Belajar Fokus (Membangun Kenangan)

Fokus. Sebetulnya ini bukan tema untuk anak-anak saja tapi juga mak-bapaknya. Hihihi…

Ingat nggak apa kata-kata ketika besar nanti kamu ingin jadi apa?

Jawabnya macam-macam dan lucu-lucu. Ada yang kepengin jadi pilot, masinis, dokter…..menteri (!)

Tapi yang paling mengharukan adalah ketika ada anak-anak yang menjawab,

” Aku kepengin jadi bapak (atau ibu).”

Maksudnya bukan sebagai bapak atau ibu yang bekerja di bidang tertentu ya. Misalnya bapak yang jadi insinyur atau ibu yang jadi dokter. Tapi benar-benar bapak dan ibu dalam arti harfiah, literally.

Dulu sebagai anak kecil dan anak muda mungkin tidak begitu paham. Ih itu bukan cita-cita. Itu akan terjadi dengan sendirinya kok.

Setelah jadi parent aku memahami arti berlapis-lapis dari perkataan lugu polos sang anak-anak. Bagaimana orang tua mereka sudah berhasil menanamkan kasih sayang sedemikian rupa, membangun kenangan yang manis dan menyenangkan, sehingga menganggap jadi ayah atau ibu adalah “the best and the most exciting job in the world!”

Dan aku bisa langsung membayangkan betapa asyiknya rumah dan serunya ortu yang dimiliki anak-anak itu.

Karena anak tengah membangun kenangan. Memori. Dan ingatan yang membahagiakan biasanya menjadi sesuatu yang dicita-citakan dan menguatkan dalam hidup mereka. Apalagi kalau melihat orang tuanya sangat menikmati peran tersebut. Monkey see monkey do.

Adalah hal lumrah dan wajar bila ortu saat hanya di rumah atau (saat) tidak bekerja  -ini berlaku bagi ayah atau ibu biar adil-akan ada kejenuhan dan keinginan untuk melakukan me-time lebih buaanyak *itu-sih-aku-hahaha*. Pelampiasannya bisa banyak hal seperti hobi, dagang online, aktivitas sosial dsb.

Bikin penelitian, seberapa besar ya me-time ini meliputi keseharianku ketika anak-anak itu sedang membangun memori?

Kadang aku menemukan alasan-alasan yang memang keren khas mom-wants-me-time-so-badly.

“Eng, ini lagi belajar ina-inu biar bisa ngajarin anak…”

“Buat tabungan anak nanti…”

“Pulang dari sana bawa banyak oleh-oleh nanti buat anak.”—) ini mah nyogok abis. Jangan tiru yah! Aku juga sudah inshaf.

Sampai akhirnya mereka minta aku menghentikan semua pelarian itu. Mungkin taktik licik ini udah ketauan kali yah. Wkwkwk Anak manusia memang cerdas.

Apakah tampak kewl bila aku dikenang sebaga busy body mom?  Entah kemana lagi ngerjain apa. Pokoknya lagi sibuk ajah! Eksis!

Mulai usia 7-8 tahun, kata para ahli (dikoreksi ya kalau salah), anak mulai melihat benar-benar perilaku orang tua mendidik mereka…..

….dan nanti akan mewariskan caranya ke anak-cucu! *keluar keringet dingin*

Kebayang kalau semua generasiku kelak, di usia sepertiku, pada jadi busy body juga, lupa fokus gara-gara ngeliat contoh nenek moyang hiperaktif yang onoh.

Jyaah!!

Membangun memori adalah pekerjaan parents yang sesungguhnya. Sayang kita suka mudah jenuh atau lupa konsentrasi disana.

Aku kembali teringat masalah cita-cita. Ortu biasa bilang  kamu kelak harus jadi orang sukses, dapat kerjaan bagus. Soal jadi ayah atau ibu sukses….kalau syukur2 ada- itu urutan no.2 kali ya.

Makanya ketika jadi ayah atau ibu beneran banyak diantara kita termasuk diriku suka kelabakan. Nyari manual. Ini caranya bagaimana. Berapa sks. ..

Nggak ada upahnya juga.

Karena tidak disiapkan mental spirit menjadi ortu, lebih dari target hidup yang lain, akhirnya kita suka merasa tidak sanggup fokus dan butuh lari ke me-time-dalam-jumlah yang-benar-benar-minta-dijitak...*ouch*

Manusiawi.

Aku melihat kasus ortu-ortu di luar yang fokus dan difasilitasi untuk fokus. Contohnya negara-negara Baltik dimana para ortu bekerjanya saat punya bayi bisa dapat cuti puanjang dan ibunya bisa bertukar tempat dengan bapak bila sudah jenuh.

Saking pentingnya masa kecil.

Tapi yang paling menginspirasi adalah Jepang. Ibu-ibunya yang masih tradisional, bila sudah punya anak, benar-benar fokus ke anak.,

Aku pernah membaca kisah dimana saat para guru di sekolah Jepang menyanggah saat dipuji karena memiliki murid-murid disiplin dan bertanggung jawab.

No, itu bukan didikan kami, tapi ibu-ibu mereka.

Alias sudah dari sononya sekolah sudah dapat template yang begitu dan tinggal melanjutkan. Artinya tugas mendidik tidak selalu dilempar begitu saja ke sekolah. Makanya bangsa Jepang maju kali ya?

Ingin dikenang sebagai orang tua seperti apa kita?

Anak seperti apa yang ingin kita hasilkan?

Aku sekarang mulai tahu. Kayaknya senang ya punya anak yang suatu saat bisa berkata dengat tatapan sumringah tentang salah satu impiannya.

“Aku ingin jadi ayah”

“Aku ingin jadi ibu”

Kesimpulan sampai saat ini, cara mendapatkan semua memang nggak ada jalan lain,  harus banyak fokus berperan sebagai ayah dan sebagai ibu. Bukan ibu gadget dan ayah TV (lol) dan sederetan embel-embel lain di dunia luar, yang terkadang jauh lebih menyita waktu.

Sebab berdasar pengalaman pribadi, aku sendiri mulai meragukan istilah hype parenting kualitas lebih penting dari kuantitas (kalau ada yang masih percaya, tolong yakinkan daku).

Karena di jaman sekarang, mencari momen berkualitas diantara banyak momen-momen lain yang mempengaruhi anak dalam kesehariannya sudah ehm, cukup sulit (kecuali anaknya nggak boleh gaul harus dirumah terus sampai gede kali ya).  Apalagi bila jumlah momen kebersamaan bersama keluarga lebih sedikit.

Metaforanya, bila warna merah dalam sebuah lukisan lebih banyak, bagaimana seseorang bisa mengingat bahwa setetes warna biru-walau sedemikian bagus- pernah ada?

Kecuali dalam kondisi trauma dan sangat spesial. Ya mungkin bisa…Tapi aku, sih, nggak ingin yang seperti itu terjadi.

Seorang ahli pernah bilang, kita (terutama cewek, sih ini) mentang-mentang multi tasking, suka berakhir jadi kebanyakan peran! Hasilnya tidak ada yang optimal, kalaupun ada, tentu karena salah satu lebih dikorbankan dari yang lain. Setidaknya itu pengalaman dan pengamatanku yah.

Dan seringkali aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Sebuah pertanyaan tipikal seorang yang tengah menjalani perannya sebagai ayah atau ibu.

Mau punya anak fokus mengerjakan tugas yang ada di hadapan mata? Anak yang benar-benar bisa menikmati perannya sebagai orang tua?

Cermin itu pun berbalik.

Ehm. Hm. Kitanya sudah bisa belum?

———

Ingin dikenang sebagai orang tua seperti apa kita?

Anak seperti apa yang ingin kita hasilkan?

Iklan

4 thoughts on “Belajar Fokus (Membangun Kenangan)

  1. Lusi berkata:

    Tantangan sbg ortu & netizen yg aku rasakan adalah cakrawala yg terlalu luas. Wawasan yang luas itu bagus tapi cakrawala harus dibatasi di titik mana yg kita tuju. Kalau nggak, seharian sibuk scroll semua yg kita anggap penting sbg modal mendidik anak, tanpa bisa menyarikan apalagi mempraktekkan. Aku butuh waktu yg sangat lama untuk benar-benar fokus memfasilitasi & mengikuti kapasitas & kompetensi anakku tanpa panik melihat hingar bingar teori & pengalaman parenting orang lain yg tersebar di dunia maya. Meski kadang masih kepikiran share orang lain tapi seenggaknya sdh yakin banget tiap anak punya takdir masing2 & aku gak mau dikenang sebagai pembelok apalagi penghalang takdir mereka.

    Disukai oleh 1 orang

    • Sea Ma berkata:

      Betul sekali. Terlalu banyak informasi jadi perlu ambil yang perlu saja. Setiap anak punya takdir sendiri setuju mba. Hanya sepertinya jarang ya aku bertemu dg orang tua yang memvisikan anaknya untuk tidak menikah atau memiliki anak (alias jadi suami/istri dan ayah/ibu).. Kalau di negara barat mungkin ada kemungkinan itu karena masyarakatnya lebih terbuka pada berbagai opsi, dengan resiko msg2 yg akhirnya ditanggung oleh pemerintah.

      Suka

  2. Arman berkata:

    setuju… (kok komen gua setuju mulu ya :P). emang harus banget fokus sama anak.
    jadi ibu/ayah gadget/tv itu boleh (penting kan buat me time) tapi harus liat2 waktunya. kalo anak2 udah tidur ya why not… biar gak kudet kan ya. hahaha.

    Disukai oleh 1 orang

    • Seaマ berkata:

      Hahaha ga setuju jg gpp ko mas Arman, malah menarik melihat point of view msg2….Iya kalau anak-anak lagi melek juga gak apa-apa asal bilang dulu “maaf ini ada telpon penting kalian main dulu ya.”. jadi beda pesannya dibanding perhatiannya tau2 di cut. Asal jgn keterusan sih ya wkwkwk….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s