Pengalaman Menemukan Aliran Parenting

 

Ini adalah pengalaman-pengalaman yang mungkin umum terjadi pada orang tua saat pertama kali terpapar atau belajar ilmu parenting. Ini di Indonesia lho ya. Mungkin di luar sana beda lagi…

Banyak diantaranya yang terjadi padaku, tapi ada juga yang tidak. Jadi berdasar pengalaman orang lain. Kira-kira seperti ini  :

  • Kita akan jadi super hati-hati, melihat kembali bagaimana kita ngomong dan bersikap kepada anak. Apa-apa harus mikir dulu.
  • Belum tentu lingkungan sekitar kita berpendapat sama dengan ilmu kita. Ini suka jadi drama tersendiri dengan berbagai episode.
  • Rasanya gatal kalau ngeliat anak orang lain yang belum ter-parenting-isasi. Gemas.
  •  Mulai merasa banyak PR yang harus dikerjakan. Ngeliat bagaimana keluarga sendiri jauh dari “ideal” *lapkeringet*
  •  Praktek parenting itu kenyataannya tidak semudah teori. Karena emosi kita ikut main. Artinya harus belajar lagi ilmu kuasai emosi…Sedap!
  • Makin banyak belajar, makin merasa kurang ilmu, akhirnya ikut lagi pelatihan atau seminar. Saat kepala mulai berasap bila sakit hubungi dokter.
  • Ternyata makin kemari makin banyak pelatihan dan seminar, pakarnya juga banyak. Ayo. Dipilih dipilih.
  •  Ikut komunitas parenting artinya makin banyak juga berita terbaru yang dibutuhkan tapi juga termasuk yang seram-seraaaaam.
  • Mulai pusing bila langkah pasangan tidak seirama dengan langkah kita.
  •  Ilmu yang lama, karena banyak masukan, malah lupa. Cara rechargenya : ikut lagi.
  • Bingung memilih aliran parenting mana. Setelah memilih bisa jadi…
  • Bingung memilih guru yang mana. Beda kepala saja beda penafsiran terkadang, lho.

Intinya..DUNIA ANDA TIDAK AKAN SAMA LAGI.  Banyak yang akhirnya dapat manfaat berharga betul.

Tetapi bukan tidak ada efek samping lainnya.  Contoh kasus :

  • Pasangan suami istri nyaris berpisah karena mulai beda langkah, istri sudah maju harus makan hati dengan mandegnya suami. Akhirnya merasa tidak cocok.. ini kan malah jadi backfire.
  • Menganggap ortu lain belum tercerahkan, bisa berkembang jadi merasa benar sendiri. Sehingga bisa jadi bila anaknya melakukan kesalahan diantara anak-anak lain, hal yang pertama dilakukan adalah denial. Ah aku sudah melakukannya sesuai teori. Padahal parenting bukan ilmu pasti. Anak kita juga bukan malaikat.
  • Sesama perempuan saling bersiteru.  Yang sudah tahu ilmu ini dengan yang belum. Yang paling populer antara ibu di rumah dan ibu bekerja. Terutama bila ada yang sedikit-sedikit baper (padahal nggak nyenggol).
  • Makin parno dengan kondisi dunia, sehingga tertarik ikut kelompok yang cenderung sangat menutup diri dari pergaulan/hanya bergaul dengan sesamanya. Hal ini terjadi kemungkinan jika sudah terlalu banyak berita negatif diterima, sehingga kondisi ideal di negara ini untuk membesarkan anak dianggap sudah tidak ada.

Wah, jadi bagaimana dong….

——

Ilmu memang enggak ada cukupnya. Selalu perlu waktu untuk menggodok perlahan. Yang penting basicnya rapih dulu. Sesuai kebutuhan. Jangan berambisi melompat ke ilmu yang belum waktunya dilompatin.

Yang perlu diketahui pertama kali adalah,  ilmu parenting sendiri adalah sebuah ilmu baru. Tidak ada di dalam ilmu psikologi sebelumnya. Karena itu jangan heran bila tidak semua psikolog paham ilmu parenting (ini kupastikan sendiri, sumbernya lebih dari seorang ahli psikologi).  Dan karena bukan ilmu eksak, hasil tidak akan sepasti E=mc2, misalnya.

Apa yang aku pelajari, hikmah tentang ini semua?

Setelah belajar dari beberapa aliran ilmu parenting, membaca berbagai referensi, dan mendapat ide utama darinya…

  • Kita sebetulnya dianugerahi akal dan ilmu untuk berpikir dan belajar serta menemukan solusi sendiri.  Juga insting orang tua. Modal itu sebetulnya sudah gede banget. Cuma kadang kitanya suka nggak PD. Jadi selalu follow atau ikut orang. Ya, ini bisa dimaklumi karena merupakan kebiasaan dari sistem pendidikan kita juga, sih. Yang sukanya multiple choice, dimana harus ada jawaban pasti, bukan essay dengan so many possibilities.
  • Kalau memang butuh banget bimbingan guru/panutan setiap hari, bila memungkinkan, pilih yang memiliki ilmu sesuai dengan keyakinan kita dan jangan lupa lihat latar belakang dasar ilmu/logika berpikirnya. Apakah dia selalu menyebutkan dari mana ilmunya berasal (narasumber/referensi)?  Apakah dia tidak ragu menyuruh kita untuk mandiri dengan mengajak kita baca buku karya orang lain? Dengan demikian, selain bisa ditelusuri sejarah pemikiran ilmu tersebut, kecondongannya ke aliran apa, itu merupakan bentuk etika dan respek atas hasil pemikiran orang lain. Kecuali semuanya adalah hasil pemikiran sendiri, wah itu benar-benar hebat sekali, lho, kataku!
  • Jika bisa, pilih guru yang karakternya sedikit banyak mirip dengan kita.  Contoh : orang sanguinis yang santai dan ceria ketika mengikuti tauladan orang melankolis yang sempurna, rapih, dimana segala sesuatu harus dilakukan dengan benar, bakal terpental-pental jadi sutrisno (stress berat)!
  • Pertanyakan jika sebuah aliran parenting melarang kita belajar sama sekali dari orang lain, karena tidak sealiran, misalnya. Apalagi dengan cara mengancam atau menakut-nakuti. Menurutku itu aneh aja.
  • Aliran parenting, ya, aliran parenting bukan aliran agama. Bila inginnya sekaligus belajar agama, lebih baik belajar secara terpisah di luar dari guru dengan latar belakang pendidikan agama yang jelas sehingga penafsiran dan kata-katanya bisa dipertanggung-jawabkan secara keilmuan. Bagusnya, sih, kalau guru agama itu juga tahu ilmu parenting.
  •  Walaupun merasa sudah banyak belajar, tetap kondisikan kita ini sebetulnya ya, masih dalam proses belajar juga. Bersama semua orang lain yang ngerti ilmu ini atau tidak. Jadi bila suatu waktu ada yang “aneh” dengan hasil selama ini, pelajari kembali dengan berbesar hati, bukan malah membohongi diri sendiri dan menentangnya habis-habisan.
  •  Percayalah, meskipun seseorang teman tampak sukses dengan ilmu parentingnya, dibalik itu mereka juga punya ketakutan, banyak perjuangan, dan konflik batin seperti kita.  Sekarang memang OK. Tapi bagaimana kalau suatu saat anak gue tiba-tiba berubah?

—-

Pertanyaan pertama yang kuhadirkan saat mulai merasa jenuh.

Apakah aku bahagia dengan semua ini? Am I a happy person right now? 

Apakah aku jadi seorang pencemas?

Kalau jawaban semua hal diatas ternyata malah tidak sesuai yang diharapkan…

Berarti ada yang salah.

Sepertinya pertanda aku harus mulai dari mana dulu….

Akhirnya ada saat dimana aku berhenti terlalu memantau grup, facebook, dan sebagainya. Berhenti melihat setiap hari paparan tentang parenting.

Aku melakukan kontemplasi, menarik nafas, dan memikirkan apa sebetulnya yang membuatku bahagia. Dan mulai melakukan hal-hal menggembirakanku.

Aku tidak bilang caraku yang terbaik, ketika akhirnya aku memilih untuk sit back relax and enjoy the ride. Stop and smell the roses.  Hanya terkadang kita jadi terlalu serius, tegang, ketakutan, ingin semuanya ideal sempurna sehingga lupa menikmati perjalanan.

Menurutku akhirnya semua itu seperti berenang di laut atau main sepak bola (kalau susah bayangin yang pertama). Kita HARUS tahu aturan, rambu-rambu yang diberikan, seperti apa yang sebaiknya tidak dilanggar serta berbagai taktik….tapi kan nggak mungkin kita berenang dengan kecepatan dan gaya persis sama?

Di kondisi laut manapun apa iya, tetap pakai gaya punggung? Apakah kita harus plek niru persis Maradona atau Ronaldo, semua gaya-gaya passing, tackling, kicking mereka? Kondisi badan dan sejarah pelatihan fisik mereka jelas beda dengan kita. Juga keadaan  pertandingan.

Nanti, saat praktek, terjun ke pertandingan berlangsung, orang akan menemukan gaya sendiri-sendiri dalam kondisi masing-masing. Tanpa perlu lirik kiri kanan dan membandingkan. Target semua pemain toh  sama….. selamat sampai daratan dan bikin gol.

Diatas semua itu jangan lupa banyak-banyakin berdoa…hahaha…Sekali lagi, karena bukan ilmu eksak, selalu ada anomali.

Happy Parenting! Semoga kita semua berhasil…

—–

Apa pengalamanmu yang menarik dalam hal parenting?

Images : giphy.com

Iklan

8 thoughts on “Pengalaman Menemukan Aliran Parenting

  1. Lusi berkata:

    Entah ya apakah aku harus merasa bersyukur atau malah merasa kurang. Jamanku dulu tidak ada media sosial shg tidak banyak ilmu parenting yang harus aku terjemahkan dalam membesarkan anak-anak. Learning by doing saja berdasarkan masalah yang dihadapi sehari-hari. Maksimal bertanya pada dokter langganan, guru kelas, orangtua, kakak dan tetangga. Alhamdulillah semua baik dan sehat, anak2 nurut, prestasi akademik juga baik.

    Suka

  2. Sea Ma berkata:

    Betul mba Lus, jaman dulu ilmu ini belum ada. Mungkin sama seperti pengalaman pewarisan orang tua kita yang lalu-lalu (yang baik dan bisa diambil), hanya lebih ditinjau dari ilmu psikologi serta lebih mengkhususkan diri sehingga cepat update untuk bahas kasus. Alhamdulillah kalau semua baik-baik saja..faktor doa dan keberuntungan penting.

    Disukai oleh 1 orang

  3. herlinara berkata:

    saya juga…begitu kecemplung, rasanya kayak kena tsunami…. ikut kulwap ini itu, komunitas ini itu, sampe overwhelmed…oh no, i need to sit back. banyak ilmu kadang sampai pusing mana dulu yg diterapkan. makin dalem, makin banyak aliran2…ya Tuhan…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s