Sekolah Pertama

Salah satu kemampuan yang ingin kukembangkan belakangan ini adalah jadi terapis kecil-kecilan. Bagus untuk diri sendiri atau keluarga, apalagi kalau temanya parenting. Karena itu banyak belajar sana sini. Ya, belum seberapa, sih. Ada yang sudah mahir banget.

Kadang kalau ikut pelajaran begitu sekaligus bisa mengenali diri sendiri lho. Banyak yang ketarik ke masa lalu. Dan aku selalu jadi belajar hal baru. Terutama tentang kehidupan. Salah satunya bagaimana sumbangan masa kecil yang paling signifikan dari semua orang adalah peran ibunya .

Yes mothers. Bukan bapak? Ya bapak juga sih. Tapi kalau ibunya setrong and wise, biasanya efek bapak yang misalkan error, bisa diminimalisir. Kalau nggak punya ibu mungkin ibu penggantinya yang berperan besar.

Makanya aku sampai heran benar kalau ada orang yang protes habis-habisan pada kalimat ibu adalah madrasah pertama, demi alasannya sendiri. It doesn’t make any sense!

Madrasah pertama.

Sekolah kita yang pertama.

Atau kalau dalam bahasa Inggris…our first teacher.

Mother is our first other

Ya memang kenyataannya begitu kok. Mau dibilang apa juga. Secara keilmuan anak belajar dari ibu sejak dari janin. Makanya jika gurunya gimana- hasilnya gimana? Kalau banyakan absen tanpa ada guru pengganti hasilnya kira-kira apa?

Anak umumnya tidak akan protes lagi kalau dia rasa protes saja percuma. Itu insting dasar makhluk hidup.

Misal, kasus sebutlah bapak Bambi. Dia punya masalah yang agak aneh. Kayak bosan dan nggak semangat hidup. Dirunut-runut ternyata akibatnya ketika masih jadi janin, ibunya pernah menyebut ingin membunuh saja anak dalam kandungannya ini. Whiiiy. Apa? Kok bisa tahu? Ya karena setelah mencurigai itu, terapisnya bertanya langsung ke ibunya yang masih hidup. Ibu pernah bilang apa ke anak ibu ketika ia masih dalam kandungan? Ibu itu langsung menyesali dan berucucuran air mata saat bercerita.

Makanya ibu-ibu yang lagi hamil hati-hati kalau lagi ngomong. Termasuk misal, menyesal pada jenis kelamin anak. Atau marah-marah. Mereka, janin-janin itu denger, lho. Jangan di kata enggak.

Itu baru janin. Apalagi yang udah batita, balita, dan gede.

Mereka punya perasaan.

Saat jadi parent kita selalu berperang dengan ego. Jadi kadang kita sendiri ketarik ke masa lalu ketika seorang anak menentang kita.Yang terbayang trauma ketika dulu kita dipelototin ibu atau ayah. Sampai preman. Atau saat kita juga rebel. Padahal anak adalah individu yang berbeda. Akhirnya kita marah dan melakukan hal-hal yang akhirnya menyakitinya. Anak jadi merasa tidak diterima perasaannya. Kita jadi baper dan menduga kemana-mana. Sama-sama terjadi damage.

Ini kerap terjadi terutama pada strong-willed-child. Anak yang sering disalah pahami sebagai rebel. Padahal biasanya itu anak pintar yang berkemauan keras. Bisa jadi pemimpin. Tapi yang ada kita bukannya bersyukur, mengarahkan, dan menghargai bakat mereka, kita malah punya kecenderungan bertangan baja, menghancurkan harapan mereka sampai sekecil-kecilnya untuk belajar memegang kendali dan berkembang dengan pilihannya sendiri.

Padahal ngadepinnya perlu pakai taktik, salah satunya beri beberapa pilihan. Minta dia milih atas kemauannya sendiri.

Kasian lho para strong-willed-child ini. Mereka benar-benar sering disalah pahami. Kalau di Indonesia mereka biasa diancam pakai adat istiadat, dalil agama dengan bermacam-macam model ancaman dan kutukan. Akhirnya malah jadi anti budaya sendiri dan anti agama. Padahal harusnya yang dikeluarkan dalil yang sejuk-sejuk.

Tapi kubilang, orang tuanya juga salah. Salah metode. Dan (kebanyakan yang kutemui) mereka keras kepala. Benar-benar keras kepala *menarik nafas panjaaang*. Mungkin masa lalu mereka sendiri juga belum selesai kali, ya hihihihihi…. Padahal deep inside, para strong-willed-child ini…. their heart is broken. Dilabeli macam-macam, diduga yang tidak-tidak, dikutuk dsb. Mereka terlahir survivor, tapi ya itu sebetulnya berdarah-darah. Yang jadi favorit dalam keluarga pada umumnya adalah para anak penurut.

Anak penurut paling enak? Hati-hati juga sih. Jadi parent itu constant vigilance. Nggak boleh abai. Pernah ada kasus anak baik penurut yang ternyata narkoba. Ternyata dia disuruh coba-coba narkoba sama teman-temannya dan mau. Karena penurut. Kalau strong-willed-child pasti udah curiga duluan dan bisa gebukin balik kalau dipaksa.

Menghadapi semua tipe anak sebetulnya nggak banyak beda. Ketika berdialog yang namanya orang tua itu harus berlaku seperti coach atau konselor. Nggak boleh menghakimi, menasehati, atau berprasangka. Terima saja dulu perasaannya saat itu, bila dia sedang emosi (sayang kebanyakan dari kita kan kadang-kadang suka ngeyel meremehkan ah itu kamu aja yang terlalu lebay..blablabla).

Perasaan membuat logika mampet. Jadi biarkan mengair dulu. Arahkan opininya setelah logika mengambil alih. Kalau tidak diterima dulu, percaya deh padaku, kecuali anda sekeluarga tinggal terisolasi, berikutnya mereka akan CARI orang lain yang bisa menerima perasaan mereka. Ya, kalau ketemu yang orangnya bener. Kalau nggak?

Atau bertahun-tahun kemudian, bahkan yang sudah tua-tua, berakhir di ruang konseling atau terapi, seperti banyak yang kutemui. Bercerita tentang kelakuan orang tuanya sampai tersungguk-sungguk. Mau anak kita berakhir seperti itu? Memendam clurit sampai bertahun-tahun? Dan kelakuan kita sebagai parents diketahui orang? Lebih murah dan mudah yang mana?

Dari cerita banyak orang aku jadi tahu bagaimana orang tua dan khususnya para ibu bisa melakukan banyak hal yang tidak masuk diakal. Beberapa diantaranya kejam kalau menurutku. Ada yang melempar anaknya pakai sapu, mendisiplinkan dengan cara yang ampun-ampunan, di luar keliatan baiiik banget tapi di dalam rumah sama anak sendiri ngomongnya sadis dan nggak berperasaan, ada yang merampas cucu dari anak atau menantu, ada yang membedakan satu anak dengan yang lain sampai segitunya, bahkan ada yang mencoba menghancurkan mahligai perkawinan anaknya sendiri karena nggak cocok dengan menantunya (kayak di sinetron bajaj bajuri beneran).

Efeknya ke anak sampai ada yang kena penyakit yang tidak bisa disembuhkan (the mind suffers and the body cries out), trauma kalau mendengar nada atau ekspresi tertentu, mencoba berprestasi sampai gila-gilaan (endingnya selalu tetap tidak dapat hal yang diharapkan), kabur, sampai yang lebih tragis lagi.

All because of their mothers…..

Kalau sudah lihat ini aku suka bergidik beneran. Dan memang berdoa itu nggak boleh putus, ya. Karena selalu ada saja yang bisa mengusik peran parents. Dari dalam dan dari luar. Tapi kalau dari dalam setrong biasanya yang dari luar bisa dipentalkan.

Gimana dong…orang tua nggak mau berubah?

Kalau yang nanya begini anak dibawah umur ya kudu diperjuangkan habis-habisan. Tapi kalau itu pertanyaan orang dewasa, ya paling cuma bisa nyengir saja. Ya kitanya, as a grown ups, yang harus mencoba mencari cara. No. Bukan berarti kitanya yang salah, tapi ya kan yang kena dampak kita. Jadi harus cari cara keluar dari lubang kan? Tidak mungkin menghabiskan sebagian besar masa dewasa dengan meratapi diri terus ngomong, gue jadi begini karena orang tua gue. Mau seumur hidup begitu terus? Puhlease…

Jadi mari selesaikan dulu isu-isu di masa lalu supaya kita ke depan nggak jalan bawa beban. Amit-amit berat kan. Larinya capek dan nggak kuat jauh.

And especially for mothers, tolong ingat kita itu punya kemampuan menyukseskan atau menghancurkan kehidupan ke depan seorang anak manusia. Please, gunakan pilihan, kekuatan, perbuatan, dan perkataan kita, wisely.

Good luck…..

Iklan

5 respons untuk ‘Sekolah Pertama

  1. Crossing Borders berkata:

    Baca ini jadi lebih memahami diri sendiri sebagai anak, dan juga memahami anak sendiri, karena curiganya nih.., saya dan anak saya sama-sama tipe strong willed person.. Kadang capek otak juga membangun strategi dalam mengarahkan anakku ini..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s