Menikah Muda

Kayaknya lagi ngetrend ya nulis opini nikah muda. Ada yang pro dan kontra. Aku juga punya sedikit pandangan, tentu tidak bisa memuaskan pihak yang nggak setuju, tapi aku coba agar anda memahami kenapa-kenapanya.

Aku setuju nikah muda (sesuai syarat kesehatan bereproduksi untuk perempuan) bila seorang anak sudah “siap”, tapi bukan disiap-siapin.

Disiap-siapin itu maksudnya belum cukup dikasih berbagai gemblengan yang harusnya sudah dipunyai orang yang siap nikah.

Karena ibarat pertempuran (halah) kita bakal ngirim prajurit ke medan laga tapi dia tahu cara nembak, strategi, dan bertahan.

Nanti juga belajar sendiri..

Baik, sekarang aku ingin bertanya pada orang tua yang semangat menikahkan muda anaknya dengan prinsip tersebut :

Kalau anak anda terganggu psikisnya atau kenapa-kenapa, apakah sebagai orang tua nanti mau ikut bertanggung jawab?

Kalau mau bertanggung jawab, silahkan menikah muda. Tapi, maaf, kebanyakan kasus yang aku tahu dan  dengar…kebanyakan orang tua setelah anaknya nikah, merasa lega, dan suka pada lepas tangan.

Apalagi kalau anaknya perempuan. Terutama di daerah-daerah yang lekat dengan tradisi nikah mudanya ya.

Yang kasihan bila perempuannya pernikahannya bermasalah. Kalau mau cerai, orang tuanya nggak mau menerima karena malu. Jadi akhirnya banyak yang halu dan bertahan dengan pernikahan yang sudah babak belur. Apalagi bila dia pendidikan rendah dan secara ekonomi tergantung pada suami yang bermasalah.

Bila cerai banyak kasus bapak yang tidak mau menafkahi anaknya lagi sehingga ibunya yang pontang-panting cari uang.

Berbeda dengan perempuan yang pendidikannya sudah lumayan dan punya penghasilan, misal guru-guru pegawai tetap, lebih berani mengajukan perceraian. Umumnya mereka yang menikah dini, belum memiliki pendidikan yang cukup untuk bersaing dengan mereka yang berpendidikan lanjut.

Jadi pernikahan itu bukan sekedar trend, kepingin, atau ikut-ikutan. Pernikahan itu sebuah fase yang harus dihadapi dengan serius sama seriusnya seperti kita belajar untuk masuk universitas..

Banyak yang bilang, kalau muslim kan sudah menikahkan anaknya usia sekian-sekian. Dalam rangka menghindari zinah. Sekarang muncul pertanyaan :

Sebelum usia aqil baliq anak sudah paham cara bersuci yang benar?

Anak laki-lakinya sudah sanggup jadi menjadi kepala rumah tangga, dalam artian mampu bertanggung jawab menafkahi istri lahir batin?

Pelajaran bersuci itu bisa sekian ratus halaman sendiri termasuk membedakan mani, wadi, dsb. Karena menyinggung itu pasti ujung-ujung akan ada penjelasan mengenai hubungan suami istri juga.

Urutan pelajaran itu semua tidak bisa di gabruk dalam semalam ketika si kecil tiba-tiba aqil baliq. Sebagai informasi sekarang anak aqil baliq makin dini. Ada yang usia 9 tahun.

Masalahnya selama ini kita lebih banyak belajar untuk masuk universitasnya kan ketimbang belajar memasuki masa pernikahan. Coba belajar akademik dimulai dari usia 7 tahun kira-kira berapa tahun tuh, ya? Belajar memasuki pernikahan paling disambi-sambi kadang malah SKS (sistem kebut semalam).

Siapa yang dulu sudah diajarkan tentang urutan pelajaran pernikahan sejak usia 7 tahun? No, bukan anak kecil diajarin macem-macem ya. Tapi anak kecil udah diajarin tentang basic pendidikan seks seperti laki-laki dan perempuan, tidur harus dipisah, dsb.

Aku tahu bahwa Islam pada dasarnya memang tidak mengenal fase remaja. Kata remaja itu baru ada di jaman modern yaitu remaja dini (usia 12-14 tahun), pertengahan usia (15-17 tahun) dan akhir (18-21 tahun). Masa transisi dari anak-anak ke dewasa. Banyak yang mengidentikkan masa ini dengan masa penuh turbulensi karena hormon dsb.

Tapi ada juga sih ilmuwan barat yang mengkonter pendapat ini. Ia mengamati fase remaja pada suku-suku tradisional yang mata pencahariannya berburu, bercocok tanam, dsb. Jadi disana yang terlihat anak-anak langsung beralih ke masa dewasa. Dan memang ada ritual tertentu untuk itu. Itu terjadi tanpa guncangan berarti yang biasa dikhawatirkan pada masa remaja.

Jadi wajar bila ada yang berpendapat bahwa masa remaja itu diciptakan dan dikondisikan. Bila anak sudah dikondisikan bahwa ia akan menjadi dewasa dengan didikan dan lingkungan tepat maka semua akan dilalui dengan sewajarnya dan tenang.

Untuk lebih lengkapnya maaf nanti coba pelajari dan cari sendiri ya asal muasal ada penemuan fase remaja, tar kepanjangan hehehe…

Tapi kebayang kan kalau laki-lakinya sendiri masih belum bisa menafkahi istri (itu sebetulnya sudah termasuk menyiapkan tempat tinggal lho ya).

Pendidikan tentang laki-laki dan perempuan, pengajaran dari usia dini yang kadang kita suka abai, ya. Padahal sangat krusial. Hal basic tentang makhluk hidup.

Di tambah jaman modern ini juga ada banyak tantangan seperti masalah gender, gender fluid, dsb. Sebagai orang tua aku terus terang malah merasa semua itu tambah bikin pusing! Mumet…

Mengajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan aja kurikulumnya itu bisa segabruk nah ini ada lagi kasus lain. Bagaimana sampai ke urusan reproduksi dan pernikahan? Tanpa menunjuk kepada siapapun aku pun kadang bertanya-tanya. Kenapa sih manusia itu ya suka banget bikin kompleks sesuatu yang seharusnya sangat sederhana?—-> ini opini pribadi saja ya dari orang tua yang mulai pusing.

Dan aku berkesimpulan, ya sutralah urusan rumah tangga masing-masing. Kalau mau pusing silahkan, temukan formulanya sendiri. Kalau aku, maaf, beneran nggak sanggup tambah cenut-cenut…wkwkwk…

Kembali lagi ke pertanyaan serupa, bila anaknya kenapa-napa, mau tanggung jawab, nggak?

Setelah selesai sesi ilmiah anak harusnya diajarkan juga tentang cara-cara survive. Terutama dalam budaya Indonesia yang maaf, bila kamu nikahin seseorang kamu juga masuk ke keluarga besarnya! Bagaimana cara berhadapan dengan berbagai kemungkinan konflik. Berikutnya, belajar mengatur keuangan keluarga.

Ada beberapa orang tua yang akhirnya terburu-buru memasukkan anaknya ke pelatihan persiapan pernikahan.

Hasilnya dua.

Anaknya tetap menikah.

Dan anaknya nggak jadi nikah.

Lha. Kenapa batal? Mundur teratur karena ternyata nggak siap dengan berbagai kewajiban yang bukan Prince charming dan Cinderella. Padahal undangan udah nyebar.

Orang tua boleh sedih, elus dada tapi syukuri saja bila memang keputusannya begitu. Tapi lebih baik daripada sudah terlanjur kan? Kembali pertanyaan awal, kalau anaknya bermasalah, mau tanggung jawab nggak?

Jadi berumah tangga itu ibarat naik kapal, tujuannya kemana, gimana kondisi angin dan cuaca, kondisi lautan, lalu cek-cek juga kondisi kapal. Gimana kapal mau jalan kalau nggak punya tujuan atau cara menuju tujuan? Kayak Columbus tuh, mau ke India ketemunya Amerika.

Dalam pernikahan kita perlu bahas latar belakang calon (usia, agama, suku, sifat, pendidikan blablabla), persamaannya dan perbedaannya dengan kita kemudian apa kira-kira yang bisa bikin kita berantem atau konflik. Bagaimana beda komunikasi perempuan dan laki-laki. Apa ciri-cirinya kalau kita lagi low bat. Apa yang memicu emosi kita, gaya komunikasi dsb.

Itu belum selesai, masih ada analisa kemungkinan kita konflik juga dengan : mertua (laki perempuan), ipar (laki perempuan). Hahaha.

Bila beres jangan girang dulu ini baru pemanasan. Nah, bagian yang sering bikin pasangan baru mau menikah pada bubar adalah : pembahasan keuangan.

Tabu bahas keuangan sebelum nikah? Rejeki ada yang mengatur?

Ya silahkan saja, tapi lelah sekali secara psikis, hidup tanpa perencanaan dan persiapan. Selalu menghadapi turbulensi. Gapapa sih kalau memang suka badai topan…monggo berlayar tanpa tahu keadaan angin, ombak, bahan bakar, layar, sekoci dan dayung..Jangan teriak-teriak panik minta sekoci ketika ketemu Kraken ya.

Nah soal bahasan keuangan ini kalau menurut Islam sih laki-laki memang harus menafkahi istri. Hitung-hitung kebutuhan istri berapa. Sanggup nggak kasih segini dalam sebulan? Belum pembiayaan rumah tangga seperti listrik air, dsb. Berapa penghasilan per bulan calon suami? Apa rencana tahun pertama? Sanggup bertahan nggak?

Ini adalah bagian paling mengasyikkan, dimana para orang tua yang pada mau heboh bikin acara wedding dan prewedding langsung berubah jadi sederhana blas. Pemangkasan biaya-biaya tidak perlu!

Karena calon pengantinnya yang pada muda-muda nyadar dan protes, ma, pa, untuk survive tahun pertama kita butuh biaya segini. Dengan rincian detail. Pucat pucat deh. Akhirnya sepakatan dana dipakai buat pasangan itu survive dulu tahun pertama.

Ini aku bahas sekilas saja ya tentang bagaimana gambaran panjang persiapan menikah.

Nggak sederhana. Dan proses persiapannya sangat panjang.

Apakah aku menentang menikah muda? Nggak. Tapi aku ingin mengajak semua orang bertanya-tanya apakah :

Ketika kita akan menikahkan anak-anak kita demikian muda, jauh sebelum itu kita sudah menyiapkan dan membekali mereka dengan ilmu yang cukup?

Ketika kita berpikir hanya dengan niat, usahanya untuk merealisasikan itu juga sudah ada?

Ketika selesai menikahkan anak saat usia muda, kita mau ikut bertanggung jawab dengan akibatnya?

Yuk. Mari sama-sama berdoa untuk anak-anak kita. Dan berusaha.

Bagaimana pendapat anda tentang semua itu?

Images : askideas.com, kisspng.com, time.com, weddingstractest.org, nidscores.com, dreamstime.com.

Iklan

2 respons untuk ‘Menikah Muda

  1. mayang koto berkata:

    nah ini mbak di facebook ig pada gencar2nya kampanye nikah ini
    mau nyorotin masalah keuangan
    kira2 kampanyenya gini. gak usah takut nikah muda, nikah itu pembuka pintu rejeki
    manis banget keliatannya, tapi gak sesederhana itu prakteknya. ujung2nya cerai juga krn masalah ekonomi ^^’
    nikah itu berat, banyak yg harus dipersiapkan terutama mental
    kalo memang belum siap ya gak usah dipaksa anaknya
    toh yg ngejalanin si anak. ntar kalo cerai gimana, apa orangtuanya mau tanggung jawab?

    Disukai oleh 1 orang

  2. Sea berkata:

    iya miris, sebelum kampanye nikah muda seharusnya ada kampanye pendahulu seperti ayo mempersiapkan pernikahan, setelah itu terserah mau nikah muda atau kapan siap…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s