Tujuan Berkeluarga

1505522216886Seekor anak itik menetas dari sebuah telur. Tampaknya induk bebek salah eram telur.  Si anak itik dikelilingi oleh anak-anak induk bebek. Merasa tidak diterima lingkungan, anak itik pergi. Sepanjang perjalanan mencari identitas dia bertemu dengan berbagai makhluk. Tapi dia tetap nggak ngerti dia itu apa. Hingga akhirnya setelah jadi dewasa dia sadar bahwa dia adalah seekor angsa. Cantik. Bisa terbang lagi.

Begitulah dongeng Ugly Duckling Duck alias si Itik Buruk Rupa karya HC Andersen.

Ini membuatku berpikir-pikir. Apa yang terjadi bila di awal cerita dia sudah keburu tahu dirinya adalah  seekor angsa?

Ketika punya anak, seperti itu adalah pertama kalinya kaum wanita sadar, bahwa mereka telah menetas di dunia baru. Sudah selesai masa-masa hamil. Sekarang semua mencari manual. Mengingat-ingat segala nasehat.

Karena sudah jaman internet segala hal bisa lebih gampang. Juga lebih kompleks. Kebanyakan informasi. Dan semakin membingungkan ketika banyak kubu-kubu diantara kita para wanita. Stop.Ini nggak nyinggung siapa-siapa lho, ya. Hanya menyajikan fakta. Kalau memang ada mau diapain kan nggak mungkin diumpetin juga hihihi.

Ibu bekerja. Ibu di rumah. Ibu bekerja di rumah. Pro ASI. Yang Pro ASI juga terbagi lagi yang pompa dan pelekatan. Baby lead weaning dan weaning ala tradisional. Parenting Helikopter dan  Parenting Macan. Dan sebagainya.

tumblr_m1vknqkfDX1qeyt27o1_500

Tuing…..tuing……

Kadang bingung juga, sampai garuk-garuk kepala pakai kaki, kenapa, sih, kita ini ibu-ibu rasanya jadi paling belibet sendiri ya, soal beginian. Hahaha. Padahal  bapak-bapaknya tenang-tenang saja. Nggak ada klub Bapak Macan dan Bapak Helikopter, misalnya. Mungkin ada tapi ya relatif nggak sebanyak yang ibu-ibu.

Nggak menyamaratakan. Ini cuma kasus yang seringkali kutemui saja dalam pergaulan. Semakin muda ibu-ibu, semakin mudah dan fleksibel pada pengaruh, lalu bisa jadi ehm terlalu bersemangat. Sementara ibu-ibu berumur matang, melenggang kangkung saja, sudah sibuk dengan urusan lain, atau biasa-biasa tanggapannya.. Kalaupun setuju tentang suatu perkara, setelah banyaaak pertimbangan.

Semua ada keuntungan dan kerugiannya sendiri-sendiri.

Aku sepertinya ngalamin kasus pertama sih, ngakunya disini gitu….. karena masih muda *dilempar bakiak*

Kembali aku mengingat dongeng si Itik Buruk Rupa. Sepertinya itu memang proses dan ada tahapannya.

Mungkin nggak kita jadi mudah terpengaruh apa kata yang lain, karena kita nggak tahu diri kita itu siapa dan mau kemana? Alias dalam membangun keluarga kita nggak punya tujuan. Ngaruh banget ternyata. Karena efeknya si itik jadi merasa jelek, nggak punya pride. Low self-esteem.

Kondisi low self-esteem menyebabkan kita jadi sensitif.  Orang lain ngomong apa saja merasa kesenggol. Belum lagi karena masih lekat di masyarakat bahwa bagian mendidik anak porsinya lebih banyak kepada kaum hawa. Sebagian besar concern dan pride kita ada disana. Setidaknya porsinya lebih dibanding kaum adam yang memfokuskan harga dirinya pada pekerjaan dan pencarian nafkah.

Setelah kupikir-pikir. Iya juga sih, ya. Dulu ketika masih ada di tengah lautan penuh ombak pengaruh, miring sana-miring sini. Sepertinya karena aku belum membuat PR itu : punya tujuan. Apa tujuan aku berkeluarga? Dhieeeeeengggg…..nah lho apa ya?

Ketika ada opini dan pengaruh, hey ini jaman XXX lho. Kita harus XXXX. Untuk belok, aku perlu mikir-mikir, kalau XXXX nanti efeknya ke keluarga AAA. Kira-kira itu akan mendekatkan atau menjauhkan aku dari tujuan? Kalau hasilnya malah ngejauhin buat apa juga dilakonin’kan ya. Orang lain sih terserah. Mungkin mereka punya tujuan sendiri (kalau punya). Yang gawat kan kalau ikut-ikutan.

Apalagi kalau sudah saing-saingan. Itu kadang menambah ruwet. Dunia itu sarat persaingan, aku paham. Tapi setiap orang diciptakan dengan bakat dan kelebihan masing-masing. Juga soal rejeki dan nilai kehidupan. Tapi ini sifatnya sudah spirituil sih, ya. Berat.

Tujuan berkeluarga tiap orang tentu beda. Ada yang tujuannya bisa masuk surga. Ada yang bisa berperan dalam masyarakat. Bahkan ada yang ingin terkenal dan keliling dunia. Semua sifatnya pribadi. Tentu akan lebih mudah kalau realistis.

Setelah tujuan keluarga aku paku di kayu, efeknya bagiku jauh lebih jelas. Walaupun aku belum merasa jadi angsa cantik (ngeliat tangan belum ada sayap), setidaknya bukan itik buruk rupa lagilah. Yaaa…mungkin semacam spesies baru diantaranya.. Hahaha.

Semoga itu bisa bikin aku jadi lebih respek pada keputusan orang lain juga.

Bahkan jika itu sesuatu, yang menurutku, bisa membawa dampak ke sekitarnya.

Kalau dulu bisa sampai panjang ngedumel, sekarang lebih milih cari solusi tanpa berisik, untuk diri sendiri, jika sesuatu yang dikhawatirkan itu terjadi. Membatasi diri untuk STOP saat melampui batas, mana urusanmu dan urusanku.

e37d6234fba678f1e0ee3c0852beddd97cc5bd549ecf4ef9425cae05e83f8a1f

Dan setelah melewati proses itu, wow, betapa banyak sebetulnya waktu  itu dihabiskan, hanya untuk mengurusi masalah yang sebetulnya bukan punya kita. Bahkan di kasus ekstrim (ini kasus orang lain, ya) bisa sampai bawa-bawa psikolog segala. Setelah dikupas kesimpulannya simpel banget, lha itu bukan urusan elu..Karena orang yang  bermasalah tidak menganggap dirinya punya masalah, merasa nyaman-nyaman aja. Yang blingsatan kenapa malah orang lain. Yahaaaa. Padahal udah bayar mahal-mahal. Hehehe…

Jadi buat yang baru berkeluarga menurutmu penting nggak, sih, tujuan berkeluarga? Terutama untuk dibuat apa  di awal-awal pernikahan. Kemudian di break down ke bawah cara-cara yang dicapai untuk menuju sana. Semacam short cut untuk cepat jadi angsa.

Eh? Kepinginnya malah jadi bebek…hahah. Ya nggak apa-apa itu juga keren kok. Kan ada tokoh bebek paling terkenal di dunia. Itu lho, Donald Duck.

Apakah kamu sudah punya tujuan berkeluarga? Bila sudah, apakah masih sering merasa galau oleh pengaruh-pengaruh?

Images : Free Kuipers, meme.com,

 

 

Iklan

2 thoughts on “Tujuan Berkeluarga

  1. denaldd berkata:

    Gendongan vs stroller, tindik vs nggak, dll. Versus2an itu akan makin berkembang seiring kebutuhan haha. Kebutuhan untuk menonjolkan kelebihan masing2. Gpp sih, toh yang jadi penonton yg akan dapat manfaatnya, karena bisa belajar baik buruknya. Yg dalam peperangan yg malah panas hatinya.
    Kalau aku pribadi selalu tetap berpegangan dengan membekali ilmu dan pengetahuan yang seluas2nya serta tak pernah bosan untuk belajar. Kalau sudah PD, Insya Allah ga akan keseret dengan segala macam yg berbeda dengan yg diluar sana. Paling banter, kalau ada yg beda malah jadi bikin penasaran untuk mengulik lebih dalam dan ujung2nya malah jadi sumber ilmu lagi. Saringannya tetap pada pribadi masing2, mana yg mau dipakai. Sesuai keyakinan dan kebutuhan. Iya betul, semua kembali lagi pada tujuannya.

    Disukai oleh 1 orang

    • Seaマ berkata:

      Haha iya tontonan yang bisa membawa manfaat selama nggak ikutan…:D
      Betul intinya cuma kita harus PD aja. Woles. Kadang susahnya di sosmed adaa aja yang mengajak jadi sekutu padahal kita ibaratnya nontonnya sambil makan es krim, tiba2 ditag…”Haaa? Meee?” *langsung belepotan*

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s