Tips Menghadapi Kerja Kelompok Di Sekolah

kerjakelompok

Tema sekolahan lagi?Ah ini bukan kejar kata kunci ya kebetulan saja ide-ide menulisnya sedang banyak seputar itu.

Sering terjadi sekolah memberikan tugas pada sekelompok anak dan orang tuanya. Kelihatannya mudah, namun dibalik itu sering terjadi dinamika dalam tim para orang tua dan anak. Bila anaknya masih sangat kecil, tentu saja fokus kerjasama lebih pada orang tuanya.

Tidak jarang pasca selesai tugas kelompok, beberapa orang tua jadi semakin kompak, atau…malah sebaliknya. Kalau yang terakhir kan nggak enak, ya. Apalagi bakal ketemu setiap ada acara sekolahan. Bagaimana caranya agar survive dalam melaksanakan tugas kelompok anak-orang tua?

Ini share tipsku hasil observasi dari berbagai kasus. Catatan : ini pengalaman di Indonesia, dalam kultur Indonesia, jadi tidak bisa disama ratakan dengan di negeri lain mungkin, ya?

hapy

1.Kenali Diri Sendiri (dan Anak)

Ini poin penting pertama kali coba kenali diri sendiri. Contoh, kebetulan aku tahu bahwa karakterku dan anakku adalah tipe self driven person (bukan sopir yah haha). Alias bisa memotivasi diri dan punya kecenderungan disiplin.

Nah, kalau kerja kelompok sekolah kan bukan masalah pekerjaan. Kesalip dikit nggak ada perusahaan yang ambruk. Ya, bukan berarti juga kita bisa santai tanpa melihat waktu. Intinya, aku harus pandai mengerem, menempatkan diri di tengah-tengahlah.

Selama ini berjalan baik dan lancar, tapi pernah kejeblos juga sih, kadang rasanya jadi jatuh sebel banget hahaha. Cuma akhirnya aku pikir, ya, udah, banyak maklum dan maafin ajalah. Yang penting jadikan peristiwa itu pelajaran, agar bisa preventif…

mom

2. Pahami dinamika Ibu di rumah, Ibu Bekerja, dan Ibu Bekerja di Rumah

Warning. Ini tidak bermaksud mengkotak-kotakkan dan bikin stereotype, ya. Karena semua manusia berbeda. Ini hanya berdasarkan pengalaman saja, agar segala hal yang terjadi kita bisa memahami latar belakangnya dan melakukan tindak pencegahan.

Pertama kali terbentuk sebuah kelompok maka yang pertama kali adalah kenal-kenalan. Ada yang ibu di rumah, ibu bekerja, dan ibu bekerja di rumah.

Dari pengalamanku selama ini ibu bekerja biasanya lebih sulit mendapat fleksibilitas waktu, paling-paling saat weekeend. Bukan berarti ibu di rumah waktunya lebih luwes, ada juga yang sibuk dengan hal-hal rutin mereka seperti pengajian, antar anak les, dsb. Jadi memang tergantung orangnya juga. Kalau ibu bekerja di rumah fleksibilitas waktu ada diantara keduanya.

Selama ini yang aku alami, para ibu di rumah memback up beberapa bagian milik para ibu bekerja, misal pertemuan di lapangan, membuat laporan, dsb.

Apalagi bila satu kelompok ibu bekerja semua, ibu di rumah (bekerja di rumah) harus memperbesar toleransinya, bahkan menyiapkan plan B. Tidak perlu kaget bila suatu saat dia harus handel banyak hal dalam kerja kelompok karena kebanjiran delegasi tugas. Tapi tidak semua demikian. Aku pernah juga beruntung, dapat kelompok ibu bekerja yang pengertian dan siap membantu lebih banyak.

Jadi menurutku, yang ideal dalam satu kelompok itu perbandingan ibu di rumah dan ibu bekerja (di rumah) adalah 3 : 2 atau minimal 2 : 2. (sampai bikin rumus hahaha).

download

Ibu bekerja karena kesibukan yang banyak, pengalamanku, kadang jadi suka lupa dengan deadline, karena itu bila anggota kelompok anda ibu bekerja, saranku jauh hari harus rajin colek-colek dan ngingetin tugas.

Sisi positif ibu bekerja (atau ibu bekerja di rumah) mereka itu punya banyak fokus, jadi nggak mudah lari ke perasaan, main di logika. Biasanya, sih, stabilitas emosi kelompok OK

Contoh kasus dengan sekelompok ibu di rumah : di awal perjalanan santai dan ceria, tapi jelang deadline yang disepakati, laporan individu belum dikerjakan, kebingungan, diskusi apa saja di bawa-bawa ke perasaan. Akhirnya terjadi ngambek-isasi, peduli amat mau mengumpulkan atau tidak! Kasus lain, terlalu banyak tema di harga diri, jadi apapun yang di kerjakan, selalu dianggap bertujuan menyinggung perasaannya. Belum kalau sudah mulai main kubu-kubuan dan kode-kodean.

20894e132373cecc0931bb2a44567269.jpg

Menghadapi kasus-kasus drama yang seperti itu anda pasti pusing kan? Itu sering terjadi pada orang dewasa, lho. Makanya bila anda jadi Ketua Kelompok, harus apa, ya…punya toleransi yang guedee banget. Bagaimana cara menghadapi masalah diatas? Caranya yaitu…

3. Tetapkan Prioritas, Deadline, dan Deteksi Dini Mereka Yang Potensial

Inga..inga…Apa tujuan tugas ini? Kalau memang ide-ide dan kegiatan masih sejalan, tentu kita perlu lebih fleksibel. Tapi bila bertentangan dengan tujuan, contohnya seperti jadi belok kemana-mana atau mengajarkan anak untuk memanipulasi data, ya nggak baik kan ya. Selalu pikirkan dampaknya kepada anak-anak karena ini masalah pendidikan dan tugas bersama.

Walau awalnya santai jangan pernah bimbang untuk mendorong semua orang menetapkan deadline.

Apapun latar belakang semua orang, mau ibu di rumah, ibu bekerja, atau ibu bekerja di rumah, kita harus jeli mendeteksi siapa yang pada dasarnya mau bekerja dan siapa yang tidak. Dengan asumsi kita juga masuk kategori pertama, dari awal pepetttt teruuus mereka yang rajin dan bersemangat.

Bila jelang deadline mulai ada “drama” (percayalah akan selalu ada) setidaknya sebagian pekerjaan masih bisa tertolong oleh yang mau bantu.

Jika ternyata nggak ada yang aktif, bisa minta bantuan di luar (outsourcing- kalau dibolehin), coba rekrut member baru lain atau….yah kerjakan sendiri (ini paling apes nya). Hahaha.

Ada tips lain, sih, bila ternyata banyak orang tua yang “terlalu sibuk” hingga datang saat kumpul untuk mengerjakan tugas saja sulit : Minta-Anak-Mereka Yang-Hadir. Biasanya,sih kalau diminta begini orang tuanya akhirnya ikutan datang juga nganterin hihihihi.

basic

4. Manfaatkan Latar Belakang Pendidikan, Bakat, dan Intelektualitas

Penting untuk melihat latar belakang pendidikan masing-masing (termasuk bakat dan kecerdasan). Karena ada orang tua yang level pemikirannya sudah advance banget, intermediate, dan basic di suatu bidang. Yang advance harus menyesuaikan gelombang dengan yang basic. Dan yang basic jangan sedikit-sedikit baperan. Jadikan ini kesempatan untuk belajar banyak.

Terus terang aku suka sekali bila dalam kelompok ada yang sudah advance karena lebih kritis dan terstruktur cara bekerjanya walau memang kadang terkesan mendominasi.

Tapi aku peringatkan bila anda pemikirannya sudah level advance dan anda ada dalam kelompok, coba tetap rendah hati, mengerem sedikit dan jangan terlalu baik. Karena bisa-bisa ada konflik perasaan, atau anda yang selalu ditugasi semua task dari konsep sampai praktek, dari A sampai B.

tanding

5. Pahami Perbedaan Semangat, Motivasi, dan Jiwa Kompetitif

Kalau di perusahaan atau level kuliah dan sekolahan, paling sedikit ada motivasi kita yaitu gaji atau kelulusan. Setiap orang akan berebut menonjolkan diri dalam kelompok.

Kelompok antar ibu-ibu atau orang tua murid, motivasinya beragam, dan akan sudah bercampur dengan sejarah pribadi masing-masing. Misal, ada bapak-bapak yang semangat bantuin anaknya proyek cinta alam karena dia pencinta alam, dsb. Terkadang bertemu kelompok ibu-ibu yang motivasinya paling yah…ini semua selesai. Ya begitu aja. Karena kita sudah pernah ngerasain masa sekolah dan tidak bisa dihindari kadang ada yang tertarik ke masa lalu, bisa jadi cuek abis atau malah habis-habisan untuk menggungguli yang lain karena jiwa kompetitif membara.

Untuk kasus kompetitif diatas, berdasar pengalamanku, bila mereka dominan dalam kelompok lebih baik kita bermurah hati memberikan panggung kepada mereka. Jika mereka butuh bantuan ya bantuin. Kita jadi echo saja alias gema. Ketika mereka bilang “Yay” kita bilang “yay”. Dan semua akan lancar sampai tujuan.

6. Waspadai Bahaya Kecemplung Ingin Ikutan Eksis

Tapi tapi…kan…saya juga ingin eksis dan membuktikan diri! Masa semua lampu sorot ada pada mereka?

Oooh. Silahkan, boleh banget membuktikan bahwa diri anda juga berkemampuan. Tapi dimana idealnya tempat untuk membuktikan diri itu ? Dan apakah harus di sekolah anak?

Tentu saja….

Lain ceritanya kalau dalam satu kelompok memang motivasinya nggak ada. Anggotanya santai semua dan tidak ada yang menonjol. Akhirnya target deadline tugas terancam nggak tercapai. Saat itu terjadi mau nggak mau harus bangkit dan menunjukkan taring. Kalau nggak perlu banget, aku pikir nggak usah, ya.

=========

Karena yang namanya jadi pemimpin kelompok ibu-ibu di sekolah itu gampang-gampang susah. Sudah nggak dibayar, sukarela, kadang ada yang tidak puas, komplain di depan dan belakang. Makanya toleransiku pada para pemimpin itu lumayan besar, selama mereka masih bekerja. Karena nggak jarang kejadian orang yang dianggap pemimpin tapi jelang detik terakhir pilih menghilang! T_T

Kesimpulannya…

Paling enak jadi penggembira, kecuali lagi kepepet. Eh, salah, ya? Hahaha

Bila harus jadi Ketua atau motor dalam kelompok, lakukan hanya bila tidak ada orang lain lagi yang melakukannya, demi kepentingan anak-anak, dan jadikan alasannya hanya itu. Biar bekerjanya jauh lebih gembira juga dan ikhlas. Hahaha. Menjadi penggembira bukan rugi. Malah bagusnya kita jadi lebih fokus ke anak (yang pastinya juga bikin tugas).

Anak kan masih bisa dibentuk. Bayangkan bila kita malah jadi berubah fokus ke orang dewasa. Harus mengerahkan energi dan waktu untuk semua hal-hal itu. Anda punya nggak?

Eh. Kecuali anda dibayar, ya. Wkwkwk…

fun

Banyak sisi positif dari kerja kelompok. Seperti belajar mengenali kualitas dan karakter diri. Semua hasil akhir bisa mendekatkan orang tua yang awalnya jauh dan menjauhkan yang dekat. Sama seperti semua kasus kerja kelompok di dunia luar. Yang berbeda dan perlu aku camkan dalam sebuah tugas kelompok orang tua anak-anak, adalah bagaimana kita tetap kompak melupakan ego, memproritaskan akhir tugas pada pemikiran, pendapat, dan perasaan semua anak-anak.

Sebab ada waktunya seorang dewasa harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.

Apakah anda punya pengalaman kerja kelompok? Bagaimana dinamikanya?

Images : pixabay.com, linkedn.com, CNN.com, newscientist.com, coinnetwork.com, edtimes.in

Iklan

4 respons untuk ‘Tips Menghadapi Kerja Kelompok Di Sekolah

  1. Mugniar berkata:

    Banyak yang bisa dipelajari dalam hidup ini, termasuk dalam kerja kelompok anak – orang tua di sekolah, ya 😀

    Saya yakin sebenarnya masih bisa bikin tulisan lagi nih. 😀

    Kalo kita bisa kenali karakter diri kita dan anak, nah yang suka bikin sebel kalo orang lain tidak demikian tapi yaah, karena kita yang bisa ngenalin jadi kita yang harap maklum, ya hihihi.

    Nice post, Terima kasih sudah berbagi 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. jessmite berkata:

    Punya pengalaman kerja kelompok di sekolah dan di kampus si pernah tapi dari sekolah anak-anak setelah menjadi orang tua kok belum pernah, ya. Emang seperti apa mbak contoh tugas kelompok di sekolah anak yang melibatkan orang tua dan anak? Mengatur rekreasi anak-anak sekelas keluar?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s