Mereka Yang Tak Kembali

Beberapa waktu lalu ada orang tua (usia lanjut) yang bercerita bahwa kawannya baru kehilangan anak-anaknya. Gara-gara mereka kurang dekat. Kemudian anak-anaknya ini merantau tinggal di Barat, entah disekolahkan atau bagaimana. Kemudian mereka jadi ke barat-baratan. Tidak mau pulang. 

Aku pernah mendengar kisah serupa. Nyata karena kenal orangnya. Dua ayah ibu sibuk yang punya karir sukses. Anak-anaknya yang perempuan disekolahkan ke luar negeri, tapi tidak mau pulang juga. Untuk memantapkan itu mereka menikah dengan orang lokal. Akhirnya kedua orang tua ini hidup sendirian di tanah air tanpa rasa peduli dari para anak itu.

Kasus lain lagi yang lebih banyak kutemui dan aku melihat sendiri adalah beberapa rekan perempuan yang bersekolah di luar negeri dan tidak kembali. Dan kalaupun kembali mereka mengalami kaget budaya yang hebat. Mereka memiliki banyak kendala dalam menemukan pasangan yang pas. Mungkin ada hubungannya dengan harus ada penyesuaian pola pikir juga.

Hal ini tidak terjadi pada anak laki-laki saat kembali. Nilai jual mereka naik dan tidak terlalu ada kesulitan mencari pasangan. Eh kecuali yang pindah ‘haluan’ ya..hehehe…

Jadi apakah kesimpulannya jangan sekolahkan anak ke negeri Barat, terutama anak perempuan? 

Eh itu ekstrim, nggak gitu juga kali ya. 

Aku masih melihat sedikit kasus dimana anak-anak yang pergi itu pulang, bosan tinggal di luar, nyaman di tanah air, dsb.  Kalaupun tidak pulang, hati mereka selalu “pulang ke rumah”. Rajin kontak orang tua. Menanyakan kabar. Dan selalu berpikir ingin menghabiskan masa tua di kampung halaman. 

Aku pun berusaha mencari benang merah lain yang bisa dijadikan hipotesa.

Dari yang aku amati dan wawancarai ternyata beberapa benang merah kasus-kasus yang kutemui adalah : kenangan masa kecil dan hubungan dengan orang tua. Terutama ibu (sebagai makhluk satu entitas ketika masih dalam kandungan).

Anak-anak yang hubungan (bonding) dengan orang tuanya kurang kencang dan kenangan masa kecil di tanah air buruk, lebih mudah pergi tanpa banyak menoleh kembali . Bahkan mencarinya.

Jadi bila memang menginginkan anak merantau pergi jauh tapi tidak ingin “kehilangan”. Terutama hatinya ya. Pastikan dulu bonding kita dahulu dengan juga anak kenceng. Juga nilai-nilai yang pernah ditanamkan dan kita ingin itu tetap ada. Karena itu satu-satunya benang yang mengikat anak secara psikis kepada kita dan masa lalu. 

Lihat juga tipe anak apakah dia mudah dipengaruhi lingkungan atau tidak. Bukannya tidak boleh tapi resikonya besar. Kecuali orang tuanya membebaskan perkara itu. Asal nanti kita juga ikut bertanggung jawab lho ya. 

Hmm. Mungkin ada yang bisa nambahin lagi?

Soal bonding atau attachment itu ada tiga macam (sumber : psikologi-i Ihsan Gumilar)

1. Secured Attachment

Ikatan emosional baik antara anak dan orang tua. Biasanya anak jadi PD dan mudah membangun relasi dengan orang lain dan antar anggota keluarga

2. Anxiety Attachment

Ikatan emosional kurang baik, biasanya karena hubungan dengan orang tua di masa kecil on/off. Akhirnya selalu bergantung berlebihan kepada orang lain atau pasangan. Cemas bila tidak dekat dengan orang lain.

3. Avoidant Attachment

Ikatan emosional kurang baik juga tapi kebalikan no.2. Disebabkan saat kecil kehadiran orang tuanya tidak dirasakan sama sekali. Ia cenderung menghindari orang lain. Independen. Merasa tidak perlu bergantung pada orang lain, bisa menyelesaikan masalah sendiri. Menghindar untuk terikat dengan orang lain. Padahal manusia yang sehat perlu memiliki hubungan emosional dengan orang lain.

Kemungkinan besar tipe no.3 lebih banyak merantau dan tidak kembali. Aku tidak tahu juga. Tipe no.2 juga bisa, sih, tapi kasian amat ya nanti di rantau? 

Kalau kasus yang kutemui memang kedua orang tua sibuk di luar. Tapi pernah juga aku diceritakan kasus yang salah satu orang tua di rumah tapi anaknya nggak betah. Karena perilaku dan kondisi di rumah yang tidak menyenangkan. Misal abusif secara fisik atau verbal. 

Artinya kenangan masa kecil memang penting banget ya. Makanya ketika jadi orang tua kita sebaiknya menyelesaikan juga urusan masa lalu *hadew*

Jadi kita juga sebaiknya tidak terlalu banyak menyalahkan mereka, anak-anak yang hatinya tidak kembali. Karena kita tidak pernah tahu apa yang mereka alami. Kenangan apa yang sedemikian kuatnya sehingga itu menjadi sebuah daya untuk menjauh bahkan walau harus tinggal di negeri penuh salju.

Ada kalanya semua pihak hanya bisa banyak berdoa, mengikhlaskan, dan memaafkan. Terutama memaafkan ya. Bukan buat siapa-siapa lebih untuk diri sendiri.

Karena semua orang akan menuai apa yang ditanam. Yang bisa kita para orang tua muda lakukan adalah berusaha menanam dengan baik hari ini. 

Bagaimana pendapatmu tentang semua ini? Punya pengalaman lain?

Gambar : pinterest.com @camilacoelho

Iklan

11 respons untuk ‘Mereka Yang Tak Kembali

  1. Crossing Borders berkata:

    Tulisan yg sangat menarik.. Sebagai seorang anak yg merantau sejak kuliah, seingat saya, saya tak pernah merasa homesick. Sekarang umur sudah 40an, merantau pun sudah semakin jauh, sudah punya anak juga, tetap saja tak merasa homesick, setidaknya tidak seperti orang lain pada umumnya. Saya tidak tahu apa yg terjadi di masa kecil saya, selain yg saya ingat, tapi saya jarang merasa kangen pada seseorang ataupun sesuatu.

    Suka

    • Seaマ berkata:

      Terima kasih. Apakah masih ada keturunan gypsi?😀 Bercanda ya mba. Ada orang yang memang berjiwa petualang. Apalagi wanita semakin bertambah usia adrenalin semakin berperan. Yg dimaksud di tulisan ini mereka yg secara “hati” juga tak kembali jadi tdk tergantung jarak. Pertanyaannya apakah ada perasaan kehilangan atau kangen orang tua dan keluarga? Bagaimana selama ini berkomunikasi? ☺ Kalau tidak ada, ya bisa dicari ke masa kecil apa penyebabnya dengan catatan bila itu dianggap sebagai permasalahan ya.

      Suka

  2. shiq4 berkata:

    Saya klo punya kesempatan juga bakal milih di negeri lain. Nggak tahu kenapa kok saya sering jengkel dengan ulah masyarakat indonesia yang ada-ada saja. Jadi sedih. Di sisi lain, seandainya saya koar2 pasti saya yang disalahkan. Bagaimana pun juga, aturan itu dibuat berdasarkan pandangan banyak orang. Klo semua orang buang sampah sembarangan, nanti yang mengingatkan dan buang sampah pada tempatnya akan dianggap aneh. Itu masalah terbesar saya sering bentrok dengan nilai-nilai madyarakat yang sangat tidak cocok dengan yang saya anut. 😀

    Suka

    • Seaマ berkata:

      Mas Shiqa sudah pernah merasakan hidup di negeri lain?😀 Negeri mana dulu nih. Yang nyebelin dari negeri lain juga ada lho. Cuma mungkin nggak banyak yang mau cerita kalau di sosmed. Semua ingin tampak bahagia. Coba telusuri cerita dari blogger2 asing. Akan selalu ada. Tapi di negara maju memang relatif lebih teratur dan faktor keamanan terjamin.

      Suka

  3. denaldd berkata:

    Baca tulisan ini beberapa kali dan mencoba bertanya ke diri sendiri apakah memang aku termasuk yang tak kembali. Mungkin iya. Awal merantau umur 15 tahun, ngekos di kota yg jauh dari ortu. Waktu itu semata karena ingin mencoba tantangan baru. Ingat banget waktu awal2 ga mau pulang sampai 6 bulan. Berasa bebas. Lalu gesekan muncul dengan Ibu karena beberapa hal. Semakin menguatkan hati kalau aku ga mau kembali ke rumah ortu. Harus mandiri apapun yg terjadi. Sampai beberapa kali pindah kota, semakin menjauh dari rumah. Alasannya semakin mengerucut, karena menghindari Ibu. Akhirnya sekarang tinggal di LN, entah kenapa ada perasaan lega karena semakin jauh dengan Ibu. 3 tahun belum pernah pulang, biasa2 saja. Padahal suami sudah mengingatkan untuk pulang, akunya yg masih belum siap. Rasanya masih ragu karena luka dan ingatan hal buruk hubunganku dgn Ibu masih membayangi. Ini Ibu akan mengunjungi kami dan tinggal agak lama di sini, akupun agak ragu. Beberapa kali membahas dengan suami, gimana ya rasanya tinggal dengan Ibu dalam waktu lama setelah 3 tahun tak bertemu,komunikasi juga ala kadarnya. Sampai aku serius bilang, kalau ada pertengkaran yg timbul, tolong tengahi kami. Ya sampai segitunya aku agak trauma.

    Suka

    • Seaマ berkata:

      Terima kasih sharingnya. Itu hal yang wajar. Di luar sana banyak yang mengalami hal sama. Yg plg dekat pun sebagai anak ada masa2 merasakan itu, perasaan tdk nyaman krn merasa kembali jadi anak2 ketika berhadapan dengan orang tua. Itu tjd ketika orang semakin sepuh masuk dalam stage menjadi spt anak2 lagi. Diri si anak yg sekarang sebetulnya adalah seorang dewasa. Mampu berpikir dan bertindak sebagai org dewasa yg logis bila tdk tergelincir emosi merasa mjd anak2 lg. Semoga lancar ya urusannya.

      Suka

  4. Emaknya Benjamin br. Silaen berkata:

    Saya sejak 6 tahun lalu belum pernah mengunjungi tanah air lagi, alasannya kaga ada uangnya haha, apalagi skrg sdh ada 2 anak. Mamaku yg sdh 3x berkunjung, klo bapak 1x dan kedua adikku pernah sekali ke rumahku. Entahlah saya juga tidak ada perasaan kangen banget dg tanah air 😀 .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s