Cerita Tentang Gap Generasi Antar Orang Tua

survivor

Cukup lama hiatus. Lumayan juga. Banyak momen yang terlewat.  Sayang, ah. Ok hari ini mau cerita-cerita saja liku-liku jadi ortu murid.

Bila kamu punya lebih dari satu anak, apalagi jika perbedaan usianya  cukup signifikan, kamu akan ngalamin bahwa ada “gap” generasi. Itu terjadi bukan pada anaknya saja tapi pada orang tuanya juga.

Jadi di sekumpulan ortu murid senior saat ini rata-rata dari generasi  Baby Boomers atau (kecuali ada yang nikah muda dari gen dibawahnya). Kira-kira ini patokannya berdasarkan kelahiran :

1719766884Generation-GuideGambar : Fourhooks.com

Orang tua murid dari Gen X dan Baby Boomers

Ciri-ciri ortu Gen X  itu yang aku saksikan, mereka rata-rata orangnya lebih kalem cukup tenang menghadapi stress (mungkin karena udah banyak pengalaman), kompeten, sangat apa ya namanya….seimbang? Nggak tergesa-gesa tapi mantap.

GenX.gif

Dalam segi achievement, rata-rata gen X sudah stabil, alias sudah terpenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Mapan serta tahu apa-apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengorganisirnya. Mereka nggak terlalu fokus untuk tampil atau eksis. Karena udah kebanyakan yang diurusin, apalagi bila anaknya lebih dari satu. Para pengurus yang dulunya terkenal aktif dari Gen ini mulai banyak yang resign dengan alasan mau fokus UN.

Daan bila ada pemilihan semacam ketua kelasnya orang tua murid, tiba-tiba banyak yang absen karena ada acara. LOL. Karena tahu kalau datang resiko ditunjuk jadi penanggung jawab ini itu cukup gede. Strategi ini kadang jadi bumerang juga, sih.

Sebab makin kelas ke atas guru-guru suka nggak mau tahu, yang in absentia pun bisa besoknya sudah di kukuhkan jadi ketua kelas, atas kesepakatan semua orang yang HADIR. Jadi seperti ada sekongkolan diantara para ortu murid sudah yang bela-belain datang, tapi tidak mau ditunjuk. Nah, kalau sudah gitu kan sudah ga bisa apa-apa. Mau menyanggah, ya salah sendiri kenapa dianya nggak hadir di tempat untuk membela diri sendiri wkwkwk…

Aku cukup beruntung karena kebanyakan ketua kelas ortu murid itu rata-rata aktif dan bertanggung jawab. Bukan karena generasinya, sih itu . Lebih ke orangnya masing-masing.

Orang tua murid dari Gen Y (milennials) dan Gen Z

Usia  jauh lebih muda, so lebih energik. Seperti mesin yang masih berapi-api butuh banyak bahan bakar, serta “penyaluran” energi. Bagi mereka yang bekerja, tentu penyalurannya bisa lebih jelas dihabiskan di kantor atau tempat bekerja. Kalau pun nggak kerja, mereka yang memiliki lingkup pergaulan luas bisa menyalurkannya di aktivitas-aktivitas di luar, entah itu pengajian, kegiatan sosial, dsb. Bahkan ada yang terjun  jadi relawan atau timses politik.

Positiflah, menurutku, selama anaknya yang di sekolah juga kepegang. Karena sering juga ada kasus yang bablas, jadi saat anaknya bermasalah, orang tuanya harus dicari-cari dulu (ini pengingat buatku juga wkwkwk)

Bagaimana dengan orang tua yang tidak punya aktivitas seperti di atas? Nah, ini dia..

Biasanya mereka penyaluran energinya…..di sekolah. Setelah jemput anak, biasanya mulai ngobrol-ngobrol, rumpi-rumpi ala emak-emak, janjian bikin play date. Kalau mereka  sudah akrab dari anak Kelompok Bermain malah sampai genk-genk an lho.

Korea.gif

Di grup WA orang tua murid, mereka sering asyik berbalas antar orang tua anak seangkatan, kadang tanpa merasa perlu berkenalan dengan yang lain. Seperti dunia milik angkatan kita, angkatan senior (anak yang paling duluan masuk sekolah ini) wkwkwk. Mungkin perlu bikin kaos juga seperti di jaman SMU, tulisannya proud parents KB Anu, angkatan tahun 20XX.

Masalahnya ada orang tua murid dari generasi termuda ini yang mantengin di sekolah dari pagi sampai anaknya pulang! Beneran nongkrong bersama dengan para baby sitter dan nenek-nenek yang jemput juga.

Tentu saja sekolah-sekolah yang ideal, biasanya “meniadakan” tempat kongkow-kongkow yang jadi surga penunggu ortu murid dan sejenisnya. Termasuk menutup akses untuk parkir. Jadi para ortu dkk, itu mau nggak mau terpaksa angkat pantat setelah mengantar anaknya. Lha, iyalah, masa bengong di jalan raya, tar disangka mau jualan cendol…

Aku ingat, seorang kenalan guru di sebuah sekolah mentereng, pernah bercerita sebuah rahasia. Bagaimana sebetulnya yang namanya pembentukan ketua orang tua murid dan genknya sebetulnya adalah salah satu “cara” agar orang tua murid energik yang kebanyakan waktu luang tidak “over-criticized” soal kegiatan-kegiatan di sekolah (selain untuk sarana komunikasi ortu dan guru, tentu saja). Jadi dengan pembentukan grup orang tua murid, energi kita ini sebetulnya sedang “disalurkan” wkwkwk.. Ya nggak apa-apa asik-asik aja. Asal…

…tidak terjadi benturan gap generasi (kebanyakan nggak nyadar, sih).

Kasus-kasus Benturan Gap Generasi

Ini tidak menjustifikasi bahwa sesuatu generasi orang tua umumnya adalah begini atau begitu. Ini murni share pengalamanku saja.

Jadi ortu milennials ini yang kuperhatikan beberapa sangat tech-mided. Didukung oleh kelebihan energi, kebanyakan waktu luang dan beberapa diantara mereka punya….kebutuhan untuk eksis (tampil).

Makanya suka sekali mempelopori gebrakan-gebrakan baru. Seperti penyimpanan arsip penting di google drive supaya ga menuh-menuhin WA. Bila ada event yang butuh banyak atribut, selalu memamerkan dengan bangga bagaimana mudahnya dia mendapat semua dengan belanja online.

Umumnya mereka sudah hidup berkarib-ria dengan mbah Google. Menunjukkan  bagaimana gaya serta teori-teori parenting baru. Melek informasi, istilahnya. Itu bagus, sih.

Bagi ortu gen X , yang sudah mengalami bagaimana pait manisnya praktek parenting bertahun-tahun (dengan lebih dari satu anak terutama),  sudah mencapai kesimpulan akhir bahwa parenting itu adalah : lakuin yang harus di lakuin – di segala situasi.  Sudah jenuh dengan berbagai teori-yang pada prakteknya sering nyungsep. Enough with theories.

Tapi di permukaan – tanggapan para gen X pada antusiasme Milennials-  tentu saja tetap sopan namun adem-ayem (tidak sesuai dengan harapan para gen Y yang ingin semua pada sumringah bilang wow).

Ya, semua gebrakan dan informasi terbaru itu enggak masalah sih, bagi ortu murid yang nggak gaptek (sebetulnya tidak tergantung generasi ya). Cuma bagi beberapa ortu dari generasi X  semua itu, (selain belanja  online tentu saja wkwk)…terlalu ribet. Karena mereka sudah kurang fleksibel,  terpaksa belajar lagi kan.

Hm. Buat apa ada sistem baru kalau yang lama saja sudah memuaskan? Tapi kita kan harus sopan.  Dan umumnya, para ortu gen X  ini sangat menjaga perasaan juniornya (selain mereka juga nggak punya waktu buat drama-drama tidak perlu).

drama.gif

Demikianlah, para ortu gen X  iya-iyakan saja. Yah, palingan mengeluh, nggak ngerti ini itu …bahkan sampai wassalam..ada yang mendelete semua database tanpa sengaja! Akhirnya ortu milennials, yang ketiban pulung, harus mengoreksi serta ngerjain semuanya sambil nggerundel…

Sayangnya ortu milennials yang kutemui, penginnya semua serba gampang. Serta harus cepat (kalau bisa). Melampaui tahapan bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Kalau ada masalah, pilih solusi paling praktis tanpa perjuangan-meskipun kedepannya bakal ngerepotin diri mereka sendiri.

Ya, yang namanya merubah sistem kan perlu tes dan penyesuaian dulu. Tidak bisa ZAP, instan. Apalagi buat ortu gen X,  yang fokusnya sudah beda. Printilan semacam itu buat mereka adalah sesuatu yang nggak penting banget untuk dipermasalahkan. Nggak akan membuat anak-anak mereka lulus UN juga.

Sebagai contoh, saat ada event, seperti kelulusan atau perform. Para ortu gen X  rata-rata kepingin yang sederhana-sederhana saja. Nggak pakai bunga-bunga yang berbuntut pada biaya. Kepingin praktis juga karena hidupnya udah rempong. Terutama karena sudah cukup kenyang, kan (beberapa) anak mereka yang lain sudah melampaui fase sama.

Sementara ortu milennials, sangat sumringah, karena “ini adalah pengalaman pertama”, Mereka umumnya memiliki deretan imajinasi yang indah-indah, ideal, dan…penuh detail. Para gen X biasanya kalah jumlah, jadi terpaksa ngikut,

“Yah. Saya ngikut saja…” sebuah kalimat pasrah para Gen X tanpa ekspresi di grup ortu (tapi entah gimana ekspresi mereka di balik layar wkwkwk).

why3.gif

Berhubung aku memiliki kawan di berbagai angkatan, mereka sudah punya formula masing-masing dalam menghadapi ortu-ortu energik. Sebab bila kamu naas, dalam pengalamanku, kita akan berhadapan dengan beberapa milennials yang “sulit untuk diatur” atau yang “mudah beralih tanggung jawab” (sesama milennials sendiri mengakuinya).

Yang lepas tanggung jawab masih mendinglah walau sedikiiit bikin amburadul. Tapi yang lebih bikin drama adalah mereka yang tidak mau memimpin (karena berbagai alasan atau punya baby), tapi saat dipimpin, maunya ini itu, mengusulkan banyak hal yang harusnya di lakukan, atau banyak komplain (lama-lama mirip partai oposisi lol).

Ya, karena itu, kebutuhan untuk tampilnya terlalu besar. Saat kebanyakan kepala kepingin tampil,  jadi seperti berebutan.  Sehingga ada kejadian acara yang sebetulnya bisa teroganisir rapi, hasilnya  menjadi jauh dari harapan.

Strategi yang dipakai salah satu kawanku yang licin dari gen X (di dunia nyata banyak kupraktekkan juga) menghadapi energi membludak, ya harus di “release”. Alias biarkan saja mereka “tampil” untuk mengurus semuanya. Kalau acaranya runyam, kita yang tidak ikutan tampil, bisa cuci tangan. Kalau berhasil dan mereka yang dapat pujian, ya, nggak apa-apa. Malah kebetulan banget!

Karena para gen X, jadi tau bibit-bibit yang potensial untuk tahun berikutnya di daulat jadi…..ketua kelas ortu murid wkwkwkw (ingat kan cerita di awal bagaimana para gen X semakin pengin mabur saat terjadi pemilu kelas).

Bagi Gen X, yang berpengalaman, terlalu sering mereka tampil, makin tinggi resikonya ditunjuk jadi pengurus, plus seksi rempong lainnya.

===

Kalau dipikir-pikir lucu juga sih semua dinamika diatas. Semua sedang berproses.

Dan sampai sekarang, aku masih asyik mengamati interaksi antar generasi ini. Tentunya dengan kesadaran penuh atas reaksi-reaksiku juga. Karena setiap dari kita membawa ciri khas yang bisa jatuh jadi positif, atau negatif. Semua tergantung kita.

At the end, we are grown ups.  Adults. Bukan anak KB, TK, SD, atau Sekolah Menengah lagi.  Sekolah adalah  panggung mayoritas milik anak-anak, seminimal mungkin orang tua. Jadi semua tindakan, harusnya didasarkan juga oleh rasa tanggung jawab atas kepentingan bersama. Ini yang selalu berusaha aku pegang sampai sekarang.

====

Apakah kamu punya cerita juga?

Iklan

4 respons untuk ‘Cerita Tentang Gap Generasi Antar Orang Tua

  1. Lusi berkata:

    Wah ikut senang ngeblog lagi heheheee. Salah satu yang membuatku mulai ngeblog ya karena waktu itu nggak ada kerjaan. Di sekolah anak2 dulu ada aja yang cuma titip mobil di parkiran, lalu pergi bareng2 dg salah satu mobil jalan2 sampai jam pulang anak2. Aku nggak bisa seperti itu. Selain boros, lah ngapain gitu kelayapan nggak jelas? Ada juga yang nongkrong seharian di kantin sekolah. Aku juga nggak bisa seperti itu ngobrol nggak jelas tiap hari. Sesekali sih nggak apa2. Ada juga sebagian ortu di komite yg maunya mengambil alih semua kegiatan sampai ngurusi les segala. Sepertinya campur tangan ortu baru reda setelah anak2 SMA. Bener2 tenang.

    Disukai oleh 1 orang

    • Seaマ berkata:

      Haha makasih mba Lusi. Ngeblog bagiku selain nyenengin, untuk alat share dan kenang-kenangan. Wow lama juga ya, baru reda setelah SMU. Ya, sebetulnya tempat mengalihkan energi tidak harus di sekolah, kecuali masih ada seperation anxiety…

      Suka

  2. mayang koto berkata:

    halo mbak, udah lama gak baca postingannya mbak 😀
    padahal saya sendiri juga udah hiatus lumayan lama ^^’

    mama saya tu mbak, kepilih jadi bendahara komite kelas karena banyak yg gak datang jadinya main tunjuk. Sekarang pusing sendiri ngumpulin iuran sekolah karena banyak yg gak mau bayar 😀

    karena saya belum punya anak jadi kepikiran ntar kalo anak saya sekolah sayanya bakalan kayak gimana ya 😀

    Suka

    • Seaマ berkata:

      Wah terima kasih lho sdh memperhatikan..iya ini lama ga nulis hiks…moga2 ke depan bisa longgaran.🙏

      Aduh iya itu bendahara…kl pengalaman disini sistemnya dijembrengin di grup siapa yg sdh bayar/belum. Jadi malu yg belum bayar…Haha..nggak usah terlalu banyak dipikirkan mbaa..lbh banyak dinikmati saja..😄

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s