Tugas Dari Sekolah

tugas

Sekolah Boni memberikan tugas kepada murid-muridnya agar pada sebuah pementasan menyiapkan tampilan bertema teknologi. Bagaimana-bagaimananya diserahkan kepada murid dan orang tua mereka.

Tentunya ini diinformasikan juga secara langsung kepada orang tua murid. Tujuan dari kegiatan itu adalah untuk mempekenalkan tema teknologi dan membuat kreasi yang membuat anak-anak hepi dalam melaksanakan.

Orang tua murid yang baik sangat concern akan hal ini. Umumnya yang terjadi, karena biasanya mereka memiliki sebuah jaringan antar orang tua murid, mereka akan berunding. Bagi yang memiliki kesibukan di luar rumah, mulai merasa cukup pusing dengan tugas ini dan deadlinenya. Mereka akan mencari orang tua lain untuk diajak kerjasama, minta bantuan memenuhi kekurangan seperti titip beli ini dan itu..

Kemudian muncul orang tua dari Angel, yang kebetulan memiliki kreativitas, minat, dan ketrampilan, menyanggupi untuk memenuhi sebagian besar pembuatan tema tersebut. Langsung berbondong-bondong orang tua murid yang memesan, termasuk orang tua Boni.

Semalaman orang tua Angel bersama Angel mengerjakan tema tersebut. Mulai dari tema handphone sampai drone. Mungkin sampai bergadang. Dan di hari H semua beres. Boni tinggal menerima dan menggunakan karya tersebut.

Semua orang gembira di saat pementasan. Angel walaupun tampak lelah sangat bersemangat. Boni? Ia cukup memikirkan saat di pentas dia mau melangkah kemana.

Kisah diatas adalah sebuah ilustrasi kejadian sehari-hari.

Pertanyaannya. Apakah ada yang salah dengan semua diatas?

Kelihatannya tidak, ya. Ini umum terjadi terutama di Asia. Dimana we culture cukup kuat, melakukan sesuatu secara bareng-bareng. Dalam pengamatanku selama ini dalam sebuah kerjasama akan ada orang yang woro-woro (leader), orang mencetuskan gagasan, kemudian orang yang mengerjakan dan… orang yang nggak ngapa-ngapain wkwkwkwk….

Kalau beruntung kita kebagian yang paling akhir. Aku kadang-kadang selalu memimpikan itu juga, lho, hihihi.

Tapi beneran beruntung nggak, sih?

Mari kita kembali ke laptop. Yaitu tema dan tujuan dari sebuah tugas. Berhubung ini tugas sekolah tentunya guru yang mengamanatkan akan bikin target (bila gayung bersambut, sama dengan persepsi orang tuanya) :

  1. Mengenalkan tema teknologi kepada anak-anak
  2. Merangsang kreativitas
  3. Kerjasama dan komunikasi antara anak dan orang tua seputar tema
  4. Kemampuan mengaplikasi
  5. Kemandirian

Idealnya begitu. Tapi yang terjadi kemudian, kalau yang kulihat dari beberapa kasus umumnya adalah :

  1. Panik
  2. Mencari solusi
  3. Memilih diantara banyak alternatif solusi (bekerja sama, minta tolong, dll)
  4. Menyampaikannya solusi dan hasilnya pada anak

Dan yang aku lihat, model orang tua Angel yang kemudian berhasil melalui 5 poin target dari guru. Kemudian Angel juga jadi belajar bahwa bikin sesuatu yang bagus itu enggak gampang. Perlu bergadang segala.

Jadi kadang-kadang tujuan tugas sekolah tercapai tapi prosesnya nggak jadi perhatian banget. Kalau sekolah kan yang penting hasilnya ada.

Tapi hasil pemikiranku ini tidak mungkin kusampaikan sejujurnya ketika ada kejadian begini. Kalau di Indonesia bisa digebukin semua orang wkwkwk…..

“Nyusahin, lo, padahal udah ada yang gampang!”

Itu bisa terjadi pada siapapun, termasuk aku.

Tulisan ini selain mengisahkan kenyataan juga sebagai bahan pengingatku agar jangan sampai suka cari jalan yang gampang. Dan memang tugas dari sekolah itu ribet. Kadang-kadang malah hebohan orang tuanya daripada anaknya. Seperti memetakan….wah kira-kira si A dan B bikin kayak apa ya? Jangan sampai kalah…Eh, itu sih kalau ortu yang semangat kompetisinya ketinggian kali yaa wkwkwkwk…

Tapi, ya, kadang seperti itu aku juga merasakan. Ketika coaching anak untuk mengerjakan tugas sekolah. Besar sekali godaan untuk “tertarik” ke masa lalu. Jadi seolah-olah aku yang kembali ke masa sekolahan dan menghadapi semua itu.

Makanya banyak yang sampai habis-habisan, gempor-gemporan, supaya karya anaknya kelihatan stunning. Ya, nggak masalah sih selama masih taraf wajar.

Aku berusaha menemukan kata kunci supaya tahu kapan “stop” ketika sudah terasosiasi dengan pengerjaan. OK tahan. Ini sebetulnya tentang aku atau anakku ?

Kadang-kadang banyakan “aku”-nya ternyata. Wkkwkwkwk.

Khawatir hasilnya jelek sementara yang lain bagus? Anu. Anaknya sendiri mikirin itu nggak? *kadang-kadang kitanya yang lebih mikir*

Lebih penting mana hasil bagus tapi yang ngerjain orang lain atau hasil biasa-biasa saja tapi harganya jadi enjoying the proccess….?

Sama seperti bagi tugas antara orang tua murid itu. Sebetulnya iya, itu menimbulkan banyak hal positif ….untuk orang tuanya. Hahahaha…ya kan jadi menemukan solusi dan bekerjasama? Yang dapat semuanya menurutku adalah anak dan orang tua yang mengerjakan PR. The lucky Angel. Atau orang tua lain yang keukeuh melakukan itu secara mandiri.

Ada hubungannya juga dengan parenting model helikopter sih. Cuma itu bahasan lain.

Karena kita orang Asia dengan semangat bekerja sama kelompok yang cukup kuat (terutama saat ujian wkwkwkwk), nggak ada salahnya mulai mewaspadai kelemahan satu ini. Sesuatu yang jadi kekuatan saat konteksnya kerja kelompok dan jadi kelemahan saat konteksnya kerja individual. Harus perhatikan dulu ini jenisnya kerja apa? Supaya nggak salah fokus…

Sometimes we forget that every single minute and every single challenge is part of a learning process for children.

Sementara jauh hari sebelumnya kita sudah melaluinya.

—-

Apakah kamu pernah mengalami kasus seperti ini? Bagaimana biasanya reaksimu?

Image : pxhere.com

Iklan

10 respons untuk ‘Tugas Dari Sekolah

  1. anis ketels berkata:

    Anak-anak kami biasakan untuk selalu nyoba ngerjain sendiri tugas-tugas sekolahnya, dengan catatan mereka boleh nanya kalo memang ga ngerti. Kami (dan sekolah) juga ga mempermasalahkan kalo hasil yang mereka buat sendiri ga sebagus kalo kami bantu buatkan. Toh bagaimanapun hasilnya mereka tau kalo mama-papanya bangga dengan usaha mereka. Paling penting adalah mereka mengerti kalo untuk menghasilkan sesuatu ga bisa instan – harus ada usaha 🙂

    Suka

  2. mayang koto berkata:

    adek2 saya mbak sering dapat tugas dari sekolahnya. katakanlah prakarya, disuruh gurunya bikin ini itu tapi gak dicontohin. ya pusinglah itu anak-anak gak ada gambaran apa yang mau dibikin. akhirnya tugas bikin prakarya didelegasikan kepada orangtua. dan ujung2nya didelegasikan lagi pada kakak-kakaknya wkwkwk

    kalo jaman saya sekolah dulu. kita bikin di kelas, kalo gak kelar baru diselesaikan di rumah. supaya ada gambarannya. gurunya ngajarin cara bikin dll, kitanya enak bikinnya karena sudah tau caranya

    kayaknya yang sekarang beda sistem. guru nyuruh bikin ini itu. tapi gak diajarin dulu ke muridnya. ya akhirnya keluarga si anak yang bikinin, karena pengen si anak dapet nilai bagus di sekolah

    Suka

  3. imeldasutarno berkata:

    Pernah. Beberapa minggu lalu anak saya disuruh bikin kliping hewan peliharaan dan menyebutkan nama makananya. Misalnya sapi makanannya rumput. Saya cuma nyiapin kertas HVS dan ngeprint gambar-gambar hewan dari laptop kantor (dirumah ga ada laptop dan printer, apalagi internet). Abis itu anak yang ngerjain menggunting+nyusun+nempel gambar ya anaknya sendiri. Wah berantakan deh, hasil guntingannya enggak rapi blas, nempel juga masih keluar-keluar area kertas, dll. Dibiarin aja, yang penting itu hasil karya dia sendiri, bukan atas bantuan ortunya.
    Di sisi lain, di WA Grup ada satu ibu2 yag ketika wali kelas mengumumkan tugas kliping ini, spontan berkata kadang greget pengen banget bantuin anak supaya hasil karyanya rapi. Dibales sama wali kelas: mohon kerjasamanya ya moms biar anak yang menyelesaikan tugas kliping ini.
    Ah jadi panjang deh komennya…..

    Disukai oleh 1 orang

    • Seaマ berkata:

      Nggak apa-apa mbak Imelda. Jujur memang kadang suka gemas dan nahan dirinya itu syussah ya..Cuma ya itu kadang ngeri efek ke belakangnya suka panjang. Aku pernah jumpa anak yang sudah usia 20 an yang selalu bingung saat ambil keputusan yang menurutku sepele. Seperti pakai baju apa, inginnya kemana. Tampaknya terbiasa siap ditolong oleh orang tuanya..

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s