelah melebur dengan komunitas baru…

LHO?Lho….

Kaki seperti kembali melangkah ke sebuah kolam tak berdasar lagi ya…Ayayayay.…perasaan apa ini…

Aku me-rewind percakapan2 selama ini, seperti sebuah pita kaset yang sudah kuno…

Eh, kok, familiar, ya, dengan nada2 sejenis…

“Anakku alhamdulillah sudah khatam, usianya 5 tahun….”

   “Anakku, dong, selalu mau sholat 5 waktu  tanpa disuruh.  Rajin sholat   shunnah.”

“Anakku hafalannya sudah juz 30…”

BRUK!!BRUKK!! *bunyi bangunan semangat spiritual yang runtuh-seruntuh-runtuhnya*

Kesimpulan :

Ternyata mau ada di komunitas semacam apapun akan selalu ada yang membawa semangat persaingan antara orang tua!   HAKHAKHAK...#ketawadiantarapuing2danairmata #menatapatapreruntuhan

Kok bisa? #merangkak keluar dari puing2

Ternyata di balik itu ada sebab yang dalam..

Akhirnya dibahas, deh, dengan pakar yang paham ilmu kejiwaan.  Penjelasan sang pakar mengenai fenomena itu kira-kira gini…..

Kita-yang senang menceritakan dengan berlebihan (sesekali sih boleh lah hahay) perkembangan serta segala bentuk prestasi anak , sebetulnya adalah bentuk satu kekosongan dalam jiwa.

Kekosongan yang terjadi salah satunya karena ketika kecil jarang dipuji oleh orang tua.

Apesnya, bila kita merasa sudah “habis harapan” untuk meraih mimpi2 lama, hingga satu2nya pemegang tongkat estafet, adalah…anak. Ditambah didikan model jaman dulu banget dimana orang tua suka bangga di luar tapi pelit memberi penghargaan  (bukan memberi penghargaan di dalam, merunduk di luar). Anak jadi cenderung mencari cara pembuktian dari berbagai hal sampai dewasa bahkan ketika jadi orang tua.

Mungkin ketika kita bekerja bisa membuktikan itu di tempat bekerja.  I am somebody.

Kalau di komunitas orang tua, kan siapa elu, haha.. ya siapa dirimu kebanyakan tercermin dari anakmu. Seorang anak akan menjadi saluran tempat pembuktian kita. Nggak kepengen kan kita di kenal sebagai “Ooh ortunya si XX yang kemarin jitak anak kita”. Pengennya ortunya si Juara Mengarang.

So, this is so sad, actually…kasihan juga, sih…

Padahal anak-anak cetakannya nggak ada yang sama. Juga bakat dan minat.

Akibatnya…

Timbul perasaan-perasaan makin kurang nyaman acapkali ada pertemuan dan membuat daftar tuntutan..dengan target-target bagi……si bocah yang sedang cengar-cengir bermain gembira! Dampak tergawat…ikut bersaing presentasi prestasi saban ketemu. Ah. Sedap banget kalau sudah mulai panas kayak begitu, karena pasti ada unsur ketagihannya..hahaha..Nggak percaya? Cobain aja, deh..

*Padahal tujuannya apa kadang nggak jelas juga ‘kan ya. Lebih mirip pengemudi yang berakhir saling kebut-kebutan karena merasa kepepet dikit.*

Jadi bagaimana menetralisirnya..?

Yah, jadi itu semua cerita dulu….masa-masa mamahmud lucu-lucu….

Sekarang setelah kena berbagai badai menerjang,  jadi berusaha lebih rileks saja jadi orang tua. Dan yang paling penting……mulai bisa “mengenali” gejala-gejala tidak nyaman saat kaki mulai kecemplung dalam sebuah kolam bernama persaingan antar orang tua. Sebelum tenggelam tanpa sadar, harus buru-buru menarik kaki dan bersih-bersih dari air kolam.*lap-lap*

Ini tips yang kupakai, bila dalam pergaulan muncul perasaan seperti masuk ke dalam kolam persaingan antar orang tua. Sekecil apapun (asumsinya kita SUDAH TAHU kenapa ada orang tua yang punya kecenderungan demikian juga SUDAH PAHAM tiap anak itu unik,ya).

Coba ingat kembali kapan perasaan tidak nyaman itu hadir dan pelan-pelan tanyakan kepada diri sendiri…

  • Perasaan yang dirasakan ini tanda bahaya atau hanya karena melihat rumput tetangga kelihatan hijau saja?
  • Haruskah keindahan rumput tetangga ikut dicicipi anakKU? Sekarang? *kalau hasilnya bikin mabok bagaimana* 
  • Apakah ini murni perasaan dan masalah KU, atau perasaan dan masalah ANAK ku?

Bila ini masalah- KITA….

Kayaknya kita, deh, yang menjadikannya masalah bagi si anak, kita juga yang perlu mencari solusinya untuk diri sendiri……bukan untuk anak, orang lain, atau lingkungan.

Ibaratnya semangat membetulkan keran bocor, tapi di tempat yang salah.  Diperbaiki sampai bagaimanapun, air akan selalu kembali mengalir, tidak ada habisnya. Akan selalu ada lagi. Sampai kapan? Ya, sampai kekosongan itu terisi.

Jika bingung apakah kita sudah logis, senjata terakhir komunikasi deh, dengan the masters of logic, the daddys.  Pria umumnya sudah biasa dengan segala bentuk persaingan, makanan mereka sehari-hari bahkan antar sesama temannya.

Bila suara-suara di sekitar, yang rajin bercerita tentang segudang prestasi anak, tidak lagi mempengaruhi, apalagi mengganggu seperti dulu….itu artinya persoalan kita yang sebenarnya sudah terpecahkan. Nantinya  rasanya akan woles saja……paling masuk telinga kanan keluar telinga kiri,

Bahkan sesekali bila ada kejadian-kejadian lagi, kita malah bisa ikutan bilang WOW #ehbukandalam rangkamanas2in, ya.

Jadi apakah kamu punya pengalaman dengan persaingan antar orang tua? Yuk, share..

===========

Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kondisi dan perasaan2 seperti diatas?

Images : http://www.buriedwithchildren.com, luca cinacchio for freeimages.com, giphy.com, youtube.com, dailymail.co.uk

Iklan

12 thoughts on “Tips Menghadapi Persaingan Antar Orang Tua

  1. Inda Chakim berkata:

    Daku kadang begitu mak terutama kalau ngadepin emak2 yg lebay gt, berlebihan, berlebihan air liur pulak, sampek muncrat2 kalau ngomong, hehe…
    Tengkiu ya mak, berkat tulisanmu daku tau, kalau sbnrnya emak2 yg begitu itu nggak seharusnya daku balas…seharusnya daku iyakan aja die ngomong ape, paling nggak si emak itu seneng…tfs ya mak 🙂

    Suka

  2. Lusi berkata:

    Sekarang khatam Al Quran juga jd persaingan, “Anakku sudah sampai 20 juz loh”. Itu bikin sedih banget karena tiap ayat kita tujukan ke Allah SWT. Bukan untuk menyaingi siapapun melainkan mengalahkan diri sendiri. Makasih mak, sudah ngasih bahan renungan karena kadang masih suka ngepush anak2 utk hal2 duniawi.

    Suka

  3. Annisa Steviani berkata:

    aku orangnya seneng ngobrol sama stranger tapi nggak kalau di rumah sakit pas imunisasi. SEMUA PADA BANGGAIN ANAKNYA. anakku sekian bulan udah jalan, sekian bulan udah bisa ini itu, blablabla. mending melipir pura-pura sibuk soalnya kalau ikut ngobrol pasti berujung “nasihat” nggak dibutuhkan kalau anak kita belum bisa ini itu. bhay! hahaha

    Suka

  4. Ety Abdoel berkata:

    Wah, senasib kita. Dulu saya juga pusing sendiri ketika anak orang lain sudah bisa ini, itu sementara anak saya belum.
    Sekarang sih cuek saja, setiap anak buat saya istimewa nggak perlu dibanding-bandingkan.

    Suka

  5. denaldd berkata:

    Benar2 baru tahu tentang teori ini. Jadi sekarang lumayan tercerahkan kenapa orangtua bisa bersikap seperti itu. Dulu selalu kesel sih dengernya kalau ada sesama orangtua yang banding2in anaknya. Mungkin maksud awalnya mereka mau sharing, tapi lama2 keseret jadi banding2in dan jadi tinggi2an ngomongnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s