Ijin Dari Suami

1512773080162

Jadi perempuan jaman now (and forever) ternyata harus hati-hati memilih sikap dan perkataan. Karena trend dan kecepatan informasi sudah tidak seperti jaman old.

Ini yang aku alami sendiri. Beberapa kawanku juga. Aku ingin bahas satu kasus saja dari salah seorang kenalan.

Jadi dia diajakin nih sama teman-teman ceweknya hang out. Tapi kalau diajakin dia selalu bilang. “Gue harus ijin suami dulu.”

Namanya juga jaman now. Di belakang terjadilah gunjingan. Intinya para teman-teman perempuannya yang berpikiran modern, nggak habis pikir kenapa harus pakai ijin segala.

“Memangnya dia kepunyaan suami?”.

Mulai terjadi polemik tidak berujung. Semua orang punya pengetahuan atau sejarah masa lalu sendiri yang kemudian dianggap berkaitan. Berkembang menjadi bahasan yang demikian rumit dan panjang.

Padahal dibelakang semua itu….. ada kemungkinan lain yang lebih sederhana.

Kenalan itu nggak mau ikutan hang out (entah karena alasan apa). Nggak enak nolak takut dianggap gini-gitu. Atau peer pressure teman-temannya, suka di bully ini-itu kalau dia bilang emoh. Ya, udah, deh, paling gampang pakai kata “gue harus ijin suami dulu.”.

Dan kalau akhirnya memang dia nggak merespon, mereka akan menganggapnya tidak dapat ijin. And the husband would take all the blame. 

Yang dia tidak tahu, perempuan modern umumnya tidak menyalahkan suami yang tampak posesif,  melainkan sikap si perempuan sendiri. Yang kemudian terbawa ke sejarah menyakitkan yang terjadi di seluruh kaum. Akhirnya kayak main lempar tomat tanpa tahu obyek sesungguhnya ada dimana….

Makanya aku hati-hati banget kalau berkomentar atau menghadapi kondisi yang demikian.

Kemudian aku harus melihat latar belakang si perempuan yang minta ijin itu dulu. Kalau dia muslim, kebetulan aku muslim juga, paling tidak  kenal hukum dalam kepercayaannya soal ini gimana-gimana. Sesuatu yang mungkin maaf yang beda kepercayaan (atau yang tanpa kepercayaan) belum menerima penjelasan.

Aku jabarkan sesederhana mungkin, tapi jangan dijadikan ajang perdebatan karena ini cuma menjelaskan informasi yang kutahu agar bisa memahami point of viewnya. Tanya yang lebih ahli jika ingin menyanggah atau bertanya, yaaa. Peace.

Yang aku mengerti dalam Islam itu memang SOP nya  istri menjadi tanggung jawab suami (dari orang tuanya) setelah akad. Apapun keputusan yang dikerjakan suami, istri tidak akan berdosa. Santai choy.  Tapi kalau istri melakukan hal yang bisa mendatangkan mudharat dan dosa, jeder suaminya ikutan kena. Ibaratnya udah bikin pahala banyak-banyak sampai sholat tiap malam,  tapi ia abai dan istrinya melakukan hal-hal yang kurang baik, nah itu bisa menambah score dosa yang kemungkinan bisa  masuk neraka, gitu. Eh. Kecuali istrinya udah dibilangin bandel, ya. Kalau yang terakhir ini yang terjadi justru istrinya yang dosa.

Bagi suami  konsep ini mirip-miriplah istilah “Uangmu uangku, uangku uangku.” Cuma kata uangnya di ganti kata dosa. Jadi jatuhnya, ya sebetulnya nggak enak hahaha.

Para suami dengan kepercayaan serta pengetahuan ini, biasanya sangat menghargai bahkan menginginkan keterbukaan dari istrinya. Kemana dia pergi dan apa yang dilakukan blablabla….

Ketika ada protes, enak aja dong suami nggak minta ijin istri bebas kemana-mana. Yah. Itu kan teorinya. Di praktek memang ada rumah tangga yang nggak bermasalah kalau suaminya nggak jelas kemana? Mau kita punya pemimpin tiba-tiba ngilang dari medan pertempuran? Wkwkwk…pisau dan piring melayang…

Dalam sebuah pernikahan, biasanya akan ada tambahan buntut berupa anak-anak, perempuan memiliki tahap melahirkan, menyusui, mengasuh anak. Nah laki-laki fungsinya apa dong dalam sebuah keluarga kalau salah satunya bukan hal yang disebutkan diatas? Ketika kita sedemikian ribet dengan segala fase mengandung dan menyusui.  Masa cuma titip benih? Widih. Enak benerrrr yakk……

Sampai disini. Kalau dari kepercayaan lain aku nggak tahu, ya.

Aku sering melihat kasus suami (normal) yang mengalami rasa bersalah hebat, ketika terjadi apa-apa dengan istrinya.  Mungkin lebih besar dari rasa bersalah istri, bila terjadi hal sebaliknya. Ada yang sampai menjalani terapi bertahun-tahun untuk memulihkan kembali rasa percaya diri mereka sebagai laki-laki. Kalau dalam masyarakat mungkin tundingannya “tidak mampu melindungi”, “tidak mampu menjaga.”, dsb.  Di cerita-cerita pembunuhan atau kehilangan, pasti yang ditanya pertama kali, “Suaminya ngapain aja? Suaminya kemana?”.

Memang sulit bagi kita, perempuan, sepenuhnya memahami perasaan laki-laki soal itu. Bagi perempuan yang punya anak laki-laki, mungkin suatu hari akan bisa lebih paham, ketika anak laki-laki mereka memiliki istri.

Laki-laki dan perempuan sebenarnya punya rasa saling memiliki dan beban mental sendiri-sendiri saat berkeluarga. Jaman old maupun jaman now tidak ada yang bisa mengubah hal-hal mendasar seperti itu.

Tapi mengubah perkataan agar bisa menyesuaikan diri dengan jaman now bisa, kok. Ketimbang memakai kata ijin yang bisa berbuntut ina-ini, aku lebih suka menyebut kata “Aku diskusi dulu dengan suami ya.”

Kan tidak semua suami di dunia seperti gambaran di film Posesif. Pada dasarnya mereka manusia biasa, senang kalau orang dicintai senang. Bahkan jadi sebuah kebanggaan karena bisa membahagiakan. Happy wife happy life. Right. Belajar dari pengalaman kali ya hahaha. Kecuali cara berkomunikasi kita jelek. Misal sama-sama lagi emosi. Atau suaminya punya masalah psikologis seperti di film itu. Sisanya lebih ke pengaruh kultur.

Sangat nggak adil juga bila pada dasarnya kita yang males diajak, tapi berlindung dibalik kata minta ijin suami. Bilang aja terus terang kalau nggak mau Kan perempuan jaman now, masak takut sama sesama perempuan.

Jika menggunakan kata-kata ijin suami terus, suatu saat ketika para kawan ketemu sang suami, bisa dibayangkan komentar-komentar yang hadir dalam benak mereka, “Oh ini suami yang pelit ijin.” “Tipikal kolot”, “Kok mau, sih sama si posesip antik dari jaman rikiplik.” “Perusak persahabatan”, dsb.  Bersama tatapan-tatapan mengerikan yang menghakimi.

It takes two to tango. Dan pengamat harus fair.  Apakah benar yang dikatakan selama ini? Kalau perempuannya tidak merasa bermasalah dengan kondisi yang ada sekarang, buat apa mengubahnya? Kebutuhan psikis serta zona nyaman sebagian besar adalah pilihan si perempuan sendiri, bersama segala resikonya,  as a grown up woman.

Dengan memakai kata diskusi kita tidak mengingkari fakta bahwa bahwa segala yang terjadi dalam keluarga seperti jadwal dsb, memang terjadi diskusi dulu. Seperti normalnya suami istri. Atau keluarga inti. Bahwa kita bukan barang. Kita manusia yang saling menjaga satu sama lain.

Jika akhirnya dalam keluarga ada pihak yang keberatan tentu ada alasan jelas dan logis. Aneh kalau nggak. Misal istrinya pengin wisata lihat-lihat distrik merah bertiga teman perempuannya. Rasanya wajar kalau suami takut istrinya diculik atau ikut ditawar orang!*lebay*

Ya kadang ada kekhawatiran-kekhawatiran para suami yang suka rada lebay. But it’s sweet. Kalau nggak pernah khawatir kita kemana-mana nggak jelas, malah jauh lebih khawatir mobilnya dibawa pergi, itu  bikin was-was.  Bisa-bisa saat ada bencana alam yang di selamatin duluan bukan istrinya tapi mobilnya. Hahaha…just kidding.

Moga-moga tulisan ini tidak menyinggung pihak manapun. Inginnya sih agar kita perempuan jaman now memahami apa latar belakang dan kemungkinan-kemungkinan dari sesama perempuan yang memilih kata minta ijin suami. Para suami juga tidak kehilangan esensi sesungguhnya dari hal-hal semacam itu. Bahwa manusia itu bukan barang. Kemudian tidak ada salahnya perempuan hati-hati dalam memilih kata dalam pergaulan untuk menghilangkan kesalahpahaman. Karena jaman now semua bisa dikaitkan kemana-mana, berdasarkan latar belakang yang kita bawa.

Bagaimana dengan pengalamanmu selama ini?

Image : Laura Glover for  freeimages.com

Iklan

7 thoughts on “Ijin Dari Suami

  1. Crossing Borders berkata:

    “Diskusi”..yes!😄 Aku lebih nyaman menggunakan kata ini utk konteks yg dimaksud.
    Tapi menurutku bahkan ketika kata yg terucap adalah “izin”, tapi konteksnya sendiri itu “diskusi” atau “bicara dulu”.. Entah kenapa kata yg lebih sering dipilih adalah izin, mungkin karena pengaruh budaya patriarki, agar pria tampak/terdengar lebih berwibawa/berkuasa.. Mungkin loh ya..
    Anyway, tulisan yg menarik..👍

    Suka

    • Seaマ berkata:

      terima kasih…haha iya kata izin juga bisa jadi pelemparan tanggung jawab pengambilan keputusan agar skak mat…laki-laki kadang ada juga yg menggunakannya dalam pergaulan, “nggak dapat izin istri…” “nggak diizinin anak”…padahal nggak tau beneran atau nggak…

      Suka

      • Crossing Borders berkata:

        Iya bener.., padahal menurutku kalo kata “diskusi” atau “ngomong dulu” yg dipakai akan membuat yg ngomong tetap terjaga kewibawaannya dan yg akan diajak diskusi juga terlihat lebih dihargai pendapatnya.

        Disukai oleh 1 orang

  2. Emaknya Benjamin br. Silaen berkata:

    Mungkin maksudnya mau bilang suami dulu kali, atau kalau dia bilang ga diizinkan suami, mungkin alasan aja ga mau pergi, alasannya cukup meyakinkan kan ga diizinkan suami hehe 😀 . Btw salam kenal ya SeaMa makasih sudah mampir dan komen di blog saya 😉 .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s