Review Buku : Sabtu Bersama Bapak.

Ini adalah kisah novel bertema parenting yang cukup terkenal. Kisahnya juga sudah diangkat ke layar lebar.

Sinopsis Buku
Keluarga Garnida sudah tidak lengkap lagi.
Bapak Gunawan Garnida wafat dalam usia muda, meninggalkan istrinya Itje, serta kedua anak lelaki mereka yang masih kecil : Satya dan Cakra.
Namun benarkah sang Bapak benar-benar meninggalkan mereka?
Tidak.
Sepeninggal Bapak, kedua anak laki-laki itu masih tetap tumbuh bersama sosok Bapak. Setiap hari Sabtu.
Pak Gunawan sudah meninggalkan ratusan video rekaman dirinya yang ditujukan kepada anak-anak, memiliki jenis serta tanggal bagi tiap tahap perkembangan anak.
Satya dan Cakra sekarang sudah dewasa. Si sulung sudah membangun keluarga sendiri, sementara si bungsu masih menjomblo. Ibu Itje sukses membangun 8 restoran.
Ibu Itje, Satya dan keluarganya, serta Cakra. Masing-masing memiliki masalah sendiri-sendiri dalam kehidupan. Namun dalam berbagai kesempatan, mereka selalu bisa mencari solusinya…..bersama kenang-kenangan  terakhir dari Sang Bapak.

 

Resensi Buku

Di sebuah seminar, saya pernah menyaksikan video pendek menggugah, tentang seorang anak perempuan yang seolah berkomunikasi lewat video dengan bapaknya, yang ternyata sudah meninggal karena sakit.

Novel ini seperti perpanjangan dari kisah itu dengan pengandaian yang berbeda namun jauh lebih lengkap.

Bila membaca sinopsis diatas pembaca menyangka nanti akan disuguhkan sebuah drama melankoli yang mengharu-biru. Saya awalnya juga begitu, bila mengingat video lawas yang pernah saya saksikan. Plot yang  menarik, tapi pasti banjir air mata.
Ternyata tidak.
Walaupun tindakan pak Gunawan merupakan benang merah yang menyatukan cerita, kisah dalam buku ini lebih banyak fokus kepada saat anak-anak keluarga Garnida sudah dewasa.
Seperti Satya yang telah tinggal di luar negeri, bermasalah dengan istri dan anak. Kemudian Cakra yang sibuk berjuang makan ati dengan kejombloannya.
Semuanya masalah pria? Nggak juga. Ada masalah wanitanya, kok. Seperti cara ibu Itje dalam status janda, usahanya untuk mandiri, bagaimana memecahkan masalah, mendidik anak, mencarikan jodoh, dsb. Kemudian ada Rissa yang berjuang dengan caranya sendiri sebagai ibu di rumah. Lalu Ayu dalam kegalauan memilih pria.

Dan yang paling penting…..karena saya juga mudah tertidur bila cerita fiksi terlalu serius….adalah…banyak unsur humornya. Sedih, ketawa, terharu, ngakak.. terutama kasus kejombloan Cakra serta gerombolan anak buahnya yang super usil bin konyol.

Epilog dari novel ini, untuk saat ini masuk one of the best, dari novel-novel Indonesia yang pernah saya baca, Dengan kata2 sederhana, yang menyentuh, ikonik, dan sangat melekat :

“Bapak sayang kalian”

Tentu saja kekurangannya juga ada, dalam beberapa adegan nasehat-nasehat dari bapak terdengar agak “preachy”.  Juga ada adegan-adegan yang sebetulnya dibiarkan haru saja, tapi kemudian sedikit dipaksakan agar kocak. Kemudian tokoh perempuan muda seperti Rissa dan Ayu di kisah ini kurang tereksplorasi perasaannya dengan lebih “perempuan”, terutama Ayu, masih tipe Mary Sue banget. Tapi saya memahami karena penulis adalah seorang pria dan seorang suami. Hehe…itu umum  terjadi dalam tulisan penulis2 pria, sekaliber apapun. Hanya beberapa yang bisa menghindar dari jebakan stereotip karakter perempuan ideal, padahal perempuan jauuuh lebih kompleks dari itu bila di eksplor.

Misal, dasar pemilihan mencari istri di buku ini dinasehati tidak semata fisik. Tetapi selalu terjadi jalan pintas ketertarikan kilat, dimana wanita yang dipilih selalu punya latar belakang “kembang2an”, kembang kampus, kembang titik-titik *kayak pemikat lebah haha*.…cantik, dengan “baju putih rada nerawang”….kembali ke fisik, bukan berproses.  Karena target lebih untuk pria, biarlah dimaafkan. Namanya juga fantasi pria, supaya bersemangat membayangkannya ‘kan.  Baru jadi masalah, kalau akhirnya itu jadi perbandingan melihat istri disebelahnya…*hiyaat hiyaaaat*

Kesimpulan dari kritik…harusnya Hari Sabtu Bersama Bapak dibikin berseri…jadi lebih panjang serta bisa lebih dieksplorasi *bwahaha ngarep*
Desain cover nya termasuk sederhana banget, namun cukup representatif. Eh, tapi, kok, malah CD ya? Bukannya di buku bentuknya kaset video? *bingung*
Selesai membaca kisah ini saya baru paham kenapa buku ini direkomendasikan, diatas sederet buku2 teknis.

Umumnya pria sudah capek pulang kerja membawa masalah-masalah dari kantor, kepinginnya sampai rumah bersantai, weekend banyakan gembira, Kecuali bapak yang benar-benar  cinta dan menghayati masalah pengasuhan, umumnya kecil kemungkinan pulang dari kantor mau langsung melirik buku parenting yang serius sarat nasehat dengan daftar bibliografi panjang belakang.

Alhasil, bukunya bisa saja nganggur manis di pojokan.

Lain kalau bentuknya dongeng atau fiksi. Masih ada unsur hiburannya. Apalagi bila kebanyakan sarat poin2 dalam ilmu pengasuhan ; bagaimana menjalani peran dalam keluarga, dsb,  ikut mengalir menjadi masukan, bersama kisah fiksinya, tentu saja.  Lebih kecil kemungkinan pembaca merasa digurui. Kecuali memang dari awal sudah persisten banget dan terlalu banyak pesan sponsor dari istri!

Pada akhirnya bukan belajar teorinya yang penting. Bagaimana menggerakkan hati, adalah paling utama. Seperti menyalakan sebuah tombol, selanjutnya menjadi auto-pilot. Manusia harus seperti itu.

Kalau suami nggak doyan baca, gimana? Buku ini dibikin filmnya juga. Mungkin bisa jadi solusi bagi para suami yang ogah liat huruf-huruf ketikan..Sabar  aja, tunggu tanggal mainnya.

Jadi kenapa nggak dicoba, moms? Sharing disini, ya…..
Judul : Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media (2014)
Tebal : 277 halaman
Iklan

11 thoughts on “Review Buku : Sabtu Bersama Bapak.

  1. Neng Nunung berkata:

    waaahh… jadi bingung mending nonton atau baca dulu…

    pengalaman yang udah udah, kalo baca buku dulu akhirnya selama nonton film bukannya nikmati filmnya malah sibuk mbandingin dan komen geje…
    hehehehhe

    Suka

  2. Adriana Dian berkata:

    Aku suka banget banget banget novel ini. Magnetnya kuat banget, beberapa jam langsung selesai baca. Ringan tapi hangat sekali. Iya banget sayangnya suami ngga suka baca. dan mudah-mudahan nilai-nilai penting yang ada di dalam novelnya terbawa semua ya di filmnyaaa. Hihi. Nice review Mak!

    Suka

  3. Irawati Hamid berkata:

    saya belum baca novelnya Mbak..
    jadi bingung mau baca novel atau nonton filmnya dulu nih..
    tapi kayaknya nonton filmnya dulu karena biasanya saya selalu kecewa kalo duluan baca bukunya,, ada hal-hal yang ada dinovel tapi difilmnya kadang dihilangkan 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s