Tips Ikut Lomba Gambar Yang Sehat

lombgambarwpDulu masih suka mengikutkan anak ke lomba-lomba gambar yang sering ramai diselenggarakan. Tujuannya cuma seru-seruan aja, biar banyak kawan yang suka gambar juga, belajar sportif, fokus, paham tenggat waktu, kreatif…pokoknya senang-senang ajalah.

Tapi setelah terjun ke berbagai lomba, akhirnya mulai membatasi. Kenapa?

Di lapangan, kok, ya banyak yang…begitulah…dampak kurang baiknya. Karena kebanyakan lomba gambar di Indonesia (sayang sekali) hanya untuk pelengkap urusan bisnis alias promosi. Kalaupun ada yang tidak, contohnya, bila penyelenggaranya dari sekolah-sekolah seni, untuk menemukannya bak mencari jarum diantara jerami.

 Ini kesimpulannya dari beberapa tahun berpartisipasi :
1. Suasana kompetitif…..antar anak orang tua (!)

Nggak tahu kenapa kok, malah sering melihat orang tua yang ikutan menggambar indah membantu anak, atau memberi petunjuk diantara anak TK. Ngg….apa karena nggak ada lomba gambar indah level ortu, ya?

2.Seragamnya Hasil Pemenang Lomba Gambar
Jadi nih, sudah bukan rahasia lagi, kalau di les gambar dapat tips dan trik dari guru tentang kriteria yang disukai juri, bagaimana bentuk warna, gradasi, pernik, dsb. Masih ingat jaman kita SD bahwa gambar gunung yang bagus adalah dua gunung dan satu jalan? Hmmm….yah…kira-kira seperti itu..hihihi. Kreatif? Nah, ini relatif…
3.Suasana Tumpah Ruah
Terutama bila lomba gambar juga bagian dari acara promosi produk-entah-apa.  Semakin banyak peserta semakin bagus untuk promosi. Walaupun tempat tersedia jelas mini-mini banget, biarin, dipepet-pepetin, deh. Asal masih muat. Senggol-senggolan antar anak? Ya, paling cemberut… Fun? Bersahabat? Bergembira bersama? Bercanda kau, yang ada…*kipas*kipas*
4. Ngetem dan ngaret
Walau tidak semua, seringkali, sih, ya, begitu. Kalau ketemu kasus begini, kasian banget anaknya. Sudah duduk manis, tapi panitia masih rajin menarik peserta. Jadi inget angkot yang ngetem. Pusing orang tuanya, kalau anak mulai moody, gelisah….apalagi sampai kebelet pipis!  Ah, yang penting makin banyak anak makin bagus buat promosi kita ‘kan…
 5.Anak-anak Lomba

Coba, deh, tanya yang rajin ikut lomba, suka ketemu anak yang itu-itu lagi, nggak? Sebutan populer mereka adalah “anak lomba”. Langganan ikut lomba gambar dimana saja berada. Cirinya, begitu mulai, sudah pada siap dengan atribut kain lap, sikat bulu penghilang debu crayon. Bila tidak ada larangan, “senjata lain” adalah crayon mahal buatan Eropa, yang tentu kualitasnya beda dengan crayon anak-anak. Panitia lomba gambar yang profesional tentu akan memperhatikan hal krusial ini. Biasanya ada larangan atau harus pakai crayon yang disediakan. Kalau panitia cuek, alias sekedar lomba-lombaan suka-suka….selamat berhadapan dengan Goliath.

Baca : Tips Menghadapi Persaingan Antar Orang Tua

Mari kita kira-kira apa yang akan ditangkap anak dengan kondisi demikian (sesuai point)….

1. Kalau nggak ketahuan kakak panitia boleh curang….
2. Sini mama yang gambarin, mama lebih tahu..bergantunglah pada mama..
3. Gambar jangan aneh-aneh. Gambar ya kayak gambar anak-anak aja. Mau menang nggak? Udah, ikut kata pengajar di sanggar..
4. Mari bertanding di ring tinju dengan senjata yang berbeda. Kamu pakai pistol, aku pakai bazooka. Ooh. Sportif kok. Ya ngapain bawa crayon anak kecil… bawa itu crayon orang gede. Eh, iya…kita masih anak-anak, ya??

….dan seterusnya…

Tujuan mengikutsertakan lomba di paragraf awal…. Tetooooottttttt..

Memang masih memprihatinkan. Tapi mungkin disuatu tempat ada perkecualian panitia yang mengedepankan pendidikan.  Jadi bukan berarti ikut lomba gambar di Indonesia tidak direkomendasikan.

Bila masih ingin banget, ini deh, ciri-ciri penyelenggara lomba anak yang bisa dimasukkan list :

  1. Lihat lokasi yang disediakan, umumnya mendukung kondisi lomba dengan jumlah banyak.
  2. Pengaturan tempat untuk peserta tertata rapi dengan jarak yang membuat peserta nyaman, fokus, dan bisa bekerja mandiri.
  3. Jumlah peserta tidak membludak tak terhingga, melainkan dibatasi dari awal
  4. Terdapat kriteria lomba yang jelas seperti pembagian usia, tema, syarat peralatan, dsb. Spesifik. Jelas.
  5. Utamakan panitia yang memang sudah berpengalaman dalam menyelenggarakan lomba anak
  6. Lihat testimoni dari para peserta lomba di tahun-tahun sebelumnya
  7. Idealnya : para juri memang kompeten di bidangnya dan paham masalah pendidikan serta karya kreatif, tidak asal comot.

Aku memang pernah menerapkan trik ini, namun itu juga masih suka kecolongan. Bisa saja pakai sistem tembak di tempat, dengan melihat suasana lapangannya bagaimana (tapi anaknya jangan dibawa kesitu dulu, nanti kecewa).

Alternatif lain, ikut lomba yang mengharuskan mengirimkan karya sendiri.

Atau…..tunda tidak usah ikut sama sekali hahaha…

Yang terakhir ini, alasan logisnya, karena anak kecil memang sebetulnya punya karakter beda-beda. Ada yang suka sekali kompetisi, seperti kita suka makan mie goreng. Tapi ada yang tidak suka, meskipun dia itu jago gambar. Jadi jangan dipaksakan. Tunggu sampai anaknya sendiri siap mental dan minta.  Soalnya bisa berdampak juga pada rasa PD dan psikis sang anak.

Daripada nanti dia malah jadi trauma (emoh) atau lebih suka mencontoh gambar yang dia anggap bakal menang…..’kan sayang kreativitasnya, ya? Siapa tahu ciri khas gambar si anak itu memang unik. Tidak seragam. Kalau di luar negeri justru yang seperti ini diincar juri.

Children see, children do.

Pada akhirnya, yang bisa orang tua lakukan cuma memilih, apa yang sebaiknya dilihat dan tidak dilihat anak.  Mungkin suasana lomba ini adalah gambaran juga dari apa prioritas masyarakat sekarang…Entahlah?

Jadi, bila anak anda sudah siap ikut…selamat mencoba! Bila tidak, itu juga OK. Tidak semua hal harus dinikmati dan dicapai lewat perlombaan, bukan?

—-

Punya pengalaman lain?

Gambar : Ove Tøpfer for Free Image, stockimage.com

Iklan

14 thoughts on “Tips Ikut Lomba Gambar Yang Sehat

  1. nadia khaerunnisa berkata:

    Membuka pikiran sekali, Mbak 🙂 Saya baru ngeh soal situasi lomba-lomba macem gini, jadi punya referensi deh kalo sekiranya nanti buat pilih-pilih lomba. Ternyata gak semuanya bagus ya…

    Suka

  2. Tira Soekardi berkata:

    memang sih kadang ibu2 itu suka nyebelin, dah tahu anaknya lomba malah ikut2an. padahal biar anak berkreasi sendiri. tapi memang sekali-kali anak perlu diajak ikut berlomba dan belajar menerima kekalahan. Ada loh anak yang marah2 karena gak menang bahkan ibunay protes sama panitia.

    Suka

  3. Annisa Steviani berkata:

    ini sudah begini sejak aku kecil kok tahun 90-an. aku waktu kecil sering banget ikut lomba menggambar karena ayah terobsesi anaknya masuk seni rupa ITB. lama-lama akunya bosan, ogah ikut lomba lagi. lol

    Suka

  4. melati koekieku berkata:

    Hehehe para ortu bounty hunter itu py grup jg loh, jd sering ketemunya itu lg itu lg … Ngeri euy. Kebetulan ad saudara jg yg bgitu. Kdg kepikir, ngikut lomba itu kynya g bakal bkin anak jd picasso …

    Suka

  5. Merida Merry berkata:

    benerrrr banget maakkk.. aku suka kecele klo ngikutin anak lomba beginian.. habisnya jumlah peserta suka ga di batasi, akhirnya membludak ga terkendali. Belum lagi yang mak2 e ikutan 'kerja' juga.. jadi nya lomba karya emak donk .. jadi males ngikutin anak lomba beginian tapi malangnya anak saya suka tuh mak.. walaupun belum dapat gelar apapun tp dia senang setiap diikutkan dalam lomba.. jadi galau saya ..

    Suka

  6. bunda sugi berkata:

    Setuju dengan idenya. Selektif mengikutkan lomba menggambar/ mewarnai pada anak. Kalo saya, saya biarkan anak berkreasi, kalo ternyata ditengah jalan nggak mau lanjut menwarnanya dengan alasan capek, ya sudah…. biar aja nggak perlu dipaksa. Suatu ketika saat dia sudah paham arti sebuah kompetisi pasti semangatnya akan timbul sendiri. Kebahagiaan anak terletak pada bagaimana ia menikmati apa yang dikerjakan, bukan kemenangan yang ternyata tidak dikehendakinya. Bukannya begitu Bund…

    Suka

  7. bunda raka-alya berkata:

    Aku pernah kerja di EO yang sering ngadain lomba lukis Mak. Iya..mmg bener klo pesertanya itu-itu aja, bahkan 1 anak bisa ikut di lebih dari 1 lomba dlm sehari. Kesannya anak jadi dieksploitasi ma ortunya… Trus kita pernah make juri dari golongan non sanggar…si juri milih berdasarkan orisinalitas gambar…soalnya klo tipe2 anak sanggar itu bisa ditebak gambarnya kok. Ya klo mata awam kayak saya…gambar tadi biasa, tp sama juri dimenangkan krn orisinal. Tau nggak apa yng terjadi?orang tua yang anaknya sering juara lomba…pada potes!

    Suka

  8. Inda Chakim berkata:

    Iya ya mak..baru nyadar eikeh mah..dulu wktu kecil, thn 90an, prnah ditawarin ikut lmba gambar sm bapak,tp eikeh nggak mau, milih ikut lomba nyanyi, dan tentu saja kalah,,wkwkwkwk.

    Suka

  9. Nurul Fitri Fatkhani berkata:

    Setuju mbak…kita memang harus selektif memilih perlombaan untuk anak. Saya sering liat di perlombaan menggambar dan mewarnai, emak2nya malah sibuk sendiri. Memberi komando dari samping anak. Membantu anak ketika finishing. Bahkan saya juga pernah liat, ada anak yang pulangnya di ceramahin loh. Dari tempat lomba sampai ke parkiran, hanya gara2 anaknya gak menang. Duuh kasian ya… Kalo saya, lebih memilih membiarkan anak saya untuk ikut perlombaan yang dia mau. Tidak ikut campur ketika sedang berlomba, saya katakan pada mereka, untuk berusaha sendiri. Berkompetisi itu suatu proses belajar. Menang atau kalah bukanlah tujuan. Dan bila mereka menang, itu bonus dari usaha mereka.

    Suka

  10. Hilda Ikka berkata:

    Kalau aku sih lebih suka kalo lomba nggambarnya cuma dalam skala kecil, misal lomba di sekolah. Atau kabupaten dan yang mendanai adalah pemerintah. Istilahnya yang gak ada sponsor gitu. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s