Fandom dan Parenting

1502115547474.jpg

Topik parenting kemarin lagi ramai. Gara-gara para fans grup musik yang membully salah satu pakar parenting karena kesalahan info dan diksi. Padahal yang bersangkutan sudah minta maaf.

Bisa dicari kronologi ceritanya di internet. Tapi saranku, jangan baca dari media. Amati sendiri dari sisa-sisa percakapan yang ada #kode

Bila melihat cara mereka (fandom grup musik itu) ngebully, memang ngeri. Lepas dari apakah itu semua akun asli atau palsu, tapi cukup banyak bahasa yang mengherankan level kepantasannya. Sampai ada ortu, yang saking mangkel, ngomong (kurang lebih gini) : kalau salah satu dari mereka anakku sudah aku jungkir-balikkan sampai otaknya turun dan berfungsi. Whiiiy *gemetaran*

Sebagai ortu yang sering ikut acara parenting sana-sini, aku kebetulan belajar juga dari pakar tersebut. Dan dari segala pertemuan aku cuma bisa bilang, beliau memang beneran orang baik. Perhatiannya besar sama anak-anak. Semua yang disampaikan selalu masuk akal. Mereka yang menduga macam-macam, ya cuma karena nggak pernah melihat sendiri dan paham saja.

Aku juga harus obyektif. Memang kadang gaya bahasanya suka bikin kita merasa tergampar-gampar (tapi ada lho yang menikmati digampar. Bahkan sampai ikut kesana-sini). Kata-kata yang meluncur terdengar bernada sangat keras, pedas. Lebih ke protes yang  ditujukan ke pemerintah, sih. Bisa dimaklumi. Nggak gampang perjuangan mencolek-colek banyak pihak pada bahaya laten internet+p0rn serta isu-isu sejenis.

Analoginya, sudah berusaha bikin jalan, bagus, lurus, tambal kerusakan sana-sini, tapi kemudian meluncur truk gede tanpa pengumuman,  jalan kembali rusak dan bolong-bolong. Hal-hal yang membuat semua jadi sia-sia atau mentah lagi.  Sebetulnya itu bisa terjadi di era manapun, Karena kita akan selalu berhadapan dengan manusia yang punya beragam kepentingan dan tingkat kepedulian. Apalagi hidup dijaman internet begini.

Sayangnya netizen itu juga suka berkesimpulan macam-macam.  Dan kejadian terakhir jadi semacam bukti nyata betapa sulitnya berdialog dengan remaja (kalau betulan remaja, lho, masa sih ada emak-emak penggemar juga ikut mengamankan posisi??).

Berkhayal dikit. Kalau kita jadi ortu, dan anak kita penggemar fandom yang suka mati-matian membela pujaan, apa enggak pusing ya? Ngadepin anak remaja yang hormonnya bergejolak berkali-lipat kali orang dewasa saja sudah serasa ngadepin Thor (ini filmnya mau main kan). Jadi kita yang suka cari aman, ya diturutin aja. Permisif. Dibikin senang,  supaya mereka demen dan nurut ajakan. Sehingga kondisi masa remaja sering jatuh dimanfaatkan oleh banyak pihak. Padahal bukan hal bijak. Ini yang harus memegang posisi jadi orang tua yang mana coba? #duh.

Yang diatas ini salah satu buah usahanya. Kalau ingat slide yang ditunjukin pakar tersebut dan cerita kasus-kasus kecanduan yang pernah ditangani, sebagian besar menimpa remaja imut-imut, buhh, ngeri.

Makanya kadang aku suka banyakan absen di grup-grup parenting *jangan dicontoh wkwk*  Buat narik nafas. Menenangkan diri. Karena suka jadi parno, ngebayangin sekitar kita banyak predator tidak terdeteksi. Berikut trend-trend nyelenyeh yang bikin ortu langsung pucet kepengin muntah. Tapi kalau semua adalah data dan fakta yang terjadi di Indonesia, mau diapain?

Ya, itu tetap kenyataan yang memang harus kita renungkan. Dan enggak boleh lupa. Apalagi lalai. Paling penting nyelamatin keluarga sendiri dulu, deh. Biarin aja anak orang lain. Soalnya kalau disampaikan pada yang belum ngerti-ngerti banget atau belum dapat pemahaman, daya tolaknya terkadang luar biasa. Malah jadi buang-buang energi.

Hm, bagaimana ya, rasanya di bully oleh anak-anak yang ingin kita selamatkan mati-matian? Ada netizen bapak-bapak yang bilang, mereka itulah para Malin Kundang masa kini *whiiy lagi*

Aku ngeliatnya, ya itu, karena mereka nggak mengerti aja efek sampingnya. Kita juga nggak tahu bagaimana pola asuh yang diajarkan di keluarga. Mereka kena sindrom BLAST (Bored, Lonely, Angry, Afraid, Stress, and Tired) atau tidak. Kenyataan, banyak yang suka emoh kalau berhadapan dengan remaja, apalagi yang terjerat fandom. Menghindar. Malas konflik. Begitulah orang dewasa.  Aku juga punya kecenderungan begitu, kok (kalau anak orang lain yah).  Paling hanya berusaha keras memahami, bahwa rata-rata remaja, yang jatuh ke jurang pemujaan, melakukan itu sebagai kompensasi atas sesuatu yang kurang dari hidup mereka di dunia nyata. Tapi mereka kan sudah dewasa, ya? Mulai harus belajar hidup dengan konsekuensi.

Ya, sudah, let them be. Yang penting’kan udah dibilangin. Sisanya biarkan saja semua pihak belajar sendiri dari kerasnya kehidupan. Kan itu pilihan mereka. Padahal pelajaran yang diberikan oleh hidup itu seringkali lebih pait, Jendral.

Dari kasus seperti ini aku juga belajar, bagaimana kita sering mengabaikan sebuah esensi penting yang justru sebetulnya ingin disampaikan seseorang. Karena terlalu tenggelam dalam prasangka. Apakah yang ini baik? Apakah yang itu buruk? Suara-suara yang terlalu banyak hadir di dunia maya seringkali memiliki andil besar juga dalam mengaburkan kita pada apa yang sedang menjadi isu kritis.

Semoga kesehatan jiwa dan keselamatan banyak anak remaja masih bisa dipertahankan. Paling enggak anak remaja kita sendirilah.

Bagaimana menurutmu, apakah sudah pernah berurusan dengan remaja yang sulit?

Gambar : freeimages.com

Iklan

4 thoughts on “Fandom dan Parenting

  1. ndu.t.yke berkata:

    Emak2 jg ada yg nyinyirin si ibu itu eh pas twitwar nya sedang berlangsung. Giliran si ibu udah minta maaf eh trs emak-emak yg td myinyir kok kayak diem aja nih? Moga2 pada malu jg ya dalam hatinya

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s