Aku Tidak Percaya! Itu Bukan Anakku!

 

No! Ini bukan kasus si pembicara terkenal. Tapi kasus Parents in Denial.

Jadi ceritanya aku pernah menonton serial dokumenter tentang seorang Bapak yang anak lelakinya lenyap di hutan.  Entah tersesat atau dibunuh. Ia kemudian menyewa seorang Private Investigator (PI).

Nah, si PI ini ngedumel ke pemirsa, bagaimana si Bapak ini ngintilin dia kemana-kemana. Menurut dia, yang namanya parents itu seharusnya nggak boleh ikut urusan penyelidikan. Karena cuma mengganggu  saja.

Contoh gangguan,  si PI membeberkan berbagai fakta-fakta dengan saksi bahwa anaknya yang hilang melakuan XX, XXX, dan XXXX. Orang tuanya itu bilang,

“Nggak, itu bukan anakku, kamu pasti salah!  Aku kenal BETUL anakku.”

“Yang ngomong ke kamu bohong. Orang yang nggak bener.”

Dan akhirnya fokus beralih ke latar belakang saksi, mencari kemungkinan dia bohong, dsb..

**Stop Press! Bagi yang penasaran dengan judul serial dokumenternya, semua ada di National Geographic channel, judulnya : Missing Dial

Kasus lain, lebih bisa kita temui di keseharian, seperti sekolah, tempat kursus, lingkungan tetangga.  Umumnya kasus yang terjadi adalah ada orang tua yang merasa anaknya baik, sudah dibesarkan dengan pengetahuan pengasuhan terkini. Namun kenyataannya,  di lingkungan luar anak melakukan perbuatan kurang terpuji. Akhirnya ketika kena kasus orang tua  menjadi defensif. Hal paling buruk terjadi : melempar kesalahan ke pihak korban, ortu korban, guru-guru, lembaga pendidikan, menggunakan banyak cara. Pesan yang disampaikan kurang lebih sama seperti kasus diatas:

“Kalian yang salah, itu bukan sifat anakku!”

Memang ada nasehat ala parenting, “Kalau bukan kita yang jadi tameng anak, siapa lagi”. Tapi harus lihat-lihat perkaranya juga, kali, ya. Jika sudah jelas ada rambu-rambu seperti diatas, tapi tetap bersikeras membela ini yang berbahaya.  Orang-orang di sekitar tentu niatnya ingin memberi peringatan demi menyelamatkan si anak – yang bisa saja termasuk korban juga disini. Jadi bukan perkara ramai-ramai menghakimi apakah ortunya salah didik atau nggak.

Bila kasusnya kriminalitas seperti contoh pertama, penyelidikan harus jalan terus. Orang tua mau bilang apa nggak berpengaruh ke logika berpikir penyidik. Tapi untuk kasus-kasus ringan, seperti kasus yang nomor dua, lebih tricky.  Karena opini orang tua justru bisa mengalahkan fakta yang hadir.

Rasanya kalau sudah melihat sendiri kasus-kasus seperti itu, pengin nyengir-nyengir ngenes.  Bertanya-tanya dalam hati sambil keluar keringet,

“Eh, gue nggak kayak gitu ‘kan?”

Ya, itu bisa terjadi pada siapapun. Termasuk aku juga, walaupun, amit-amit, jangan sampai. Tapi, siapa, sih, yang jamin kita semua imun? Haruskah menjadi orang tua yang berprinsip,

If I do not see it .  It’s not happening.

“Kalau aku nggak lihat. Itu nggak terjadi.”

Jika kita dapat dua kasus seperti diatas,  apa yang akan kita lakukan :  menerima dengan hati lapang atau protes? Teorinya, kalau menggunakan logika,  kita pilih yang pertama! Tapi pada prakteknya, kok, ya, selalu lebih mudah dan laris manis opsi yang terakhir, HAHAHA….

Ini disebut  kondisi “Parents in Denial.”  Karenanya kita juga perlu semacam parameter, deh!

Bagaimana cara kita mengidentifikasi apakah sedang kena kasus parents in denial ini?  Perhatikan ciri-cirinya…

1. Menghindari Topik

Keluarga atau banyak orang dekat merasa ada yang salah atau terganggu dengan anak kita. Namun kita cenderung mengabaikan dan mengalihkan topik. Atau malah mengalihkan isu…


2. Anak Ganti-ganti Kelas, Guru, atau Sekolah
Semua sudah berganti, tetapi selalu masalah sama hadir di setiap sekolah, kelas, atau guru. Selalu yang itu-itu saja.

3. Punya Gaya Parenting Helikopter
Yaitu tipikal orang tua yang selalu membantu setiap anak punya masalah, bukan mendorong anak menyelesaikan masalahnya sendiri.

4. Menolak Peran Profesional
Walaupun banyak yang sudah menganjurkan agar kita memakai bantuan profesional berikut segala tesnya, namun kita selalu keberatan dengan berbagai alasan.

Kalau kita sudah lepas dari rasa denial dan melewati proses penerimaan, yang kita perlu camkan :

1) Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri
Selalu ada banyak faktor X, keberuntungan juga dalam mendidik anak.  Sesuatu yang salah dengan diri anak, tidak selalu berarti ada yang salah juga dengan diri kita. Kadang  masalah genetika, lingkungan, dan banyak hal lain yang tidak terdeteksi.

2)  Semangati Diri Untuk Berbicara Tentang Permasalahan
Kalau awalnya kita selalu cenderung menghindari masalah, kini harus dihadapi! Ajukan pertanyaan pada diri sendiri, bagaimana jika…? Jadi kita tahu apa alasan dan hal yang membuat kita selalu melarikan diri dahulu.

3) Bekerjasama Dengan Orang Tua Lain
Sehingga bila ada informasi penting yang berhubungan dengan anak, kita bisa mendapatkan laporan. Semua dalam rangka mencari solusi, ya. Bukan saat kita masih fase denial dan malah ngajakin perang.

4) Minta Bantuan Profesional
Nggak perlu malu, justru lebih bagus bila ketahuan sebelum hal yang lebih fatal terjadi. Bukan berarti akan merusak si anak, justru lebih meningkatkan kualitas hidupnya.

5) Luangkan Waktu Bersama Anak
Bicara dari hati ke hati. Mulailah dengan minta maaf atas sikap abai kita selama ini. Apalagi bila menghadapi anak yang sudah cukup umur. Semua dilakukan untuk memperlancar komunikasi dan membangun ikatan.

6) Bersyukur-bersyukur
Tanamkan berulang kali, kita itu sebetulnya termasuk beruntung karena masih diberi kesempatan memperbaiki apa yang kurang benar dari anak kita di dunia. Kalau nggak sempat, pasti orang lain yang melakukannya. Dan caranya nggak selalu manis.

7) Banyak Bercermin Ketimbang Menunjukkan Jari
Apa selama ini di keseharian dan di rumah yang kita katakan sama dengan yang kita contohkan? Terutama di hadapan anak.  Karena ada pepatah, monkey see, monkey do. Ini perlu diamati untuk menemukan pangkal permasalahan.  Seringkali ada hal-hal kecil namun krusial luput kita perhatikan.

Bagaimana trik kita menghadapi Denial Parents, yang perilaku anaknya berpotensi merusak atau mempengaruhi anak-anak kita, bahkan anak kita pernah jadi korban?

Khusus di Indonesia…

1) Biarkan Sekolah/Ahli Ikut Menangani Perkara
Jangan pernah berhadapan langsung dengan orang tua anak bermasalah.  Biarkan pihak lain yang menjadi perantara. Kecuali bila sama-sama sudah sepakat pada pangkal permasalahannya dan ingin bekerja sama mencari solusi. Bila rumus ini dilanggar,  yang bisa terjadi : Perang Dunia Ketiga. Buang-buang waktu dan energi saja. Dan masalahnya malah nggak selesai-selesai.

2) Jangan Hadirkan Anak Bermasalah Berbarengan Dengan Orang Tuanya
Bila sedang berdiskusi, anak yang bermasalah jangan dihadirkan bersamaan dengan orang tuanya. Usahakan terpisah. Secara insting, tidak ada orang tua yang mau anaknya malu, sehingga mereka akan jadi lebih defensif. Demikian juga efeknya bagi si anak tersebut akan kurang bagus.

3) Siapkan Bukti-bukti dan Saksi
Ini sudah jelas, untuk membuka mata akan adanya permasalahan. Terutama dalam bentuk catatan atau hal lain yang diijinkan secara legal


4) Tetap Berkepala Dingin dan Berusaha Obyektif
Orang tua yang denial biasanya juga mengalami tekanan. Mungkin ada banyak masalah lain di keluarga mereka yang tidak kita ketahui. Apapun yang dikemukakan, kita harus tetap tenang dan tidak ikut terbawa arus emosi.  Tetap berpegang pada bukti. Itu perlu, karena kadang banyak kasus dimana lebih galak orang tua anak bermasalah daripada orang tua korban, bahkan guru-guru!

Anak yang cerdas dan pintar, tapi attitudenya tidak baik, dikhawatirkan tumbuh menjadi manusia yang menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan tindak kriminalitas dan korupsi.  Tentunya, sekali lagi, amit-amit, kita nggak mau itu terjadi, ya. Besar pertanggung-jawaban di alam sananya!

Tugas kita yang utama adalah menyiapkan anak untuk menghadapi dunia nyata serta menjadi manusia yang bisa diterima oleh masyarakat. Hal-hal yang bisa jadi masukan wajib diperhatikan bukan dipentalkan. Sorry. Nothing personal. Itu bukan tentang diri kita. Itu tentang seorang anak.

Bagi orang tua yang anaknya tengah bermasalah, jangan terpuruk, tetaplah semangat dan menyayangi anak, ini adalah sentilan dan ujian yang harus kita atasi.  Bagi orang tua korban, kalian tidak sendirian. Kasus Denial Parents terjadi di banyak belahan dunia. Jadikan peristiwa itu pelajaran bagi anak menghadapi sifat dan ragam manusia, berani melawan apa yang salah. Bila sudah sampai kasus mengancam keselamatan dan psikis anak, jangan ragu lapor.

Selamat berjuang!

Apakah kamu pernah mengalami masa menjadi Parents in Denial, atau harus menghadapi Parents in Denial?

Sumber : cathytaughinbaugh.com, popsugar.com, oureverydaylife.com, caring.com
Gambar : freeimages.com, giphy.com, ethicsalarms.com, dontbethatparent.net, knowyourmeme.com

Iklan

16 thoughts on “Aku Tidak Percaya! Itu Bukan Anakku!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s