Kerja Kelompok Di Sekolah

parents

Tema sekolahan lagi?Ah ini bukan kejar kata kunci ya kebetulan saja ide-ide menulisnya sedang banyak seputar itu. Hehehe.

Kalau dapat kerja kelompok yang melibatkan orang tua dan anak, dari sekolah, apa peran yang ingin kudapat? Aku biasanya memilih untuk nggak ngapa-ngapain alias jadi penggembira saja.

Lho kenapa?

Ada ceritanya…

Aku bukan tipe pemalas yang sampai banget. Semua orang yang mengenalku tahu kualitas fokusku bila sudah bekerja. Bahkan intensitasnya sampai disebut mirip laki-laki (makanya nggak bakat multi tasking). Tapi kenapa aku sampai mengambil kesimpulan lebih baik kalau di sekolah anak jadilah aku orang tua yang tujuan bekerja kelompoknya penggembira saja?

Ini pengalamanku yang notabene anak tinggal dan sekolah di Indonesia. Jadi begini.

Apa Itu Kerja Tim dan Karakter Manusia

Kita dari sejak kecil dulu sudah tahu kan ada yang namanya kerja kelompok. Team work. Apalagi ketika dewasa levelnya sudah tim yang namanya bisa keren-keren.

Nah dalam tim level manapun kita akan belajar bahwa idealnya :

  1. Semua termotivasi dan bekerja atas nama kelompok
  2. Tidak boleh ada anggota yang dominan atau menonjol
  3. Ketua bertanggung jawab menyeleraskan kerja kelompok
  4. Bekerja seusai tanggung jawab masing-masing

Idealnya gitu Pada kenyataannya akan ada beberapa jenis anggota :

  • Suka memimpin dan woro-woro.
  • Tipe yang pokoknya kerja (praktisi)
  • Yang hebat di teori (konseptor/penggodok ide/kritisi)
  • Penghibur dan penggembira (ikut aja deh apa kata yang lain, aku bantu dimana?)
  • Yang nggak ngapa-ngapain (aku kan sibuk atau kan semua udah kerja).

4 kepribadian

4 tipe kepribadian yang sederhana dan mudah dipahami, untuk panduan umum saja dalam kerja kelompok, karena sebetulnya karakter manusia tidak sesederhana itu

Semua tipe itu tidak mutlak, karena kadang ada padu padan.

Saranku dari semua kepribadian dan tipe, bila sudah bisa mendeteksi siapa yang bisa bikin semangat dan mau bekerja, kita pepetin saja dia terus. Karena akan jadi perpaduan energi yang sangat baik untuk menyelesaikan tugas.

Dinamika Ibu di rumah (IRT), Ibu Bekerja, dan Ibu Bekerja di Rumah

Pertama kali dibentuk kelompok maka yang harus dilakukan pertama kali adalah kenal-kenalan. Mulai mendeteksi latar belakang member. Ada yang IRT, ibu bekerja, dan ibu bekerja di rumah.

Dari pengalamanku selama ini ibu bekerja biasanya lebih sulit mendapat fleksibilitas waktu, paling hanya bisa weekeend. Bukan berarti ibu IRT waktu lebih luwes, ada juga yang sibuk dengan hal-hal rutin mereka seperti pengajian, antar anak les, dsb. Jadi memang tergantung orangnya juga. Kalau ibu bekerja di rumah fleksibilitas waktu ada diantara keduanya. Yang terjadi biasanya para ibu IRT ini harus memback up beberapa bagian milik para ibu bekerja, misal pertemuan di lapangan, membuat laporan, dsb.

Seringkali para ibu IRT suatu waktu kebagian satu kelompok dengan ibu bekerja semua, ia harus memperbesar toleransinya, bahkan menyiapkan plan B, atau jangan kaget bila suatu saat dia harus handel banyak hal dalam kerja kelompok karena kebanjiran delegasi tugas. Bila beruntung, dapat ibu bekerja yang pengertian dan mau membantu sedikit-sedikit. Yang ideal itu perbandingan IRT dan ibu bekerja adalah 3 : 2 atau minimal 2 : 2.

download

Biasanya ibu bekerja yang kutemui banyak yang suka lupa dengan deadline, karena itu bila anggota kelompok anda ibu bekerja, saranku jauh hari harus rajin colek-colek ngingetin tugas.

Tapi enaknya selama ini bekerja sama dengan ibu bekerja (atau ibu bekerja di rumah) itu mereka lebih nggak baperan, karena mungkin hal semacam ini tidak menjadi seluruh fokus mereka. Jadi soal stabilitas emosi kelompok OK lah.

Pernah ada kejadian kelompok dominasi IRT, awal perjalanan santai dan ceria, tapi jelang deadline akhirnya kebingungan, panik merumuskan masalah, diskusi apa saja sampai bawa-bawa perasaan. Membuat emosi di kelompok jadi sangat tidak stabil. Lalu ngambek total, mogok di jalan. Akhirnya tugas yang ada terancam gagal. Peduli amat anak kumpulin tugas atau tidak.

20894e132373cecc0931bb2a44567269.jpg

Kalau anda ketemu kasus yang begini aku kasih saran jangan dilayanin panjang, bisa habis waktu di drama dan ngomongin soal perasaan. Ini soal sekolahan anak, bukan tugas anda menyembuhkan masalah kejiwaan orang lain. Intinya mereka tidak mau bekerja saja titik. Hal-hal lain tidak relevan. Tetaplah logis, karena waktu berjalan dan deadline akan mendekat. Lebih baik cari bantuan di luar, rekrut member baru lain atau….yah kerjakan sendiri.

Latar Belakang Pendidikan, Bakat, dan Intelektualitas

Kemudian perlu melihat latar belakang pendidikan masing-masing (termasuk bakat dan kecerdasan). Karena ada orang tua yang level pemikirannya sudah advance banget, intermediate, dan basic di suatu bidang. Yang advance harus menyesuaikan gelombang dengan yang basic. Dan yang basic jangan sedikit-sedikit baperan. Jadikan ini kesempatan untuk belajar banyak dan naik level.

Terus terang aku suka sekali bila dalam kelompok ada yang sudah advance karena lebih kritis dan terstruktur cara bekerjanya walau memang kadang terkesan mendominasi.

Tapi aku peringatkan bila anda pemikirannya sudah level advance dan anda ada dalam kelompok, coba tetap rendah hati, mengerem sedikit dan jangan terlalu baik. Karena bisa-bisa ada yang baperan, drama, atau anda yang selalu ditugasi semua task dari konsep sampai praktek, dari A sampai B.

Semangat, Motivasi, dan Jiwa Kompetitif

Dan lepas dari segala macam atribut diatas kita kembalikan lagi kepada level motivasi masing-masing orang yang berbeda.

Kalau di perusahaan atau level kuliah dan sekolahan, paling sedikit ada motivasi kita yaitu gaji atau kelulusan. Setiap orang akan berebut menonjolkan diri dalam kelompok.

Kelompok antar ibu-ibu atau orang tua murid, motivasinya beragam, dan akan sudah bercampur dengan sejarah pribadi masing-masing. Misal ada bapak-bapak yang semangat bantuin anaknya proyek cinta alam karena dia pencinta alam, dsb. Terkadang bertemu kelompok ibu-ibu anak sekolahan motivasinya paling yah…ini semua selesai. Ya begitu aja. Karena kita sudah pernah ngerasain masa sekolah dan tidak bisa dihindari kadang ada yang tertarik ke masa lalu, bisa jadi cuek abis atau malah habis-habisan untuk menggungguli yang lain karena jiwa kompetitif membara.

Untuk kasus kompetitif diatas, berdasar pengalamanku lebih baik mereka jangan dilawan bila dominan di dalam kelompok. Lebih baik bermurah hati dan berikan panggung kepada mereka, kalau perlu siapkan mike dan mari kita santai-santai duduk di kursi penonton. Kalau mereka butuh bantuan ya bantuin. Kita jadi echo saja alias gema. Ketika mereka bilang “Yay” kita bilang “yay”. Dan semua akan lancar sampai tujuan.

relax-choleric-mom

Lain ceritanya kalau dalam satu kelompok memang motivasinya nggak ada. Anggotanya santai semua dan tidak ada yang menonjol. Akhirnya terancam nggak tercapai. Saat itu terjadi mau nggak mau kita harus bangkit dan menunjukkan taring. Kalau nggak perlu banget ya nggak usah. Karena yang namanya jadi pemimpin kelompok ibu-ibu di sekolah itu gampang-gampang susah. Sudah nggak dibayar, sukarela, kadang ada yang tidak puas, komplain di depan dan belakang. Makanya toleransiku pada para pemimpin itu lumayan besar, selama mereka masih bekerja.

Kesimpulannya…

Paling enak jadi penggembira, kecuali lagi kepepet. Lakukan hanya bila tidak ada orang lain lagi yang melakukannya dan jadikan alasannya hanya itu. Biar bekerjanya jauh lebih gembira juga dan ikhlas. Hahaha. Hal lain, bila kita jadi penggembira, bagusnya kita jadi lebih fokus ke anak yang pastinya juga bikin tugas. Yang namanya anak kan masih bisa dibentuk. Bayangkan bila kita malah jadi berubah fokus ke orang dewasa, yang seringkali punya banyak masalah di rumah dan sejarah masa lalu, yang kita tidak tahu (dan sebaiknya tidak perlu tahu! Eh. Kecuali anda terapisnya so pasti dibayar).

fun

Pada akhirnya yang bagus dari kerja kelompok kita jadi tahu karakter dan kualitas seseorang dan diri sendiri. Mereka yang awalnya kita anggap tidak asyik ternyata punya mentalitas hebat di saat-saat deadline, lalu ada mereka yang tampaknya hebat, bijak, dan berkharisma tapi jelang deadline ternyata pilih menghilang (!). T_T. Mereka yang nggak bisa bantu banyak tapi bisa membuat aura jadi gembira bersemangat.

Semua hasil akhir bisa mendekatkan orang tua yang awalnya jauh dan menjauhkan yang dekat. Sama seperti semua kasus kerja kelompok di dunia luar. Yang berbeda dan perlu aku camkan dalam sebuah tugas kelompok orang tua anak-anak, adalah bagaimana kita tetap kompak melupakan ego, memproritaskan akhir tugas pada pemikiran, pendapat, dan perasaan semua anak-anak.

Sebab ada waktunya seorang dewasa harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.

Apakah anda punya pengalaman kerja kelompok dengan ibu-ibu di sekolah? Bagaimana dinamikanya?

Gambar : linkedn.com,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s