Harta, Tahta, Kuota

hartatahtakuota

Bunga adalah ibu-ibu muda jaman now yang penuh ambisi. Seperti semua perempuan muda lain sangat terpengaruh oleh media sosial dan punya komunitas kuat.

Ia telah berbekal banyak ilmu parenting dan bergabung dalam berbagai komunitas parenting.

Dalam kesadarannya yang kuat setelah belajar ilmu itu, serta tingkat spiritualnya yang tinggi, ia merasa tidak ingin mengabaikan keluarga. Ia kemudian resign dari pekerjaannya yang menjanjikan. Tapi dorongan untuk memenuhi mimpinya sangat tinggi.

Para senior dalam komunitas parenting seringkali menasihati bahwa,

“Jadi perempuan itu tidak bisa kebanyakan peran”

Ini karena perempuan memang punya kemampuan multi tasking tinggi, tapi terkadang berimbas pada konsentrasi yang terbagi. Beda dengan pria yang tidak terlalu multi task tapi punya daya konsentrasi yang kuat, fokus.

Tapi Bunga sudah kadung ngeces melihat reputasi para senior yang sudah mapan di bidang ini dan itu, bahkan sudah punya panggung mereka sendiri-sendiri. Ia mulai mengembangkan sebuah karir dan bisnis. Istilah kerennya working-at-home mom. Dengan bantuan komunitas dan networking ibu-ibu yang ia miliki, karir dan bisnisnya berkembang. Apalagi komunitas-komunitas tersebut memiliki jaringan pertemanan yang sangat kuat karena merasa senasib. Dan Bunga tahu apa yang dibutuhkan oleh mereka.

Saat itu anak-anaknya mulai beranjak usia batita dan balita.

Yang terjadi selanjutnya, karir dan bisnisnya berkembang pesat. Bunga dikenal dimana-mana sebagai pelopor dan tokoh dalam bidangnya. Ada di berbagai media sosial. Rejeki, uang, dan popularitas mengalir. Dalam profilnya Bunga tetap memposisikan diri sebagai ibu sekian anak yang aktif di ini dan itu, sekarang memiliki profesi mumpuni.

Ia menjadi inspirasi ibu-ibu lainnya yang awalnya takut untuk resign. Harapan bahwa ketika ada di rumah mereka tidak hanya berkutat pada persoalan domestik. Bunga sangat menikmati semua imej itu. Aktif memberikan nasehat di berbagai komunitas.

Tapi tidak ada yang tahu bahwa di balik itu semua……..

Di rumah, Bunga banyak menghabiskan waktu menghidupkan bisnis dan karirnya lebih dari saat dia dahulu bekerja. Anak-anak lebih banyak dititipkan kepada orang lain walaupun masih dalam pengawasan. Karena membangun semua itu butuh tenaga dan perhatian yang tidak sedikit. Belum keharusan menjaga engagement dengan komunitas online maupun offline. Sementara suami tidak bisa terus menerus menggantikan peran karena di tempat kerja tidak semua fleksibel.

Bunga tetap bersikeras bahwa anak-anak harus dididik oleh orang tuanya sendiri. Namun ia akhirnya sadar bahwa itu di luar kemampuannya. Semakin lama kue pembagian waktu semakin sedikit.

Bunga diam-diam melihat sinergi yang dihasilkan oleh kawannya yang lain dimana suami istri ada di bisnis yang sama. Akhirnya ia membujuk suaminya untuk membangun bisnis sendiri agar mereka lebih bisa mengatur waktu dengan luwes.

Suami Bunga tentu saja menolak karena dia sudah merasa mapan dan karirnya di kantor cukup bagus. Bunga merasa bahwa suaminya tidak mau meluangkan waktu untuk anak lebih darinya, serta berbagi tanggung jawab. Dia merasa lelah harus mengerjakan semua sendiri. Apalagi anak-anak semakin aktif. Akhirnya mereka sering bertengkar. Merasa tidak diterima apa adanya suami Bunga semakin defensif dan menutup diri. Bunga merasa frustasi dengan semua ini dan mempertimbangkan perceraian.

00956478.JPG

Dalam pandangan istri, sang suami…

Ada Bunga versi lain di luar sana, yang para suaminya memutuskan untuk bekerja di rumah atau resign. Tapi di beberapa kasus, ada yang jadi minder karena karir istrinya di rumah sudah lebih mokcer terlebih dahulu.

Akhirnya yang dilakukan si suami ini adalah menjadi pendukung bisnis istrinya. Waktu mereka sangat fleksibel, sehingga banyak di rumah. Walaupun banyak mendapat pujian dari komunitas tentang peran ayah, dalam hati kecil beberapa dari mereka merindukan untuk memiliki peran mereka kembali sebagai breadwinner. Terutama karena pandangan masyarakat.

Menghindar dari pembicaraan masyarakat, para suami ini lebih banyak menarik diri dan bergabung dengan sesamanya. Karena terlalu lama berada di rumah, mereka menjadi terbiasa dengan peran domestik. Adrenalin mulai berkurang. Sementara adrenalin itu sendiri sangat dibutuhkan untuk memicu ambisi dan memenangkan berbagai kompetisi.

Itu masih mending, ya. Terparah adalah bila ada pihak yang jatuh selingkuh karena dianggap selingkuhannya lebih menerima apa adanya dibanding pasangan resmi. Serta bisa membangun harga dirinya atau menerima perasaannya.

Lalu apakah tujuan akhir berkeluarga tercapai…..? Entahlah…

Tokoh diatas adalah fiksi namun berdasarkan kisah nyata di lapangan yang sudah diambil dari sana-sini.

Yang aku perhatikan dari semua kasus itu, resign dari pekerjaan bila tanpa diiringi kesiapan mental untuk menghadapi dunia yang hadir sekarang (terutama jaman medsos) akhirnya akan jadi bumerang. Dunia dimana perempuan dituntut memiliki banyak peran, berlomba eksis, menghasilkan banyak prestasi dan uang. Pada akhirnya perempuan kembali terbelenggu oleh sebuah peran ideal baru yang diarahkan oleh trend di jamannya masing-masing.

mul

Gambaran ideal cewek jaman now…
Masalah dari jaman dahulu dan sekarang akhirnya sama. Seperti di literatur klasik. Bentuknya aja beda.

It’s all about money. And fame (kalau mau ditambahin).

Apalagi sekarang bukan harta, tahta saja. Tapi harta, tahta, kuota…wkwkwkkwk…

Jadi kalau kupikir-pikir benar juga pesan dari para senior itu. Godaan terbesar bagi seorang istri dan ibu itu adalah kebanyakan peran (nggak bahas yang laki-laki ya karena sini kan perempuan heheheh).Yang dilihat oleh para ibu-ibu junior itu sebetulnya adalah bling bling dari para senior yang kini dilihat setelah anak-anak mereka tumbuh dewasa. Ketika masih kecil-kecil, kita mendengar nama mereka saja enggak. Kadang fakta sejarah itu yang sering dilupakan. Para senior itu juga pernah mengalami rasa kapok ketika anak jadi korban karena pekerjaan mereka. Dan beruntung sadar serta mulai “ngerem”.

Makanya aku sangat respek sekali pada seorang ibu yang dengan sederhana dan muka santainya bilang.

“Saya mah bikin usaha ini sekedarnya untuk kesibukan saja.” Sambil sesekali main dengan anaknya.

Dan aku paham benar bahwa si ibu ini menolak membesarkan usahanya. Walau sana-sini ada suara-suara yang memotivasi supaya buka cabang. Aku yakin anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak yang sangat bahagia. Semoga setelah anaknya besar dia bisa membesarkan juga usahanya.

Di sebuah tempat kerja, aku ingat bagaimana seorang Boss pria yang sudah senior, memarahi anak buahnya yang kebanyakan meleng. Kira-kira begini ucapannya. Singkat.

“Hadapi dulu pekerjaan di depan mata!”

Memang jadi ibu bukan sebuah pekerjaan, karena itu terjadi secara alamiah. Tapi kayaknya pesan ini cocok juga buat ibu-ibu sepertiku wkwkwk. Belajar fokus ayo, ayo….

Untuk mereka yang mulai pusing melihat dan mulai membandingkan dengan orang lain mungkin kata ini yang lebih tepat, all that glitters isn’t gold.

glit

Nggganu…maksudnya bukan glitters yang ini..

Di dunia maya, bahkan kadang di dunia nyata juga, terkadang lebih banyak pencitraannya. Kita nggak pernah tahu yang sesungguhnya. Seolah-olah saja kita kenal padahal nggak. Seperti kisah Bunga kita tidak pernah tahu apa sebetulnya yang terjadi di belakangnya.

Ukuran kenal menurutku mungkin seperti nasihat Umar bin Khattab, yaitu : apakah kita pernah memiliki hubungan dagang/hutang piutang dengannya, pernah berargumentasi atau berbeda pendapat serta melihat bagaimana ia menanggapinya, apakah pernah menyaksikan seseorang itu marah dengan emosi berlebihan, serta apakah kita pernah berpergian dengannya dalam waktu sepuluh hari atau lebih.

Bila kita belum pernah melakukan semua itu dengan seseorang, hmm ya maaaf, kita sebetulnya belum benar-benar kenal! Baru pakai perasaan doang…Jadi woles ajalah…..Jangan sampai waktu sia-sia untuk termangu membandingkan dan membayangkan kehidupan orang lain.

Sementara itu di berbagai lingkungan pergaulan dan beberapa medsos masih banyak hal-hal yang menari-menari menggoda dengan berbagai visualisasi, harta, tahta, kuota.
Dan akan selalu demikian adanya, sebuah dinamika kehidupan manusia.
—–

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu memiliki pendapat atau pengalaman lain?

Iklan

13 respons untuk ‘Harta, Tahta, Kuota

  1. Crossing Borders berkata:

    Saya “nyambung” banget dgn tulisan ini. Dulu waktu masih ngantor dan single, saya suka perhatikan betapa peningnya teman kantor perempuan yg punya anak kecil membagi waktu. Karena melihat hal ini, saya jadi berdoa kenceng agar ketika punya anak nanti saya dicukupkan rezeki agar tak perlu kerja sehingga fokus mengurus anak. Meski saya perempuan, tapi saya bukan tipe multitasker, rasanya tak akan sanggup kalo harus kerja full time sambil ngurus anak kecil.. Kalaupun dikerjakan, pasti salah satu kena dampak gak enak.. Salut sama mereka yg bisa multitasking..👍
    Alhamdulillah doa saya zaman dulu itu terkabul, saya jadi stay at home Mum, suami pun sangat mendukung, dan semua tagihan terbayar😉 meski kami bukan keluarga kaya raya dgn bisnis bagai gurita..
    Mendapatkan penghasilan tambahan itu menyenangkan. Itu pula yg saya lakukan sejak punya anak, work from home, tapi prioritas utama saya tetap anak, setidaknya sampai dia masuk SD. Kalo sudah sekolah pasti waktu luang saya akan lebih banyak.. Saya juga makin membatasi diri melihat godaan duniawi (utk punya uang lebih banyak dari yg dibutuhkan). Like you said, all that glitters isn’t always gold after all…

    Suka

    • Seaマ berkata:

      Terima kasih sharingnya. Syukur tercapai ya, doanya. Semoga makin dimudahkan ke depan. Benar, kalau kata orang Jawa urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang, hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat…..kurang lebih begitu😅😆

      Suka

  2. imeldasutarno berkata:

    makanya aku mah gak mau jadi superwoman kayak ibu-ibu hits di luar sana yang sanggup urus anak sendiri, bisnis super maju, dan tetap cetar membahana full make up sempurna tampil di mana-mana. Buatku ya balik ke realita, waktu kita semua cuma ada 24 jam dalam sehari, siapapun kita. Jadi kalo dalam 24 jam itu ternyata memang gak sanggup untuk melakoni peranan lain misalnya jualan online yang ambisius ya udah gak usah dipaksa. Pake prioritas, kita gak perlu jadi yang the best untuk di semua bidang kok.
    Aduh jadi panjang mbak komenku, maafkeuuun….

    Suka

  3. mayang koto berkata:

    belum nikah, apalagi punya anak jadi gak bisa komentar krn belum ada di posisi itu
    tapi berharap kalo udah punya anak bisa di rumah aja ngurus anak. kalo kerja tapi anak gak keurus ya buat apa 😀

    Suka

  4. Emaknya Benjamin br. Silaen berkata:

    Hai SeaMa kalau saya sudah 2 tahun ga main FB lagi, sdh kututup akunnya, twitter hanya untuk ngelink dg blog klo ada postingan baru, jadi ya ga ngebandingin diri sendiri dg ibu lain, atau memandang para ibu lain lebih beruntung ketimbang saya 😀 . Saya ibu dirumah, ngurus 2 anak kecil ga bisa diprediksi klo tiba2 si bocah minta perhatian lebih, jadi saya ga berani deh ikutan bisnis atau kerja sambilan di rumah. Eh dulu pernah selama 4 thn jualan bibit2 bunga dari Jerman kirim ke target Indonesia, pelangganku dari sabang sampai merauke. Omset lumayan, trus ya sdh punya anak kedua ga kepegang lagi. Sering saya bungkusin bibit2 smapai tengah malam, besoknya bangun pagi ngurus bocah2, puyaeng haha. Skrg sih ngeblog dan main youtube aja, nyantai ga ngejar target juga dapat duitnya.

    Suka

    • Seaマ berkata:

      Ho oh. Nggak kuat pas bangun pagi ngadepin turbulensi anak2 kalo semalam abis kerja bergadang 😆😆 Tapi keren mbak Nella, megang anak sendiri, no maid, bisa ngeblog dan jadi youtuber sekaligus. Sudah pernah share cara pembagian waktunya di blognya?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s