Balada “Penembak Jitu”

Hem. Pembaca budiman yang selama ini baca Parenthood Sea, bagaimana kesannya tentang si penulis. Kalau boleh menilai diri sendiri kayaknya tulisannya se-soft orangnya ya? Ya nggak?  Hihihi *khayal* *melantur sendiri*
Sebetulnya di dunia nyata aku nggak soft juga. Banyak yang bilang di kondisi tertentu kata-kataku malah terdengar pragmatis, cenderung  tajam. 

Katanya, sih, orang-orang berlidah tajam itu ada bakat jadi jurnalis #denialmode. Jurnalis yang biasa diburu karena banyak enemiesnya lho ya hehehe, you know what i mean lah.

Tentunya ini jadi PR sebagai manusia dan parent yang terbesar dong. Harus gigit lidah kalau mulai capek dan berbagai resep penghilang emo. 

Jadi analoginya lidah tajam, ibaratnya pistol, kalau orang ketembak tangan kan masih bisa lari. Tapi kalau ulu hati wah telak menggelepar. 

Nah terkadang para sniper kambuhan alias kaum lidah tajam ini nggak paham kalau mereka punya bakat nembak-menembak, yang walaupun sambil lalu dan asal-asalan selalu tepat sasaran. Tahu-tahu saja di belakang mereka para korban sudah bergelimpangan di tanah.

Contoh kisah kenalanku yang juga tipe sniper. Jadi lagi ngobrol-ngobrol dengan saudara-saudaranya. Lagi ngomongin hmm anggap saja soal pare. 

Salah satu saudara komen,

“Gue suka banget biarpun pait.”

Si sniper nyeletuk sambil bercanda.

“Makanya idup lo pait.” 

Si sniper berlalu dengan riang ke kegiatan lain, sementara saudaranya yang kena tembak tampak tertegun dan sepertinya mengalami internal bleeding!

Bisa dapat gambaran?

Pernah, nih, di sebuah komunitas aku berjumpa dengan sesama lidah tajam (entah kenapa manusia itu bisa mengendus sesama spesies karakter-red). 

Perbedaan kami yang ekstrim cuma satu. Dia cerewet aku agak pendiam. 

Entah sudah berapa korban jatuh karena lidah tajam dia selama ini. Tapi aku selalu melihatnya dalam artian positif ya, karena sifat pragmatis. 

Suatu hari aku keceplosan ngomong karena rada lugu polos bin lengah. Sebetulnya sih aku cuma mau bikin hipotesa aja. 

Nahasnya, lidah tajam yang lain ini merasa ketembak. Tembakan itu tepat di ulu hati. Karena setiap aku hadir dia selalu nyebut-nyebut itu lagi itu lagi. Biasalah, kode eh..cara cewek. Sesama sniper ngajak perang.

Awalnya aku bingung ini orang gitu aja sebel. Kayaknya logika itu biasa saja. Lalu baru ngeh oooh topik itu baginya terkena di tempat yang paling sakit. Kok cuma aku yang bisa belok kesitu ya? Sementara yang lain mengendusnya saja nggak…*garuk-garuk kepala*

Mungkin juga untrained sniper yang kelihatan nggak berbahaya, justru malah efeknya lebih lethal sekalinya nembak.  

Aku langsung bicara 4 mata, minta maaf dulu (penting!) sambil menjelaskan.  Intinya, “Itu bukan tentang anda”. Biasanya begitu kebiasaanku. Yah. Anggap saja pembelajaran.

Kadang bukan masalah benar atau salah. Tapi soal perasaan. Ngotot kita membenarkan tindakan, juga sia-sia. Dan tidak konstruktif. Dimensi perasaan itu beda, nggak bisa dipaksakan. Jaman sekarang cari musuh lebih gampang daripada cari kawan bukan?

Semakin bertambah usia manusia perlu sadar akan bakat bawaan alam yang harus dikendalikan. Dalam kasusku, lidah tajam ini, sniper kambuhan ini. Konon karakter kita adalah keturunan nenek moyang (kalau di ortu tidak ada ya). Jadi kalau penasaran dan ingin kenal diri sendiri, bikinlah geneologi keluarga.

Gimana cara atasinnya buat diri sendiri dan anak keturunan? 

Hmmm. Mungkin share ini bisa jadi tips. 

Awas! Paling utama harus sadar dulu. Inshaff gitu. Jadi bisa ke solusi hihihi. 

Versi alim ulama, kudu pilih doa yang sifatnya menentramkan, kayak dari kisah Nabi Ibrahim. Sementara Asmaul Husnanya perlu cari nama-nama ngelembutin hati. Biar ucapan kita nanti juga adem maksudnya. Kalau ambilnya  nama-nama perkasa bisa-bisa malah makin gagah berani hihihi. 

((Di agama lain pasti juga ada pasti deh yang seperti itu. Boleh share.))

Versi umum, bila udah ketahuan kita atau anak punya kecenderungan sifat tertentu, dari awal harus banyakin cari cerita dan hikmah yang berlawanan. 

Misal kita/anak penakut, cari inspirasi dari kisah gagah. Nah untuk yang lidah tajam ya jangan cari kisah maju tak gentar. Tapi yang damai-damai. Hindari  topik yang memprovokasi untuk gatal komen!  

Mungkin perlu juga belajar bahasa tubuh. Bahasa tubuh lawan maksudnya, membaca kalau ada gejala kena tembak…kekekekek…

Moga-moga berhasil.  Btw. konon manusia itu seperti magnet. Jadi tanpa sadar bisa menarik manusia lain yang memiliki karakter sama atau bahkan masalah sama! Bagusnya kita jadi belajar sih ya. Seperti melihat diri sendiri. Ternyata setelah dirasakan sendiri dibegitukan tidak enak hahaha…Alam memang humoris.

Apakah kamu juga berlidah tajam? Atau punya karakter menonjol lain yang awalnya dianggap biasa?

Iklan

3 thoughts on “Balada “Penembak Jitu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s