Pentingnya Support System untuk Perempuan

Sejak jadi parent aku mulai melihat dunia dengan kacamata berbeda. Kalau dulu kan mikirnya masih egosentrik lah. Sekarang semua harus dipertimbangkan termasuk perasaan seluruh anggota keluarga.

Dan kalau ada ngobrol dan curhat sesama ibu-ibu mulai banyak lucu-lucunya. Misal, jika sudah ngobrolin soal suami atau anak. Memang topik domestik banget tetap sesuatu yang masuk top chart.

Karena rasanya kita nggak sendirian.

Eh, masalahnya kok sama?

Emang ternyata dimana-mana laki itu gitu ya?

Kalau ada yang lain sendiri kita bisa bilang wow atau separuh jeles. Wkwk anomali biasanya nggak disukai. Kita kadang tidak bisa menerima ada orang yang begitu beruntung di dunia dan kita adalah bagian yang dapat sialnya.

Tapi namanya juga manusia kadang suka hiperbola. Pencitraan itu memang suatu hal untuk menghibur diri sendiri kadang-kadang Hahaha.

Yang sedih itu kalau udah pada curhat sampai air mata pada keluar terseguk-seguk. Karena artinya yang bersangkutan udah stress.

Kalau sudah begitu kita pasti saling berpandang-pandangan, menepuk-nepuk punggungnya, dan bertanya-tanya (dalam hati)

Ini suaminya kemana?

Dan biasanya sih……salah satu sumber stressnya adalah ketidak pedulian atau kurangnya rasa sensitif para suami. Kalau sudah begitu memang nggak ada yang bisa lebih memahami daripada sesama perempuan. Makanya lebih banyak perempuan yang berinisiatif pergi ke ahli daripada laki-laki. Dan banyakan perempuan yang tertarik belajar tema-tema psikis seperti emotional healing, dkk.

Apa menjudge? Lha ini trainernya sendiri yang pada bilang kok wkwkwk.

Yang namanya manusia itu ada kalanya dalam kondisi emosi lemah. Kalau sudah begitu muncul namanya sejenis inner child. Inner child ini adalah sisa-sisa perasaan kanak-kanak dalam diri kita yang dulu tidak mendapatkan kebutuhan emosinya. Jadi misalnya, saat kecil biasa ditinggal orang tua pergi.

Dalam hatinya anak kecil itu menjerit

“Aku nggak mau ditinggal!” “Peluk aku” “Sayangi aku.” dan seruan-seruan sejenis.

Echo alias gema dari keinginan itu masih tersimpan saat dewasa. Ketika lagi kondisi stabil ego si dewasa mendominasi. Tapi ketika lelah rapuh mulailah si inner child ini muncul.

Suami yang tidak pedulian imejnya sebagai representasi orang tua yang meninggalkan saat kecil. Sehingga ketika dewasa dia ingin suaminya memenuhi kekurangan itu.

Sialnya, baik suami maupun istri punya inner child juga. Jadi ketika sama-sama rapuh bertarunglah dua kebutuhan itu. Suami ingin dimengerti, istri ingin diperhatikan.

Namanya anak kecil vs anak kecil berantem, kita ibu-ibu tahu sendiri kan biasanya gimana? Kadang hanya seputar sesuatu yang sangat remeh….kayak kelamaan megang mainan…

Jadi seperti yang sudah kutulis sebelumnya, penting sekali buat perempuan punya support system. Yaitu keluarga, teman-teman perempuan, atau ahli untuk tempat curhat. Menjaga agar otak tetap waras saat perasaan mengambil alih. Apalagi bila para suami masih harus berjuang dengan diri mereka sendiri (kadang mereka nggak nyadar lho). Dengan kebutuhan inner child mereka yang belum terdeteksi.

Paling runyam itu kalau udah ada pihak ketiga ikut campur. Atau malah orang ketiga. Mereka yang tahu kebutuhan pasangan kita dan bikin dia tergoda. Amit-amit pasti tidak ada pasangan yang kepingin kan? Eh, ini sebetulnya terjadi juga pada pria yah. Tentu pernah baca kasus dimana istrinya kepincut laki-laki lain yang belum tentu tampangnya sekeren atau duitnya sebanyak sisuami? Kenapa? Ya karena si laki-laki lain itu bisa memenuhi kebutuhan psikis si wanita. Kebanyakan kasus begitu.

Aku nggak bilang jadi perempuan harus lebih kuat, karena laki-laki bisa ada dalam posisi itu juga. Tapi dalam kasus yang sering kutemui, terutama di Indonesia dengan budaya patriarkinya, perempuan selain perlu lebih kuat juga perlu lebih bijak.

Saat berjuang sendirian, selalu aktifkan diri dewasa. Bila terdeteksi diri kanak-kanak yang sedang “nagih”…….recharge segera. Caranya macam-macam, bisa curhat ke kawan perempuan, (jangan laki-laki yaa bahahahahahaya), ke ahli, terapis, atau……memenuhinya sendiri. Yang terakhir ini ada caranya yang bisa dipelajari.

Dan banyak-banyak reframing. Alias melihat sebuah kondisi dalam sudut pandang beda. Memang kelihatan suasana hancur, dunia tidak adil, suami tidak bisa mengerti, dsb. Tapi coba lihat sisi-sisi positif sepanjang sejarah. Apakah SELALU hancur? Apakah SELALU tidak adil? Apakah suami SELALU tidak mengerti?

Kata selalu sendiri kadang-kadang juga agak hiperbola. Apalagi ketika kita sedang marah.

Apakah suami berusaha memenuhi kewajiban? Apakah menyakiti (abuse) secara fisik dan psikis? Apakah selingkuh?Apakah punya wanita lain?

Ini pertanyaan untuk perilaku yang menurutku memang sangat serius. Selain itu….

Kadang kita perlu memaafkan banyak hal seperti kenapa manusia itu diciptakan tidak pernah sempurna.

Dan kalau bersabar semua itu akan ada buah manisnya. Terutama bagi mereka yang mau belajar dan mau merubah diri sendiri. Karena banyak bergaul dengan orang-orang tua juga, aku sudah melihat banyak kejadiannya dan bukti nyata. Happy ending yang dialami para istri sabar itu. Mereka sangat diperhatikan oleh anak-anak. Di hari tua punya banyak kawan dan jalan-jalan ke berbagai tempat.

Sementara suami yang tidak mau berubah jadi sensitif jelang usia 50 tahun dan mulai tidak keras lagi (hormonal berperan). Suami yang luar biasa bandel, di saat tua akhirnya tidak berdaya dan butuh bantuan semua orang. Ada suami yang ketika tua malah tidak diperhatikan anak-anaknya karena hidupnya cuma untuk pekerjaan.

Kita memang tidak bisa menentukan masa depan pasangan kita, tapi kita bisa menentukan masa depan kita ingin seperti apa. Dan bagaimana mengisi kekosongan ketagihan dari inner child kita sendiri, suami, dan anak-anak. Sebuah kebijaksanaan. Kalau mengedepankan kepentingan diri sendiri, aku yakin sudah lama bubar banyak mahligai perkawinan. Karena bagaimanapun keluarga adalah sebuah tim. Saat satu anggota terkapar, yang lain harus menggantikan posisinya untuk sementara.

Makanya daripada bikin dan mencetuskan mommy’s war dsb, lebih baik galang persatuan dan kesatuan. Saling dukung membentuk sebuah support system. Karena tidak seorangpun diantara kita yang tahu kapan akan butuh.

Untuk semua perempuan di seluruh dunia. Be brave, be bold, be strong, be wise. You’re not alone. I wish you all the best and…. good luck.

Apakah selama ini kamu sudah memiliki support system?

Image : flickr.com

Iklan

2 respons untuk ‘Pentingnya Support System untuk Perempuan

  1. Emaknya Benjamin br. Silaen berkata:

    Namanya perempuan kalau unek2 ga dikeluarin dg curhat bisa stres deh 😀 . Klo curhat dg suami, di iya-iyain aja tapi matanya entah ke tv atau ke komputer, ga enak kan punya teman curhat model begini. Asyiknya curhat ke sesama para ibu aja yg mengerti posisi kita, makanya bisa sampai nangis sesegukan klo curhat hehe 😆 .

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s