Lihat Yang Hitam atau Yang Putih?

1507075392355.jpg

Ini bukan tema horror….

Seseorang yang kukenal pernah berkata bahwa kebanyakan dari kita, orang Indonesia, sebetulnya paliiiing gampang di hipnotis dan digiring. Karena bila menerima sebuah informasi yang bekerja bukan cara berpikir kritis alam sadar melainkan memori dan emosi alam bawah sadar.

Aku nyengir lebar.  Masa, sih? Jahat banget, aku kayaknya nggak gitu…(nah ini emosi). Kemudian, karena yang bersangkutan memang ahli dibidangnya,  baru aku mencernanya (mesin otak yang perlu diminyaki ini mulai bekerja).

Dulu aku merasakan itu dalam banyak kasus.

Contoh, ketika kita sedang dalam urusan menyelesaikan sebuah masalah, seorang anggota ibu-ibu, menanggapi usulan solusi dengan negatif, wajah masam dan ketus. Sikap, yang menurutku, terlalu berprasangka.  Dan, dalam gambaran yang dibikin lebay, nada bicaranya juga jadi tampak kurang sopan-santun.

Ketika ditanya ada problem apa orangnya diam saja. Ini kasusnya mirip seperti perang status di FB. Semua akhirnya dijadikan ambigu.

Tapi kebanyakan kasus dari kita,wanita, itu kadang suka kompleks, ya… bilang no padahal maksudnya yes, bilang yes padahal maksudnya no, iya nggak, siiih?  Mungkin dianggap seluruh dunia bisa telepati, yes! Hahahaha* 

Nah. Kasus ibu-ibu itu, seharusnya problemnya seharusnya sudah clear kan. Tidak dijawab=tidak ada masalah. Sekilas saja, aku sempat menganggap dia masih punya masalah denganku yang belum terselesaikan. Nggak masuk akal kan?

Dalam dunia parenting aku juga melihat banyak contoh. Sadar nggak kalau kita mudah baper dan parno kalau ada orang curhat atau ada sebuah informasi yang mengingatkan kita akan sesuatu yang deep down seringkali menimbulkan rasa kurang nyaman dalam diri kita (kasus parent biasanya anak) atau memori yang buruk.

quora

gambar : quora.com

Semakin besar hadirnya sebuah emosi  atau trauma, semakin mudah perasaan ini diutak-atik. Walaupun kita bilang yakin bahwa kita tidak mungkin terpengaruh. Makanya muncullah kubu-kubu yang kadang sifatnya lebih banyak sebagai representasi dari sikap defensif.

Apalagi secara hormonal perempuan memang harus berjuang dengan perasaan emosional lebih besar daripada laki-laki.

Semua itu hal normal dan wajar, sih. Aku juga seringkali demikian.  Sisi positifnya itu bisa mengembangkan empati dan kewaspadaan. Tapiii ada sisi jeleknya, nih. Sisi kurang asyiknya ya, itu. Kadang kita sering menanggapi sebuah masukan dan suasana yang mustinya positif dengan negatif. Karena ada sesuatu dalam masukan atau bahkan cara penyampaiannya  yang mengingatkan kita akan perasaan tidak nyaman dan kenangan menyebalkan, misalnya.

Walaupun informasi itu secara sains, adalah sebuah penelitian terbaru yang sudah diakui banyak pihak.  Masuk akal, nggak, sih penolakan kita?

1452125461-0gambar : fowlanguagecomics.com @Brian Gordon

Nah, ini juga dalam keseharian bisa jadi masalah kalau berkembang jadi kebiasaan. Dan dilihat anak-anak.  Bisa jadi seorang ortu tipe komplainer atau serba negatif.

Ciri-cirinya ketika ngobrol sama anak misalnya,

“Eh, ma itu monyetnya lucu…”

Tapi…kita melihat monyet itu gudikan banyak panu,botak., bilang, “Ih monyetnya botak.”

Ketika anak tantrum dan nangis dijalanan sampai guling-guling…dalam kondisi emosi kita tidak menganggap itu suatu hal normal. Apalagi ada tatapan mata yang melihat dan menjudge di sekitar kita, langsung deh baper menghinggap…ini anak memang tengah melakukan rangkaian balas dendam kepadaku untuk menunjukkan kepada dunia bahwa aku adalah orang tua yang jelek.

yoga

gambar : pinterest.com

Salah anak? Yah, dia seperti kita juga, punya berbagai tujuan dan cara kan agar keinginan tercapai. Artinya otaknya jalan.

Salah orang-orang yang lihat? Semua orang kalau ada suara jeritan atau drama ya pasti nengok kalii….

Tapi nggak jarang kan endingnya malah jadi ada….. dua orang yang tantrum! Ya ortunya ya anaknya juga. Hahaha. Padahal hanya karena sekejap fokus melihat dunia di bagian hitamnya dulu.

Makanya ketika melihat anak yang suka sekali bisik-bisik melihat keburukan temannya yang lain, kita perlu pakai cermin dulu. Selama ini kita udah ngeliat dunia dalam keadaan hitam atau putih ketika berinteraksi dengannya? Kalau iya kita juga begitu nah kan udah ketauan culpritnya. Kalau jawabannya kita tidak begitu, nah baru deh harus dilihat ke pasangan dan orang-orang terdekat di sekelilingnya.

Ini bukan terjadi begitu saja. Bisa karena sesuatu yang sifatnya historis atau repetitif dalam kehidupan kita.

Contoh. Bukan sekali aku bertemu atau mengetahui seseorang yang tema hidupnya isinya komplain melulu. Sekelilingnya bermasalah. Dari kucing sampai satu kota. Mendadak selalu muncul tokoh-tokoh baru dan permasalahan baru.

Ini dengerinnya aja udah ikut capek, lho.Masih mending capek.  Bisa malah tersugesti untuk parno sampai merasa kita hidup di negeri yang demikian buruknya.

Padahal bisa jadiorang yang melakukan itu sebetulnya hanya demi mendapat perhatian saja yang mungkin dia haus sekali mendapatkannya.  Atau memang ada trauma atau tema tertentu dalam dirinya yang belum terselesaikan (bahkan bisa di trace sampai kejadian di dalam kandungan ibunya lho).

Masalahnya, mereka ingin menyelesaikan itu atau tidak? Kan intinya demikian…karena ada orang yang penginnya buang sampah doang. Sial banget kan kalau kita bagian yang harus bawa pulang sampah orang.  Huek. Huek.

Habis pertanyaannya ‘kan….

trashgambar : funnymeme.com

Tapi itu masih mending, yang paling parah sih orang yang melakukan itu demi uang hahaha…ya seperti kasus buzzer-buzzer hoax bayaran itu atau karena rating dan lain-lainnya.

Jadi cara terbaik, memang lebih baik dengerin tanpa melibatkan pikiran dan emosi. He-eh. He-eh. Lalu buang sebelum sampai rumah. Biar nggak keburu bau.

Karena apa yang terjadi bila input di kepala kita yang masuk demikian terus. Iyes. Tercyduk, deh. Akan tertanam sebuah sugesti yang akan terkoleksi lagi bila nanti ada sebuah kejadian. Padahal sebuah kejadian belum tentu semuanya buruk.

Semoga mereka menemukan solusi dalam kehidupan mereka.

Andai kita bisa membangun awareness dalam diri mereka, bahwa mereka tengah berada dalam sebuah kondisi yang menyeret sekian banyak orang di sekitar mereka menjadi satu frekwensi. Mengaktifkan kesadaran kolektif yang sifatnya lebih fokus ke emosi dan memori ketimbang berpikir kritis…..

Sayangnya itu sulit. Ya karena tidak semua orang sadar bahwa sebenarnya punya masalah.

frog

Dan semakin berbahaya bila kita adalah orang yang memiliki pengaruh besar terhadap orang lain. Dalam hal ini orang tua kepada anak.

Aku nggak kepingin ya anak melihat dunia yang hitam terus. Inginnya punya anak yang tangguh dan nggak mudah jatuh ke kondisi depresi. Apalagi bila itu semua gara-gara kita kebiasaan melihat orang lain dan dunia dari sisi hitam,  terpengaruh oleh lingkungan dan keseharian. Imbang-imbang ajalah. Dengan sisi putih lebih banyak. Maunya sih begitu. Habiiiis…masa suram amat, sih idup loe…

Untuk ngelawan, sebetulnya sederhana dan sudah diketahui umum. Jadi orang itu yang positif ajalah. Melihat sisi penuh dari sebuah gelas berisi air. Jikapun kita benar punya memori atau rasa bersalah yang hebat, itu bisa diminimalisir. Kalau istilah keren bahasa Inggrisnya, reframing, gitu.

Misal contoh kasus aku dan ibu-ibu itu. Memang rasanya ih, menyebalkan sekali, ya, dia.  Tapi setelah aku mengaktifkan otak kiri, jadi bisa mencari berbagai kemungkinan.

Aku bisa beranggapan : Oh, karena aku pernah punya kenangan peristiwa serupa yang penuh drama. Oh, mungkin dia lagi mens. Oh, memang karakternya begitu kali, ya. Oh, dia sedang melalui hari yang buruk dan baginya ini adalah sesuatu yang bisa nambah kerjaan. Oh, barangkali ada cara penyampaianku yang tiba-tiba mengingatkan dia pada sesuatu, misal ibu tirinya yang kejam (enggak apa-apa imajinasi to the max). Dan sebagainya.

Kalaupun semua nggak benar dan sebabnya entah apa, nggak rugi juga secara waktu dan energi. Betul?

Dalam kasus informasi baru yang teruji tapi kita dalam keadaan tidak berdaya atau terlambat menerima, bukan berarti itu selalu merupakan satu bentuk serangan pribadi. Informasi yang sifatnya sains jarang punya niatan bikin baper orang. Kan tinggal apa yang akan kita lakukan setelah tahu. Menerima atau tidak. Berubah atau tetap seperti apa adanya. Gitu aja kok repot, ya. Hihihihi.

Jadi kalau kita sedang kondisi perasaan kurang enak karena anak.  Misalnya anak hobi menjawab terus semua perkataan dan punya mau sendiri, harusnya kita langsung reframing, bukannya itu artinya kita punya anak pintar? Dan berjiwa pemimpin?

shp

gambar : collegehumor.com

Bukan kemudian malah mengucapkan sesuatu yang malah menghasilkan sugesti atau menyakiti hatinya seperti,  kamu itu, ya jawab terus, kamu anak xxxx dan xxxx.  Coba deh kita trace ke atas ada nggak ortu, kakek nenek sampai nenek moyang,  yang karakternya mirip, nggak? Kalau iya hayo, mau diapain lagi kan memang udah genetik. Berarti bagus karena dia beneran keturunan kita (reframing lagi). Hahaha. Tinggal gimana supaya nggak jatuh ekstrim aja.

Dari yang kualami dan pelajari, supaya bisa berpikir kritis sebagai orang tua, aku selalu harus berjuang dan berusaha agar berada dalam kondisi tenang, rileks. Dan supaya itu terjadi, apa yang bisa kulakukan selain mengingat kembali banyak hal-hal baik dan berbagai sisi putih dari kehidupan? Caranya?

Yah. Biasanya kita semua sudah tahu, sih, apa jawabannya.

Apakah kamu atau salah satu dari keluargamu pernah mengalami kesulitan dalam melihat dunia menjadi putih? Sudah mencari penyebabnya?

Gambar judul : Meg Ohara untuk freeimages.com

 

Iklan

6 thoughts on “Lihat Yang Hitam atau Yang Putih?

  1. shiq4 berkata:

    Ya kalau bisa jangan mulut satu lidah bertopang. Nanti justru membingungkan lawan bicara. Masa di hati no tapi bilangnya yes. Justru semacam itu merupakan awal kesusahan dan menjadi lebih sulit dimengerti lawan bicara. 😀

    Suka

  2. Arman berkata:

    iya emang pada umumnya kita harus banget selalu berpikiran positif sebisa mungkin ya. selain untuk menjadi teladan buat anak2, tapi juga demi kebahagiaan diri sendiri juga. kalo pikirannya negatif terus, komplein terus, pasti gak bisa bahagia juga ya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s