Sejarah Ngeblog Parenthood Sea

1506653239003

Nggak kerasa sudah cukup lama ngeblog. Tapi karena postingnya jarang-jarang, jadi berasa anak  kemarin sore. Eh, memang masih, sih.  Hihihi. Ya, namanya juga hidup tentu yang utama lebih diprioritaskan ya, blog. *puk puk*

Nah untuk merayakan aku ingin cerita serba-serbi dan sejarah ngeblog parenting disini.

Dan kenapa memilih pakai nama panggilan.

Jadi sejarahnya aku perlu wadah untuk menuliskan kesimpulan dan ide-ide yang didapat selama jadi parents, berikut perkembangan si kecil, serta hasil rangkuman mengisi ilmu dari sana-sini. Kalau dibiarkan lepas begitu saja sepertinya sayang, kan. Dengan menuliskan kembali, ingatan akan itu akan jauh lebih kuat.  Lalu bila kita sharing, maka  otomatis, hukum alamnya, akan ada ilmu baru lagi yang bakal bertambah.

Sempat nulis dengan se-normal-normalnya emak-emak ngeblog, nih.  Eh ternyata ada yang kepo. Apalagi kalau bukan anak, dia udah mulai pinter.

“Itu foto siapa?”

“Nulis tentang apa?”

Ketika  tahu itu fotonya dan aku beberapa kali menulis tentangnya (bagaimanapun minim) langsung, deh, di protes. Kita pun berdialog (versiku : negosiasi).

Jadi intinya anakku nggak suka kalau aku share fotonya di internet juga cerita-cerita remeh-temeh. Malu, katanya. Yah, aku nggak bisa berkutik juga, dong. Lha emaknya sendiri, kok yang ngajarin sampai berbusa-busa tentang serba-serbi dunia maya. Dan rasa malu itu OK kok selama kontennya positif. Malah bahaya kalau anak nggak punya malu. Ibarat remnya sudah blong gitu. Kan kita sudah banyak melihat sendiri contoh-contohnya.

Jadi menulis begini adalah hasil kesepakatan kita.  Mungkin kesannya belibet banget, ya. Emak-emak pastinya lebih berkuasa, bisa saja sih aku bilang ya suka-suka dong mau nulis apa. Kan ibunya.

Tapi…….. *sambil meres tisu penuh air mata * ya, perasaan anak lebih penting. Kalau bukan kita siapa lagi…

index

Yang penting aku sudah menjalankan pilihan. Bila anak  memang tidak nyaman dengan kehadiran rekam jejak masa kecilnya di dunia maya, sebagai ortu aku harus menghargai. 

Lagipula nggak nulis sampai detail kegiatan atau posting foto mereka juga aku masih bisa bernafas dan nggak gatel2 sekujur badan juga. Masih bisa sharing dengan cara lain.

Anak yang masih kecil-kecil tentu belum bisa dimintai pendapat. Tapi  kebayang kalau mereka semua nanti pada ngerti dan pada kompak protes bawa-bawa papan di depan hidungku. Lebih baik aku mengamankan posisi dari sekarang kan. Hihihi.

Terutama kalau anak kita anak perempuan ya. Kadang nggak pernah tahu di masa depan mereka teman-temannya kayak apa. Moga-moga bukan tipe yang suka friend-shaming dengan mencari foto teman-temannya waktu kecil di internet.

Selanjutnya pakai nama pena untuk ya..selain unik, memang masih ada hubungannya dengan kisah diatas, jadi si emak ini lebih bebas bercerita juga. Dan nggak tergoda kebablasan cerita sampai konsen nyambi SEO.  Iya. Aku pernah sampai level itu dan akhirnya malah niat menulisnya cenderung jadi belok.  Hahaha. Setelah mengetahui kelemahan ini maka telah diputuskan, kalau soal parenting biarlah untuk catatan dan sharing aja. Syukur-syukur ada orang yang bisa ambil manfaat amiiin.

Bagaimanapun aku ada urgensi untuk bercerita juga, karena dulu sempat gabung dalam kegiatan sosial untuk menyadarkan sekitar tentang bahaya predator dan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Dimana disana kita juga banyak membahas kasus-kasus, ada praktek, kuesioner, pelatihan, dsb.

Nah, diantara kawan-kawan satu kegiatan, mungkin aku ini anggota yang paliiing malas bikin acara, apalagi bicara di depan publik.  Walaupun aku masih berusaha update tentang ilmu dan isu-isu terbaru. Kawan yang lain sudah gerilya sampai ke pabrik-pabrik dengan ribuan buruh. Aku masih tenang-tenang. Maklum orang belakang panggung *alasan klise*.  Hihihi. Tidak boleh dicontoh, ya.

Tapi…kalau ilmu ini cuma disimpan, kok rasanya mubazir, ada hutang tanggung jawab, gitu. Ya udah, aku niatkan salurkan saja sedikit-sedikit di blog. Salah satunya yang bisa kamu lihat di laman informasi di blog ini. Kalau ada darurat bisa kontak nomor-nomor diatas,ya (khusus di Indonesia).

Kapan-kapan aku share juga kisah-kisahnya, tapi ya, sedikit-sedikit. Moga-moga dengan tahu latar belakangku melakukan ini, bisa meminimalisir pertentangan. Bukannya nggak menerima pendapat beda, ya,  karena aku disini sifatnya hanya sekedar penyampai saja, dari apa yang sudah kupelajari (atau malah dialami).  Untuk perdebatan yang menyangkut sains, aku alihkan mike-nya ke orang yang lebih kompeten karena ini bukan bidangku.  Meskipun aku juga suka cross-check ulang, dengan membaca buku referensi yang diberikan, sayangnya kebanyakan, sih bukunya dalam bahasa Inggris. Makanya… *mabok deh*.

Jadi kira-kira itu sejarahnya. Maaf, agak campur sari. Intinya, yah, semoga aku bisa lebih rajin lagi nulis dan sharing.

—-

Apa yang kamu cari dari sebuah blog yang isinya sharing pengalaman parenting, sih?

Image : Sand Laptop, Adriano Goncavles, redbubble.com

Iklan

2 thoughts on “Sejarah Ngeblog Parenthood Sea

  1. denaldd berkata:

    Aku terus terang ga terlalu suka baca blog yg berisi parenting yg cerita sehari2. Ga tahu entah kenapa. Aku lebih suka baca blog yg mengulik ttg parenting itu sendiri dari sisi keilmuan, jadi lebih ke skala global dan yg jelas tidak menggurui. Netral lah. Karena aku tipenya bukan yg suka digurui tapi yg diajak diskusi gitu. Nah, blog Parenthood Sea ini aku suka, karena mengulik ilmu ttg Parenting. Jadi ada saja hal baru yg bermanfaat yg bisa ditelaah.
    Ttg Sharing cerita anak, karena tahu aku ini masih ada jiwa narsisnya, maka sejak jauh hari aku (dan suami) sudah membatasi didunia maya tidak akan membicarakan hal apapun ttg dunia anak. Aku pernah menuliskan tentang keputusan ini di blog. Masih banyak media untuk merekam momen2 buah hati misalkan dengan menuliskan di buku (mencontek bagaimana Mertua menuliskan semua hal sampai foto2 ttg perkembangan dan kegiatan anak2nya di buku). Biarlah aku dan suami saja yg berbagi cerita ttg dunia kami di blog, karena kami sudah bisa memutuskan mana yg bisa dibagi mana yg harus disimpan. Sedangkan yg masih belum bisa memutuskan sendiri, biarlah dia seperti itu adanya, hidup tanpa terpapar dunia maya. Kami berpikir jauh ke depan dan memikirkan perasaannya lebih penting daripada kebanggaan atau kecemasan kami yg harus diketahui dunia luas.

    Disukai oleh 1 orang

    • Seaマ berkata:

      Terima kasih sudah menjadi pengunjung setia dan selalu berkomentar yang bikin daku banyak masukan juga *bows*. Paling senang kalau dapat komentator seperti mba.Iya, kalau dilihat sebetulnya cara jadul yang sederhana dengan menyimpan album-album itu lebih apa ya…menyentuh. Jadi terpikir untuk menerapkan. Hihihi

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s