Banyak Anak, Banyak…?

Kemarin baca artikel tentang keluarga kerajaan Inggris. Siapa lagi kalau bukan  Pangeran William dan Kate Middleton.
Jadi ceritanya nih si Kate ini kan lagi hamil anak ketiga. Ternyata di Inggris sana ada saja yang ribut.

Misalnya, para pendukung family planning. Jauh hari sebelum kabar kehamilan ini,  mereka sudah minta pasangan keluarga kerajaan ini untuk menjadi contoh bagi yang lain, yaitu dengan membatasi jumlah anak. Dengan kehamilan ini mereka jadi kecewa. Mereka bukan penganut istilah seperti di Indonesia sini kali ya…banyak anak, banyak rejeki….

Kemudian kritik dari pengamat lain, entah hater atau rakyat yang memang suka grumpy dengan sistem kerajaan. Ini agak kejam sih, komennya. Bunyi sarkasnya kurang lebih gini :

“Oh. Great, tambah satu orang anak lagi yang tidak perlu kerja seumur hidupnya dan hidupnya akan dibiayai oleh pajak rakyat.”

Balik ke Indonesia. Kadang urusan punya anak berapa,  orang lain suka jadi jauh lebih concern.  Dalam artian postif dan negatif. Yang mungkin dianggap negatif, lihat saja deretan pertanyaan “Kapan nambah” dalam setiap pertemuan keluarga. Bahkan merambah ke dunia maya. Sebagai contoh kasus di sebuah grup.

“Kita tidak tahu anak mana yang akan menyeret kita ke surga!” Sergah seorang ibu yang pro punya banyak anak dengan alasan yang…ehm, syari.

“Dan…… kita tidak tahu anak mana yang akan menyeret kita ke neraka.” celetuk seorang ibu lain. Enteng.

Menurutnya, punya satu atau dua anak asal fokus diasah betul-betul sampai kinclong dan bagus kayak permata maka hasil syari-nya akan jauh lebih bagus daripada banyak anak tapi akhirnya tidak bisa “kepegang”.

Aku mengingat-ingat concern dari orang lain yang sifatnya malah positif.

Ada kasus di desa dimana ada sebuah keluarga yang terlalu produktif. Ibunya selalu hamil lagi. Padahal bapaknya pengangguran. Anak-anaknya dibiarkan berkeliaran dimana-mana, nggak keurus. Akhirnya harus dibantu oleh para tetangga. Tapi tetap saja anaknya bertambah lagi. Didesak keluhan warga sekitar, Pak RT spesial datang mendatangi mereka minta supaya keluarga itu ber-KB saja. Hasilnya, ditolak. Sampai kalau didatangi lagi bisa kabur-kaburan begitu, main petak umpet. Dan drama produktivitas anak manusia masih berlanjut.

Kalau dibandingkan dengan itu Kate Middleton sebetulnya sama sekali nggak punya masalah kan ya?  Lha pasti anaknya keurus, karena anak dari calon Ratu. Nanny segambreng bisa dihadirkan, berikut fasilitas juga tersedia. Palingan yang sebel rakyat yang sejenis diatas tadi.

Mau punya anak berapa sebetulnya terserah masing-masing keluarga. Kesepakatan. Seperti pasangan seleb Raisa dan Hamish Daud kemarin. Ceweknya pengin dua cowoknya pengin empat #eh

 

 

Yang perlu diperhatikan kesanggupan orang yang akan mengasuh anak-anak itu. Ok. Setiap anak pasti bawa rejeki sendiri-sendiri.  Tapi yang ngasuh kan biasanya nggak banyak (kecuali Princess)? Dia siap nggak dengan kondisi yang mirip turbulensi selama beberapa tahun?

Tantangan di jaman ini juga jauuuh lebih banyak dari jaman nenek kita dahulu.Apalagi kasusnya di Indonesia tugas pengasuhan lebih banyak “diserahkan” kepada kaum wanitanya alias istri.

Dan dari sana saja aku sudah sering melihat  banyak kasus. Termasuk yang di share atau yang dihadirkan didepan mata.

Bayangin, sejak hamil saja seorang ibu juga sebetulnya harus menghindari stress. Kalau anak-anak lain masih kecil-kecil dan dia harus mengurus seorang diri mau lari kemana coba ketenangan emosinya.

Oh. Nggak masalah,  sudah siap mental. Siap sabar. Oklah kalau begitu. Nah. Kita punya banyak planning dan rencana. Tapi setelah melahirkan biasanya planning-planning itu suka ada yang meleset. Sementara kita awalnya merasa bisa jadi manusia super. Padahal pada kenyataannya, yang harus kita, kaum perempuan hadapi, selain kelelahan fisik juga kelelahan psikis. Belum termasuk pertempuran dengan anjloknya hormon-hormon setelah bayi lahir.  Belum lagi perkara drama menyusui. Makin kuadrat dengan kelakuan kakak-kakak si bayi yang (biasanya, sih) jadi caper.

aca58515142ce1177721cbf02797a363

Akhirnya yang sering terjadi adalah ibu tidak siap, kelelahan dengan segala tugas-tugas. Bila tidak ada support system yang memadai kondisi ini bisa jatuh ke arah ekstrim seperti baby blues.

Seseorang ahli pernah bercerita, ketika mendengar kabar seorang ibu di kampungnya kena baby blues, dia langsung mendatangi……..suaminya. Biasanya, para suami ini, nggak punya gambaran sama sekali tentang apa yang dihadapi istrinya. Dibilanginlah, “Mas itu istrinya kondisinya blablabla…dia sudah nggak sanggup.” Berbagi tugas dengan istri itu wajib kalau mau istrinya cepat sembuh.

Jika semua itu nggak kepegang, akhirnya dampaknya bisa kemana-mana. Bagi ibunya. Bagi anaknya. Bahkan sampai anak itu dewasa. Apalagi kaum wanita kebanyakan memilih diam dan (mencoba) pasrah. Padahal itu ibarat membawa bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak! Ada ibu yang sampai menggampar anaknya yang masih kecil saking sudah emosi. Ada yang melempar pakai kursi. Yang melakukan banyak kesalahan sampai anak terluka entah secara fisik atau psikis. Bahkan pembunuhan. Bila tidak dilakukan terapi, konseling, bukan tidak mungkin pernikahan bisa berakhir dengan perceraian.

Dan yang paling sederhana sehingga diremehkan diantara semuanya adalah…. kasus pengabaian.

Anak yang mengalami pengabaian, kekerasan, atau hal-hal traumatik entah bagaimana masa depannya.

Mungkin seperti kata si ibu di atas,

“Kita tidak pernah tahu anak mana yang akan menyeret kita ke neraka.”

Ya bisa karena kitanya sendiri yang akhirnya berbuat dosa. Atau si anak nanti di masa depan melakukan hal sama, sebagaimana dia dulu diperlakukan oleh ibunya.

Nah kalau sudah begini kan jadi serba repot.

Jadi kembali ke laptop, semua bukan karena alasan yang mirip para pengkritisi Kate Middleton. Menurutku, silahkan saja kalau mau banyak anak atau sedikit anak. Urusan masing-masing, selama hasilnya tidak membebani masyarakat sekitar, seperti contoh kasus diatas.  Karena menambah anak perlu memastikan support systemnya mendukung. Dalam hal ini terutama dari suami juga keluarga.

Lalu kondisi mental dan kesanggupan dari ibunya juga bagaimana? Kalau nggak sanggup, harusnya ya tinggal bilang saja nggak. Kan kita, perempuan,  yang akhirnya harus ngejalanin, mulai dari mengandung sampai segenap printilannya.  Betul?

Soal opsi menyerahkan kepada Nanny atau Day Care itu soal lain lagi, ya. Hubungannya dengan bonding. Itu nanti mungkin ada lagi cerita-ceritanya sendiri, biar nggak kepanjangan.

Banyak anak, banyak rejeki…

Banyak anak, banyak support system…

Kamu sendiri bagaimana?

Image : wikipedia.org, tribunnews.com, pinterest.com

 

 

 

 

Iklan

10 thoughts on “Banyak Anak, Banyak…?

  1. denaldd berkata:

    Banyak anak banyak biaya. Saya bukan penganut setiap anak bawa masing2 rejeki, saya lebih ke realistis bahwa setiap anak bawa masing2 pengeluaran. Dan orangtua harus sangat matang merencanakan masalah biaya anak. Tentu saja biaya hidup adalah salah satu variabel yang harus dipikirkan, meskipun sudah ada fasilitas dari negara untuk beberapa hal yg gratis, sekolah misalnya (negara ini mengacu pada tempat di mana saya tinggal sekarang yaitu Belanda). Tapi harus diingat bahwa namanya biaya hidup bukan hanya tentang sekolah, banyak sekali sub variabelnya. Misalkan biaya untuk penitipan anak jika bapak Ibunya kerja (ga mungkin dititip ke saudara), biaya liburan dll. Buat saya, sebelum memutuskan untuk punya anak, layaknya seperti akan kuliah, saya perlu mempelajari “silabus” nya dulu. Saya perlu tahu setidaknya untuk apa sih sebenarnya punya anak itu, kalau sudah ada anak mau diapain anak ini, dan kalau misalkan mau nambah anak gunanya apa dll (pertanyaan bisa di break down sampai hal2 terkecil). Dan hal tersebut sangat perlu ditunjang dengan pemberdayaan diri yang sangat cukup, ilmu yg terus menerus digali. Memutuskan hamil dan punya anak karena kesadaran diri sendiri dan sudah benar2 siap, bukan karena tuntutan masyarakat atau hanya pada taraf kebanggaan karena punya anak. Hal tersebut juga bisa menghindarkan diri dari war war yg ada. Setidaknya kalau bekal ilmu cukup dan tidak cukup puas dengan informasi yang ada dan PD dengan apa yg diputuskan serta dijalankan, tidak akan terjebak dengan segala macam war.

    Disukai oleh 1 orang

    • Seaマ berkata:

      Betul anak itu biaya…mknya penghasilan juga bagian dari support system…Sayangnya tdk semua orang bisa berpikir teliti spt mba…itu sangat bagus..😀😀 Tapi kalau untuk sekelas Kate Middleton jelas bkn masalah ya 😉

      Suka

  2. imeldasutarno berkata:

    keliatannya kita perlu berguru pada Gen Halilintar. Masih amazing itu gimana ya emaknya bisa mengelola emosi padahal melahirkan anak terus menerus sampe sebelas orang? Keren gak kena baby blues dll hehe…. 🙂

    Suka

    • Seaマ berkata:

      Haha iya itu anaknya bnyk bgt. Luar biasa ibunya. Tp memang kita bisa tahu ya bagaimana sebenarnya yg tjd di dalam kehidupan sehari2? Kan tdk mungkin ya…kecuali lama tinggal seatap.. Menurutku sih ya…bolong2 pengasuhan anak bnyk baru bisa diketahui setelah generasi kedua memiliki anak….spt jaman2 dulu.

      Disukai oleh 2 orang

  3. imeldasutarno berkata:

    mamasea, ada pernah aku baca sebuah blog yang nulis ibu2 anaknya 6 orang, dan ibunya ini sukses ngeblog (menang lomba di mana-mana). Ini juga amazing bagaimana ia bisa me-manage waktunya menghadapi 6 anak+nulis blog yg butuh riset mendalam sampe menang lomba blog+homeschooling untuk semua anaknya….. Kereeen…
    Eh ini nyambung gak ya sama topik tulisanmu mbak? hehe

    Disukai oleh 1 orang

  4. Arman berkata:

    iya setuju… mau banyak atau sedikit anak ya terserah masing2 ya yang penting kalo emang memutuskan punya anak ya harus udah punya rencana dan kesiapan mental/finansial. miris banget kalo sama orang yang asal2 punya anak trus anaknya ditelantarkan… 😦

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s