Memilih Sekolah

Mungkin topik ini cocok buat ibu-ibu yang baru pertama cari sekolahan atau yang masih cari sekolahan.

Pengalaman pertama sebagai parent untuk mencari sekolah tentu sangat penuh dengan list-list yang perlu dicentang. Misal:

1.Sesuai budget

Nah ini yang nomor satu ada di list. Jangan kebalik malah belakangan. Yang ada semua list tercentang tapi biayanya ternyata super mihil. Bisa sampai kebawa-bawa mimpi, ibu-ibu. Wkwk. Jangan memaksakan diri. Nanti kayak kisah Meteor Garden. Apalagi kalau anak lebih dari satu.

2. Tidak boleh terlalu jauh

Mau anak atau emaknya tua di jalan? Selain mudah diawasi, kalau ada hal darurat juga relatif lebih mudah wira wirinya

3. Konsep sekolah

Disini macam-macam maknanya ada yang agamis, montessori, umum, akademis, internasional, pendidikan akhlak, dsb. Dipilih mana yang selama ini jadi prioritas dalam mendidik anak.

4. Materi Tepat Umur

Khusus untuk anak TK aku intip kalau sudah mengajarkan calistung wah enggak deh. Karena bagiku anak seusia itu harus lebih banyak bermain. Bahkan bermainnya juga bagian dari proses belajar.

4. Lingkungan sekolah

Apakah kondusif dan sesuai konsep yang dijanjikan? Banyakan praktek tidak seindah teori. Ini kudu survey lapangan seperti rubah diantara domba. Bunglon. Whatever. Banyak orang tua yang akhirnya menemukan bakat terpendamnya disini. Bakat jadi agen rahasia.

5. Lingkungan pergaulan

Ini agak rumit menjelaskannya. Lebih tepat kita juga menyelidiki demografi orang tua murid tempat kita bergaul juga nanti. Untuk pilihan atau sekedar siap mental. Istilah kerennya peta konflik. Apakah banyak kalangan sosialita? Bahaya kalau kitanya dompet Solaria kan. Wkwk. Apakah banyakan ibu bekerja atau ibu di rumah? Apakah agamis? Agamis yang bagaimana? Percayalah walau kita cuek, main aman, atau menghindar, cepat atau lambat ada waktu dimana kita harus berurusan dengan sesama orang tua. Apalagi bila ada kasus. Berurusan dengan orang tua yang sulit dari anak yang sulit itu sangat memusingkan.

6. Dinamika kelompok orang tua vs sekolah

Apakah sekolah mudah mendapat pengaruh dari grup orang tua atau sebaliknya? Ada bahaya bila salah satu terlalu dominan. Jika tekanan orang tua terlalu dominan (cenderung terjadi pada sekolah yang baru atau ketat bersaing dengan lainnya) sekolah akan kehilangan kekuatan dalam menerapkan kebijakan yang menyangkut pendidikan. Kalau sebaliknya, sekolah lebih dominan (cenderung terjadi di sekolah-sekolah favorit yang masuknya senggol bacok) siap-siap terjadi kondisi otoriter dan anti kritik.

7. Wawancara langsung

Standar operasional wawancara langsung dengan otoritas di sekolah tersebut. Siapkan pertanyaan-pertanyaan yang kita prioritaskan. Kalau aku misalnya, bagaimana cara sekolah dalam menangani bully, masalah kedisiplinan, dsb? Bagaimana cara mereka menerapkan konsekuensi? Apakah ada sejarah kisah nyata? Dan boleh percaya atau tidak dari pemaparan banyak orang yang ku wawancarai ternyata bisa menggali banyak hal.

8. Kasus-kasus Khusus Lain

Sebagai contoh apakah sekolah tersebut sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus? Bagi yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan yang tidak, perlu mencermati praktek di lapangan serta bagaimana kemampuan tenaga ahli yang tersedia. Karena bila tidak terpenuhi, bisa mempengaruhi kondisi kejiwaan kedua nya.

—————

Setelah semua list dicentang dari beberapa sekolah mari suami istri berunding. Analisa kekuatan dan kelemahan masing-masing. Yang jadi patokan adalah : apakah dengan memasukkan anak kesana akan memenuhi tujuan keluarga?Apa yang tidak bisa kita penuhi di rumah tapi bisa dipenuhi oleh sekolah itu? Apa kelemahan sekolah itu bisa ditambal oleh kita di rumah?

Karena begitu bayar dan masuk kita harus siap dengan konsekuensinya. Kalau tiba-tiba pindah kan sayang aja duitnya ya? Kecuali ada hal-hal yang memang sangat krusial dan mendesak.

Aku merasakan pengalaman sekolah dari yang ekstrim kiri, netral, dan ekstrim kanan (eh ini bukan istilah politik yaa) dan akhirnya menarik kesimpulan bahwa nggak ada itu namanya sekolah yang sempurna. Mendekati sedikiiit mungkin ada.

Sering kulihat ortu yang memuji-muji sekolah anaknya setinggi langit. Ya puas sebab memenuhi harapan dan kebutuhannya. Padahal dibaliknya selalu kutemukan juga orang tua lain yang berpendapat sebaliknya.

Karena dalam sekolah manapun selalu ada kasus dan dinamika. Bahkan di sekolah paling favorit dan disiplin tetap ada masalah bullying. Kita tidak mungkin melindungi anak 100% dari semua masalah itu. Justru tujuan kita memperkenalkannya dan bagaimana cara menghadapinya.

Yang paling berbahaya adalah bila sebuah sekolah atau gurunya mulai berbeda konsep, sudut pandang, dan praktek penerapannya- dari penjelasan semula yang disepakati dengan orang tua. Atau ketika sekolah mempraktekkan A, sementara orang tua di rumah mempraktekkan B. Ini akan jadi rumit dan wajib didiskusikan untuk mencapai kesepakatan. Inkonsistensi atau ketidaksamaan aturan akan membuat anak bingung dan akhirnya punya standar ganda tentang arti keadilan.

Jadi ketika melepas anak ke sekolah yang kita anggap ideal bukan berarti bisa lebih santai. Tambah kesibukan atau me time. Itu cuma saat anak di sekolah doang. Setelah dia pulang ke rumah? Sejak detik anak melangkahkan kaki ke kelas pertamanya, kita sudah ketambahan satu profesi baru yaitu…tukang tambal sulam. Wkwkwk. Selamat, yaa…

Karena ke depannya nanti di rumah kita harus menambal sulam, melengkapi banyak hal yang tidak mungkin di handel atau di akomodasi oleh sekolah. Saat anak-anak berjumpa dengan kawan yang orang tuanya punya standar berbeda, sampai soal akademik seperti mau ujian negara dan lain-lain. Sekolah seringkali hanya melengkapi satu sisi puzzle kebutuhan anak, yang lain sebetulnya tetap kita yang pegang.

Jadi apakah anak anda sudah sekolah? Bagaimana pengalaman anda selama ini?

Iklan

8 respons untuk ‘Memilih Sekolah

  1. denaldd berkata:

    Nomer 4 setuju banget. Aku mengamati (hanya mengamati belum sampai tahap riset secara dalam) di Indonesia ini banyak sekolah mengedepankan anak2 bisa calistung sejak usia balita. Padahal kalo balita ya tugasnya bermain sepuasnya. Di Belanda, anak diperkenalkan calistung baru usia 7 tahun. Mulai masuk sekolah umur 4 tahun. Jadi selama rentang 3 tahun itu ya mereka bermain sepuasnya. Nah begitu diperkenalkan dengan membaca (dari calistung itu, membaca dulu yang diperkenalkan), mereka benar2 dilatih untuk membaca dan memahami. Kalau tidak salah, Belanda ini menempati peringkat atas untuk kemampuan membaca dan memahami. Padahal baru diperkenalkan dengan membaca umur 7 tahun.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s