Kilas Balik Pengalaman Parenting Tahun 2017

kilasbalik

Tahun 2017 adalah tahun yang cukup berkesan. Jadi dua tahun lalu sebagai parent haus ilmu, aku banyak bergabung dengan WA grup terutama yang bertemakan parenting. Tentunya inginnya makin banyak ilmu dan info.

Semua kuikuti hampir satu setengah tahun lebih. Tapi apa yang terjadi?

Malah bikin pusing.

Terutama di salah satu grup yang memiliki pemikiran terlalu seragam. Jadi kalau ada yang agak tidak seragam saja, wah bisa ada sederet nasehat, ditakuti, sampai sindiran atau sarkasm dari anggota-anggota tertentu. Sampai bawa banyak dalil. Padahal menurut pemahamanku, banyak sekali tafsiran dalam sebuah perkara. Kemudian juga bila mengikuti misalnya guru agama yang dianggap “bukan panutan”, ada berbagai tekanan halus untuk belok.

Untung di dunia nyata aku masih bisa bertemu dengan kawan-kawan yang berpikiran berbeda dari beragam komunitas. Juga nalar ikut jalan. Karena bila tidak, hidup akan semakin kisruh, hati tidak akan tenang. Kayak di reset ke jaman beratus tahun lampau.

Kenapa pemikiran dari grup dunia maya kadang berpengaruh besar pada kehidupan, padahal kita ketemu aja nggak pernah? Karena kita mendengarkan perkataan mereka everyday. Lebih banyak daripada saat ketemu orang di dunia nyata (kalau sering diintip ya WAG nya). Aku baru mempelajari itu sebagai bagian dari hipnosis.

Apakah seorang ibu bisa mendidik anak dengan baik, bila jiwanya tidak tenang?

Apa pesan yang hadir di jiwa bila setiap hari yang dimasukkan adalah ketakutan, kebencian, dan kecurigaan?

Apa pesan yang akan diajarkan kepada anaknya?

Aku menyaksikan bagaimana anak-anak kecil bisa bergaul dengan mudahnya, sesuatu yang orang dewasa kenapa jauh lebih sulit. Siapa yang harus belajar disini?

Untungnya sebelum semua memuncak pada pilgub yang menghebohkan itu, aku sudah left. Tepatnya ditendang sih karena kurang memenuhi persyaratan apa gitu (lupa) hahahaha…tapi entah kenapa jauh dalam hati terdalam aku malah bersyukur.

Agaknya langsung dikasih jawaban yang nggak rumit-rumit amat dari Yang di Atas. Get out. Cari guru yang lain. Second, third opinion. Wkwkwk..Manusia memang harusnya cari jawaban yang mudah aja.

Dan ketika left itu butuh waktu lama bagiku untuk merekonstruksi ulang puzzle yang sudah sempat berantakan, satu demi satu. Setiap akan melakukan sesuatu yang sebetulnya normal-normal saja langsung teringat kata-kata sindiran, hujatan, dsb. Bagaimana di sana dikondisikan bahwa “digampar-gampar”dengan kata-kata adalah hal normal.

Itulah jahatnya kata-kata. Kalau ditabok luka bisa gampang sembuh. Kalau kata-kata tidak.

All I want is a peace of mind. Aren’t we all?

Aku tetap percaya semua nasehat apalagi dengan dasar kuat, tidak ada yang buruk. Semua ada kebenarannya, tapi ada juga yang perlu dipelajari lebih lanjut, kita harus memilah bagaimana itu tidak membuat hidup menjadi ekstrim.

Dan aku menyesalkan kebaikan dan kebenaran, yang harusnya bisa mudah disampaikan, sebagian besar tidak dimulai dengan rasa cinta kasih terhadap sesama makhluk. Hal yang bisa di tangkap dari tutur kata halus, contoh dari perilaku. Bukan sekedar kata-kata yang seolah menampar-nampar, menyindir, tajam dan menghakimi. Berbeda sedikit saja seseorang dihujat dan dibully. Tough love? I don’t think so. Sebelum merasakan cintanya orang yang bersangkutan sudah depresi duluan.

Sepanjang 2017 itu adalah healing process dan sepanjang jalan banyak bertemu guru-guru dan komunitas lain yang bisa membuat hati senang dan damailah. Mereka yang tidak membatasi kita mau belajar sama siapa dan harus mengikuti aturan yang mana. Ya. Enaknya kan begitu, fokus ke keluarga sendiri dulu, kebaikan sendiri dulu. Kasih contoh dengan perilaku, kata-kata, dan perbuatan.

Dan saat aku bertanya pada ahli lain, yang ternyata para pasiennya banyak mengalami kasus sama : “Saya pusing setelah ikut grup parenting .” “Istri saya berubah setelah ikut grup parenting.”

Ahli itu cuma bilang hal yang sama seperti kualami : “Get out.” (intinya gitu, sih).

Kenapa? Ya karena isinya kebanyakan masalah semua, serta orang-orang kebingungan yang memiliki masalah. Kecuali kita emang mau latihan jadi konselor atau sudah kebal kepala pusing, boleh lah bertahan wkwkwk.

Bukan berarti tidak boleh cari ilmu di dunia maya. OK aja, tapi seperti obat kita sebaiknya minum saat sakit saja. Buka kalau lagi cari solusi. Kalau minum obat tiap hari saat sehat kan efeknya buruk bagi hati dan organ lain. Analogi yang kurang lebih samalah.

Untungnya dunia itu pada dasarnya akan selalu berusaha seimbang. Saat salah satu bagian menjadi terlalu ekstrim, maka bagian lain yang tak kalah ekstrim akan muncul. Atau bangkit bagian baru yang tugasnya lebih kepada menyeimbangkan. Semua akan bersiteru dan pada akhirnya saling mengurangi pengaruh satu sama lain, menyeimbangkan, atau bahkan meniadakan.

Hikmah dari semua itu : ketika kita jadi parent, menurutku yang paling baik adalah ada di tengah-tengah. Tidak jatuh ekstrim tapi juga tidak bablas. Kesehatan jiwa nomor satu. Yang bisa jujur merasakan, bukan orang lain, tapi selalu diri sendiri. Mereka yang diluar itu kebanyakan tidak tahu apa-apa (ya, kan beda badan). Never underestimate your instinct and thoughts.

Kira-kira itu kesimpulan pengalaman parentingku di tahun 2017. Bagaimana denganmu?

Iklan

11 respons untuk ‘Kilas Balik Pengalaman Parenting Tahun 2017

  1. Crossing Borders berkata:

    Netral dan terbuka pikiran untuk berbagai pendapat/pandangan, tidak baper, tidak menghakimi, serta menolak untuk dihakimi tentang bagaimana menjadi orang tua yg baik..
    Begitu kira-kira gaya parenting saya di tahun 2017 dan semoga untuk seterusnya.. Tidak terikat grup-grupan juga..

    Suka

  2. ndu.t.yke berkata:

    Rasa hati ingin kuberkata: “Parenting 2017 = FAIL,” tp ah… kan ga boleh ngejudge atau melabeli diri sendiri dgn kata2 yg negatif ya. Jadi ya udahlah, namanya jg jd ortu baru bentar banget, blm ada 2 tahun. Making mistakes is a part of the process, caelaaaah….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s